Home / Fiksi / Cerpen / Pura-Pura Punya Pacar

Pura-Pura Punya Pacar

Pura-Punya Pacar

“Oma Mutia, aku menghargai tawaran Oma, sungguh. Tapi aku tidak ingin berkencan dengan cucu Oma.”

Setidaknya ini kesepuluh kalinya aku mengatakan ini padanya selama tiga bulan aku membawakan buku untuk para penghuni Panti Jompo Nirwana. Meskipun aku sangat menikmati kunjungan-kunjungan ini, kesabaranku terkadang diuji oleh kenyataan bahwa para penghuni cenderung mengulang-ulang cerita mereka. Aku tahu bukan salah mereka jika ingatan mereka menurun, dan sejujurnya, jika itu yang terjadi sekarang, mungkin perasaanku akan berbeda. Tapi aku tahu pikiran Oma Mutia setajam pisau koki.

Oma Mutia menurunkan buku yang sedang dibacanya untuk menatapku.

“Kau harus benar-benar bertemu dengannya sebelum kau membuat keputusan itu, sayang. Dia ganteng, kok.”

“Aku yakin dia menarik, tapi…” Aku ragu sejenak lalu berbohong. Hanya sedikit. “Sayangnya, hatiku sudah ada yang punya.”

Tidak sepenuhnya salah. Kalau donatur misterius yang meninggalkan kardus-kardus buku di luar ruang kerjaku mengajakku berkencan, aku akan langsung mengiyakan. Aku hanya melihatnya sekilas beberapa kali saat dia keluar pintu, tetapi terakhir kali dia mengedipkan mata—mengedipkan mata!—ke arahku dari balik bahunya dan rasanya seperti seluruh dunia berputar dalam gerakan lambat. Aku berani bersumpah aku adalah tokoh utama dalam film komedi romantis ketika aku dengan tamak menikmati setiap detail wajahnya dalam dua detik sebelum dia berbalik dan melangkah keluar dari pintu kaca gedung.

Tinggi, berkulit gelap, dan tampan dengan selera tinggi dalam fiksi sejarah dan novel roman kontemporer? Daftarkan aku dalam antrean terdepan.

Seandainya aku tahu namanya supaya aku bisa bisa berterima kasih atas sumbangannya yang murah hati kepada organisasi nirlabaku yang baru berdiri yang mengirimkan buku ke panti jompo dan komunitas lansia. Dan, kamu tahu, sedikit menggoda.

“Ooh, pacar? Ceritakan tentang dia,” kata Eyang Nining, penghuni lain, mencondongkan badan dengan mata berbinar. “Kami sudah lama tidak mendengar gosip menarik.”

Aku terkekeh tak nyaman. “Tak banyak yang bisa diceritakan.”

“Apa dia tampan? Seperti apa rupanya?”

Sekilas melihat wajah-wajah penuh harap di sekelilingku, aku tahu aku terpojok. Para wanita ini tak akan membiarkanku lolos sampai aku memberi mereka beberapa detail. Lebih baik yang “menggiurkan”.

“Yah, dia berambut gelap dan bermata cokelat.” Aku memeras otak untuk mencari tahu lebih banyak fitur. “Dia tinggi, dan punya lesung pipit saat tersenyum.”

“Bagaimana kalian bertemu?”

“Dia membawa sumbangan buku ke kantorku.” Kurasa itu penting, meskipun kami belum benar-benar bicara.

“Apa dia jago berciuman?” tanya Eyang Nining riang.

“Perempuan tak akan berciuman lalu bercerita,” jawabku sopan, bangga dengan respons cepatku.

“Aku akan bercerita kalau ada lelaki tampan yang menciumku,” gerutu Eyang Nining sambil mengerutkan kening.

“Tidak ada yang bilang kau seorang perempuan,” balas penghuni lain, dan tawa pun pecah.

Oma Mutia berdehem dan mengerutkan kening.

“Yah, sayang sekali, karena cucuku datang.”

