Setelah menyelesaikan sarapan soto Lesah khas Magelang di warung d’Lesah, kami melanjutkan perjalanan. Hari ini rencananya hanya berkeliling seputar kota karena Elaine sedang menunggu telepon dari ayahnya. Perbedaan waktu Perancis dan Indonesia sekitar 5 jam lebih awal Indonesia.
Aku melajukan mobil ke arahjalan Kurahan, kelurahan Magersari, disana bertengger sebuah Gunung yang namanya tiba-tiba mencuat setelah 48 menteri dan 56 wakil menteri atau setara dari kabinet merah putih Presiden Prabowo-Gibran menjalani pembekalan pada 25-27 Oktober 2024 yang lalu.
“Gunung Tidar.” Elaine mengeja papan bertuliskan nama gunung yang dikenal sebagai pusat pelatihan Akademi Militer tersebut.
“Banyak versi tentang asal muasal nama Tidar,” ujarku menjelaskan tentang gunung yang dalam legenda dikenal sebagai Pakunya Tanah Jawa ini.
“Namun, yang sering digunakan adalah Tidar memiliki makna mukti dan kadadar. Mukti memiliki arti bahagia, berpangkat, dan sukses dalam hidup, sedangkan Kadadar berarti dididik, ditempa, dan diuji. Hal tersebut dikaitkan karena Gunung Tidar memiliki sejarah dalam perjuangan bangsa, di Lembah Tidar itulah Akademi Militer sebagai kawah candradimuka yang mencetak perwira pejuang Sapta Marga berdiri pada 11 November 1957,” lanjutku menjelaskan. Elaine hanya mengangguk berjalan mengikuti di belakangku.
Dalam keadaan normal hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di puncak gunung yang berada di ketinggian 503 mdpl dan memiliki luas kawasan Kebun Raya mencapai 701.674 m². Setelah membeli tiket masuk, kami mulai menaiki tangga yang sengaja dibangun untuk memudahkan wisatawan.
“Berapa anak tangga sampai ke puncak?” tanya Elaine terengah-engah.
“Untuk mencapai puncak harus menaiki 1.002 anak tangga. Untuk turun juga sama.”
“Capek,” keluh Elaine, tanpa minta persetujuan dia duduk di area peristirahatan yang memang sengaja disediakan agar pengunjung dapat melepas lelah serta menikmati suasana teduh dan udara segar di sepanjang jalur pendakian.
Elaine sibuk berphoto dengan latar pohon pinus yang rindang. Ada juga tanaman buah-buahan tahunan seperti salak hasil penghijauan era tahun 1960-an, tapi timbang menikmati keindahan gunung yang rimbun, Elaine lebih memilih kedai makanan yang banyak tersedia di jalur pendakian.
Sebotol air mineral langsung habis dalam sekali teguk, matahari yang mulai terik memang membuat berkeringat dan haus.
“Kita hampir sampai di Makam Syekh Subakir,” kataku mengajak melanjutkan perjalanan. Elaine bangkit mengikutiku.
“Siapa Syekh Subakir? Namanya terdengar familiar,” tanyanya.
“Syekh Subakir dan Gunung Tidar memang melegenda di kalangan masyarakat tradisional Jawa,” jawabku.
Mendekati puncak, kami berhenti di sebuah makam yang cukup ramai dikunjungi wisatawan. Aku mengajak Elaine masuk dan duduk di halaman makam.
“Syekh Subakir dikisahkan punya kesaktian mumpuni, juga turut dinukilkan dalam Babad Tanah Jawi, sebuah sastra berbahasa Jawa yang berisi sejarah Pulau Jawa. Namun, meski makamnya banyak dikunjungi peziarah, tidak banyak yang mengenal sejarahnya.”
“Menurutku sebutan Syekh berasal dari Persia dan sekitarnya,” potong Elaine. Aku tertawa, dalam hati membatin, kritis juga gadis ini.
“Benar. Syekh Subakir adalah ulama asal Persia yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki Utsmaniyah atau Ottoman untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa, bersama pamannya Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik yang merupakan generasi awal Wali Songo.”
