Hujan menjelma jarum-jarum lembut ketika kami akhirnya meninggalkan warung. Namun payung renta yang kupinjam dari bapak tua penjaga warung agaknya terlalu kecil untuk menaungi dua tubuh. Bahu Rin basah, seolah hujan memang sengaja hanya memilih dirinya sebagai tempat singgah dan perjamuan sesama hujan.
“Seperti ini rasanya berjalan di dalam sajak,” senyummu dengan bisikan yang nyaris tenggelam diredam gema khas jutaan rintik yang enggan usai membasahi bumi
Aku menoleh padanya. Rambutnya sudah setengah kuyup, menempel di pelipis. Wajahnya menyimpan cahaya samar yang terpantul dari lampu jalan yang berkelip-kelip.
“Biasanya hujan melahirkan puisi,” sahutku. “Tapi malam ini, aku merasa justru kita yang melahirkan hujan.”
Rin tersenyum samar. “Kau dan logika anehmu.”
Langkah kami perlahan seperti tengah mengukur setiap inci dari jalan kecil, yang kini menjadi begitu sunyi buah hujan yang urung reda sejak awal debutnya menjelang senja tadi. Hanya sesekali ada motor yang melintas, melaju cepat menimbulkan cipratan. Setiap kali itu terjadi, setiap itu pula kutarik Rin lebih dekat, agar basahnya sebisa mungkin hanya jatuh ke diriku.
Rin tak menolak. Ia justru merapat, lebih dekat, memangkas jarak di antara tubuh kami hingga nyaris tak bersisa. Sesekali bahu kami saling bersentuhan, interaksi sederhana yang secara tak terduga mengundang percikan hangat yang mampu mengimbangi dingin yang mengepung keseluruhan kami.
“Kau tahu, Bay,” ucapmu setelah lama diam, “aku sering merasa hujan itu perempuan.”
“Kenapa perempuan?” Aku balik bertanya.
“Karena ia mudah menangis,” katamu lirih. “Karena ia bisa meruntuhkan apapun, pelan, tanpa suara. Sama seperti perempuan ketika mencintai.”
Aku tercekat. Kata-kata Rin menggema lebih dalam daripada yang ia maksudkan, menetes ke dadaku, membuatku basah dari dalam.
“Kalau begitu,” kataku, “mungkin aku juga hujan. Hujan yang tak pernah selesai.”
Rin menatapku, lama sekali.
“Bukan, Bay. Kau bukan hujan. Kau… payung, yang selalu coba melindungiku, bahkan ketika kau sendiri kuyup.”
Hatiku bergetar. Aku ingin menjawab, tapi bibirku hanya bisa tersenyum samar, menutup gemetar kata yang lagi-lagi tak mampu lahir.
Kami tiba di sebuah pertigaan kecil. Ada pos ronda kosong yang hanya diterangi neon putih yang berkelip-kelip seperti bintang kelelahan. Kami berteduh.
Kami duduk bersebelahan sambil mendengarkan suara hujan yang berlompatan di atap seng. Dingin mengiris, tapi jarak tubuh kami menyalakan bara kecil yang menyelamatkan.
“Bay, kenapa aku selalu kembali padamu, meski aku tahu hatimu tak pernah terbuka?” tanya Rin tiba-tiba sambil duduk memeluk lutut.
Aku terdiam. Kata-katamu menusuk. Aku ingin berteriak: Hatiku terbuka hanya untukmu, Rin. Tapi lagi-lagi diam menjadi tembok.
“Mungkin karena aku nyaman,” lanjutmu dengan suara yang seperti gerimis. “Meski hanya sebentar, meski hanya dalam hujan. Aku tetap merasa… ada.”
Aku menatapmu. Lampu neon membuat bayangan wajahmu jatuh di tanah basah. Bergoyang-goyang dalam genangan seperti lukisan rapuh yang siap larut jika disentuh.
“Apakah kau bahagia… dengan dia?”
Pertanyaan itu membuatmu memejamkan mata. Ada air yang menetes, entah hujan entah air mata.
“Aku… tidak tahu, Bay.”
Jawaban itu lebih pahit dari kopi senja tadi. Getir, tapi aku tetap menelannya, sebagaimana aku menelan hujan yang selalu datang tanpa izin.
***
Purbalingga, 19925.











