“Hai, Sayang. Udah lama?”
Kulihat Maulin cantik banget, dengan dress pas body selutut, rambut ikal yang tergerai panjang begitu menawan. Pacarku ini emang tau banget bikin aku seneng.
“Nggak, baru setengah jam. Ke mana aja sih? Itu kenapa?” cecar Maulin dengan bibirnya yang merona sambil menunjuk noda merah di krah bajuku.
Aku mengabaikannya dengan mengalihkan pembicaraan, mengatakan bahwa hari ini dia cantik sekali, hingga wajahnya merona. Duuuh, cowok mana yang gak akan tergila ama dia, coba.
“Ya udah, yuk, berangkat. Kita ke mana?”
Kulingkarkan lenganku ke bahunya, tak ingin ada siapapun yang merebutnya. Tanpa sengaja mataku menangkap ada noda merah di ujung jariku, hanya noda cipratan, aku segera membersihkannya, sementara Maulin masih tersenyum menatapku.
“Aku lihat di katalog kemaren ada tas baru dari merek yang aku suka, Sayang. Aku pengen.”
“Beres. Kita berangkat.”
Aku membukakan pintu mobil untuk Maulin. Maulin tersenyum, manis sekali, jadi pengen rasanya meluk dia aja sepanjang hari.
Begitulah, aku selalu berusaha menuruti keinginan Maulin. Tak peduli uang yang selalu menipis setiap selesai terima gaji, yang penting bisa membuat Maulin bahagia. Meski tas branded-nya sudah memenuhi rak di kamarnya, aku tidak pernah mempermasalahkan itu.
Hari ini aku akan membelikan apapun yang Maulin minta. Aku merasa kaya. Aku tak takut kere, karena jalan selalu ada.
Senyum tak lepas dari wajahku yang kata Maulin seperti tokoh webtoon. Dengan tubuh yang sedikit berisi, Maulin yang gemulai serasa pas dalam pelukanku.
Benar saja, Maulin begitu nampak semringah setelah aku membayar tas yang diinginkannya, lalu kami makan malam hingga berlanjut menghabiskan malam di apartemennya yang bagai istana. Aku betah di sana, menikmati ranjang yang luas bersama Maulin dalam pelukan. Oh, surga itu begitu nyata.
Malam itu Maulin nampak makin cantik, bersandar di atasku dengan kepolosan yang membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
***
Pagi sudah menjelang siang, aku kembali ke kontrakanku yang sederhana. Letaknya yang agak jauh dari perkampungan membuat rumah itu aman dari lalu lalang orang. Aku tak suka keramaian, sunyi membuatku nyaman dalam bekerja.
Kubuka pintu rumah yang sudah usang. Bau tak sedap segera menyergap penciuman. Busuk.
Percaya atau tidak … aku sudah terbiasa berada di antaranya.
Kakiku menuju pintu bawah tanah, di mana bau busuk itu semakin menyengat. Untuk melanjutkan pekerjaan, tentu saja. Menyelesaikan pemisahan yang sempat tertunda.
Korban kali ini cukup berisi. Dia baru saja mendapat klaim asuransi dari kematian suaminya. Dompet yang berisi uang tunai miliknya sudah kupakai untuk membelikan tas branded Maulin, si cantik milikku. Semua kartu kredit aku bakar, tak mau beresiko ketahuan karena transaksi yang ceroboh.
Aku memasukkan potongan-potongan itu ke dalam plastik. Bukan perkara mudah memang, tapi lagi-lagi … bagiku sudah terbiasa, kemudian membawanya ke ruang sebelah, melemparkan plastik berat itu ke dalam galian tanah yang cukup dalam, bersama plastik-plastik lainnya yang sudah lebih dulu menghuninya. Aku akan menguburnya jika sudah mendapatkan apa yang kumau demi Maulin.
Sudah beres. Saatnya mencari target baru, supaya aku bisa meminang kalung cantik yang aku lihat di mall kemarin, untuk dipakai di leher Maulinku tersayang.
10.18