“Aku pernah mendengar nama pamannya, kalau tidak salah Maman pernah mengajak aku ke sana.”
“Wah, ternyata kamu masih ingat, ya?”
Elaine tergelak,”Tentu, dong. Aku selalu ingat setiap perjalanan bersama Maman karena sangat mengasikan.”
“Dahulu, konon menurut legenda Pulau Jawa diciptakan oleh Sang Maha Pencipta berupa daratan yang terapung di lautan luas dan selalu bergerak. Kemudian seorang dewa dari kayangan memaku tanah tersebut agar berhenti bergerak, kepala paku yang digunakan kini berakhir menjadi sebuah gunung yang dikenal sebagai Gunung Tidar. Masyarakat tradisional Jawa menyebutkan sebagai Pakuning Tanah Jawa atau paku tanah Jawa,” paparku.
“Lalu di mana paku itu?” sela Elaine tak sabar.
“Duh, sabar kenapa? Kita masih harus naik lagi untuk sampai di Pakuning Tanah Jawa,” ujarku pura-pura cemberut. Elaine justru terbahak sambil menutup mulutnya.
“Mau dilanjutkan nggak ceritanya?” tanyaku balas cemberut.
“Iya dong, Maman,” rayu Elaine sambil merangkulku.
“Ok, dengerin, ya! Kita lanjutkan sambil jalan,” ajakku.
“Siap,” jawabnya dengan sikap hormat dengan tangan diangkat di kening. Aku menggelengkan kepala, kembali menaiki tangga.
“Sebelumnya sudah banyak ulama yang diutus Utsmaniyah Turki untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa, Namun, hampir semuanya mengalami kegagalan. Hingga diutuslah Syekh Subakir, seorang ahli Ruqyah, ekologi, meteorologi dan geofisika. Tidak hanya itu, beliau juga dikhususkan untuk menangani hal gaib dan spiritual yang dinilai sebagai penghalang diterimanya Islam oleh masyarakat Jawa. Para Jin, dedemit, dan lelembut dapat mengubah wujudnya menjadi ombak besar disertai angin puting beliung yang menghancurkan kapal dan apapun di atas ombak. Tidak hanya itu, para Jin juga bisa berubah wujud menjadi hewan buas yang mencelakakan para ulama terdahulu.”
“Ish, serem,” seru Elaine bergidik.
“Masyarakat Jawa sendiri saat itu juga masih memegang teguh kepercayaan lama. Dengan karakter gaib dan mistis yang masih mendominasi daratan dan lautan di sekitar pulau Jawa. Maka untuk mengatasi hal gaib tersebut, Syekh Subakir membawa batu hitam dari Arab yang telah dirajah. Batu tersebut diletakkan dengan nama Rajah Aji Kalacakra dan diposisikan di tengah-tengah tanah Jawa yaitu Puncak Gunung Tidar. Hal ini dipercayai sebagai titik sentral atau pakunya tanah Jawa.”
Kami berhenti di puncak gunung, dimana terdapat tanah lapang yang ditengahnya terdapat sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa yang dibaca seperti pada kata Solok dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa Salah Seleh yang artinya Siapa Salah Ketahuan Salahnya. Tugu inilah yang dipercaya sebagai Pakunya Tanah Jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang dan aman.
“Ça a marché?” tanya Elaine ingin tahu, beberapa kali dia mengelilingi tugu tersebut dan mengambil gambar dari berbagai sudut.
“Ça a très bien marché,” jawabku cepat. Elaine mengerutkan kening sambil mengangguk-angguk.
“Namun, Efek dari kekuatan batu hitam tersebut tentu saja menimbulkan gejolak bagi para jin dan sejenisnya. Cuaca yang cerah berubah drastis menjadi gelap seperti malam hari selama tiga hari. cuaca ekstrim terjadi, petir, kilat dan angin saling beradu menyebabkan hujan api. Hawa panas pun muncul dari dalam batu, membuat para jin, dedemit, siluman, lelembut dan makhluk sejenisnya menyelamatkan diri, mereka semua hanyut dalam air karena tidak kuat menahan panas pancaran batu hitam tersebut.”
“Lalu bagaimana menghentikannya?”