Aku melirik ke belakang, otakku bekerja keras mencari alasan sopan yang akan membuatku kabur dan menghindari perkenalan yang canggung, kemungkinan besar dibarengi dengan pernyataan Oma Mutia tentang betapa serasinya aku dan cucunya.

Buku bersampul tebal di tanganku jatuh bersamaan dengan rahangku ketika aku melihat orang itu mendekat. Buku itu mendarat tepat di jari kakiku dan aku menahan jeritan. Rasa sakit itu mengalihkan perhatianku dari donatur bukuku yang tampan.

Langkahnya semakin cepat saat aku meraba-raba mencari kursi dan duduk di sana, kakiku berdenyut-denyut dan wajahku terasa panas.

“Kamu baik-baik saja?” Dia membungkuk untuk mengambil buku yang mengganggu itu.

“Baik-baik saja.” Aku memaksakan senyum yang mungkin lebih mirip seringai paksa.

“Kamu yakin? Pasti sakit. Aku bisa mengambilkanmu es kalau kau mau.” Tatapannya yang khawatir membuat perutku menghangat.

“Aku yakin. Rasanya sudah jauh lebih baik.” Aku melompat berdiri untuk menunjukkannya.

“Kau anak yang perhatian sekali,” kata Oma Mutia, sambil mengulurkan tangan untuk menepuk lengannya. “Aku sudah berusaha meyakinkan Alexis ini bahwa kalian berdua akan cocok satu sama lain.”

Alisnya terangkat.

“Oh ya? Apa ada kemajuan, Oma?”

Aku terkejut melihat ketertarikan di raut wajahnya. Mungkin ketertarikan yang kurasakan tidak bertepuk sebelah tangan.

Oma Mutia menghela napas.

“Nggak. Dia cuma bilang kalau dia sudah punya pacar.”

“Tapi dia tidak mau memberi tahu detailnya,” keluh Eyang Nining. “Dia tinggi, berambut gelap, dan berlesung pipit.”

“Benarkah?” Dia menyeringai lebar yang menonjolkan lesung pipinya dengan menawan.

“Ya, dan dia menyumbangkan buku di kantornya. Cuma itu yang dia bilang.”

Seluruh oksigen di paru-paruku serasa terkuras melihat kilatan nakal di matanya.

“Wah, kamu wanita yang beruntung. Dia terdengar luar biasa.” Lalu dia mengedipkan mata padaku, dan sialnya dunia tidak melambat lagi seperti pertama kali.

“Kasihan aku,” lanjutnya. “Aku sendiri yang akan mengajakmu berkencan, tapi aku bukan tipe pria yang akan merebut kekasih orang lain.”

Sekarang aku benar-benar mati kutu.

Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang karena aku tahu dia tahu kebohonganku yang memalukan. Bertindak habis-habisan dan terus menurutinya? Mengakui kebohonganku dan menerima ejekan dari para wanita lansia? Aku menahan napas pasrah.

“Sebenarnya, aku tidak punya pacar.” Aku melirik Oma Mutia. “Lebih seperti naksir, begitulah katamu.”

“Aha!” seru Eyang Nining. “Itu sebabnya kau tidak mau memberi tahu kami apakah dia jago berciuman. Kau tidak tahu!”

Wajahku akan selamanya merah padam.

“Jadi, itu artinya kamu siap?” tanya cucu Oma Mutia sambil tersenyum penuh harap.

“Ya, tentu.”

Dia mengulurkan tangannya untuk kujabat. “Aku Rayhan. Apa kamu ada waktu untuk makan malam nanti?”

Aku mengabaikan para pemirsa yang terpukau sambil menjawab sambil tersenyum. “Alexis. Dan ya, makan malam pasti akan menyenangkan.”

Para wanita lansia bertepuk tangan dan Oma Mutia berseri-seri.

“Aku tahu kalian berdua cocok satu sama lain.”



Bekasi, 4 Oktober 2025

Penulis

  • Rayhan Rawidh

    Penulis genre urban fantasy, chicklit, dewasa, action. Karyanya bisa ditemukan di KBM.id dan fizzo.org,

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image