Aku mengajak Elaine naik beberapa tangga lagi, “Adalah Sang Hyang Ismoyo, atau lebih dikenal dengan Kyai Semar. Menurut legenda, Kyai Semar adalah ciptaan Tuhan yang diutus untuk memomong Tanah Jawa sampai 1100 tahun. Kyai Semar pun awalnya tidak mudah menerima kedatangan orang baru yang ingin mengubah Jawa. Karena itulah, Kyai Semar berusaha memerangi Syekh Subakir.”
Akhirnya kami berhenti di depan sebuah bangunan dengan atap kerucut membentuk contong. Elaine menatap takjub.
“Di sinilah makam Eyang Semar.” Aku mengajak Elaine memasuki bangunan dengan atap contong berwarna kekuningan. Elaine hanya mengekor dengan rasa penasaran.
“Karena sama-sama memiliki kesaktian, dalam peperangan itu tidak ada yang kalah ataupun menang. Keduanya lalu memutuskan untuk membuat perjanjian damai. Diawali dengan Syekh Subakir menjelaskan niatannya untuk menyebarkan agama Islam kepada Kyai Semar. Siapa sangka, ternyata niatan Syekh Subakir diterima baik oleh Kyai Semar.” Aku melanjutkan cerita setelah berada di kawasan makam.
“Lalu mereka berdamai?” sela Elaine.
“Tidak semudah itu. Kyai Semar lalu mengajak Syekh Subakir ke padepokan agung milik Kyai Semar di Alas Purwo. Di sana, Kyai Semar mengajukan syarat, jika Syekh Subakir bisa mengubah dua sumur yang berbau busuk menjadi wangi, maka Kyai Semar dan para dedemit akan meninggalkan Pulau Jawa dan pindah ke Pantai Selatan,” lanjutku. Elaine menyimak saksama
“Syekh Subakir pun menerima tantangan Kyai Semar. Dengan bantuan tombak pusaka bernama Kyai Sepanjang, Syekh Subakir mengubah air sumur dengan membacakan doa-doa ayat Al-Quran, As Sunnah, serta berdzikir menyebut nama Allah. Sayangnya, Syekh Subakir hanya mampu membuat satu sumur menjadi harum, sedangkan yang lainnya tetap berbau busuk. Meskipun demikian, lantunan doa-doa yang dibacakan Syekh Subakir berhasil membuat para dedemit takluk dan menyingkir dari Gunung Tidar. Setelah itu, Syekh Subakir memilih Gunung Tidar sebagai tempat berdakwah,” pungkasku sambil meneguk air mineral yang tinggal separuh.
“Tadi di bawah, tidak jauh tdak jauh dari Makam Syaikh Subakir, ada makam yang panjang. Apakah itu makam jin penunggu Gunung Tidar?” tanya Elaine sambil mengetukkan ujung telunjuknya ke dagu.
“Ha ha ha, Itulah Makam Kyai Sepanjang. Ayo kita turun dan melihat makamnya!” ajakku.
“Kyai Sepanjang? Panjangnya 7 meter?”
“Kyai Sepanjang bukanlah sesosok alim ulama, tetapi nama tombak yang dibawa dan dipergunakan oleh Syaikh Subakir untuk mengalahkan jin penunggu Gunung Tidar kala itu.”
“Oow, aku paham sekarang.”
Elaine melesat turun mendahului, katanya mencari kamar kecil. Namun, perhatianku justru tersita oleh sekelompok komunitas gowes yang tengah berphoto di monumen ikon Gunung Tidar. Dadaku berdesir saat sepasang mata ini tertumbuk pada sosok bertubuh sedang dengan kaca mata minusnya. Ada perih yang mengulik luka dari masa lalu. Sosok itu … sosok yang dulu sangat aku cintai dan sangat sulit aku lupakan. Sosok yang telah berhasil membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Dia berhasil membuatku tak bisa membuka hati lagi. Bahkan saat hatiku sudah diisi oleh orang lain, pikiran dan hatiku tetap dipenuhi semua tentang dia.
***
Note :
Ça a marché? = apakah itu berhasil?
Ça a très bien marché = sangat berhasil.










