Keluar dari museum aku memergoki Elaine berulang kali mengusap perutnya. Aku tersenyum geli, dalam hati menebak bocah yang doyan makan ini pasti sudah lapar.
Hanya beberapa meter dari museum, aku membelokkan mobil menuju arah Cacaban, menuju Jalan Pangeran Mangkubumi dan menghentikan mobil tepat di depan Warung Makan Senerek Bu Atmo.
“Kamu pasti lapar, kan?” godaku sambil mematikan mesin mobilnya.
“Eh, iya, tapi kok Maman tahu?” tanya Elaine tersipu.
“Cacing-cacing diperutmu sudah demo, tuh!” godaku sambil tertawa. Elaine tersenyum lebar, “Terdengar ramai.”
“Iya, sih. Aku baru saja mau bilang. Ternyata Mere sudah tahu,” ujarnya manja.
“Hmmm.”
“Sekarang kita makan apa?” tanya Elaine saat turun dari mobil berjalan mendahului masuk ke dalam rumah makan yang selalu ramai pengunjung itu. Kebetulan ada dua bangku kosong di pojok, bergegas gadis itu duduk. Aku mengikuti, mengambil tempat disebelahnya dan memesan dua porsi sop Senerek dan dua gelas es Beras Kencur tanpa menunggu persetujuannya.
Suasana rumah makan yang merupakan rekomendasi utama untuk para wisatawan-wisatawan dan warga yang ada di Magelang cukup ramai, mungkin karena jam makan siang. Meski lokasinya sedikit ‘mblusuk’ kalau kata orang Magelang. Warung makan yang tidak terlalu luas dan cukup sederhana ini cukup bersih. Beberapa pelayan menyambut kami dengan ramah, logat bahasa Jawanya halus, sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh dan sopan santun.
Tak perlu menunggu lama, pesanan pun datang. Sop penambah nutrisi yang merupakan racikan khas Magelang ini favoritku sejak kecil. Sop yang sangat kaya nutrisi karena memakai daging sapi berikut kaldunya. Kemudian ditambah kacang merah yang sarat protein, wortel serta tomat dan daun bawang yang kaya vitamin. Cocok untuk menjaga stamina tubuh. Rasanya pun gurih mantap, apalagi kalau disantap selagi hangat. Konon sop ini diadaptasi dari kuliner Belanda. Mirip dengan sop kacang merah—Bruine Bonen Zoep, tetapi kuah kaldunya lebih encer.
Elaine makan dengan lahap. Dalam sekejap sepiring sup Senerek telah tandas, dia beralih menyesap es beras kencur. Elaine mengernyit saat cairan beraroma herbal itu melewati tenggorokananya.
“Ini minuman apa?” tanyanya sambil mengaduk-aduk isi gelas.
“Beras kencur. Itu minuman andalan di rumah makan ini,” jawabku menjelaskan . Pelahan menyesap minuman favoritku ini. Rasa kencurnya cukup kuat, kental, dan manis menjadikan perpaduan yang sangat pas.
“Beras kencur terbuat dari bahan-bahan alami seperti beras, kencur, gula merah atau gula aren, dan daun pandan, ada juga yang ditambahkan jahe dan asam jawa untuk memperkaya rasa dan manfaatnya,” imbuhku menjelaskan. Elaine mengangguk-angguk.
“Aku suka, boleh aku beli untuk dibawa pulang?” tanyanya.
“Bien sûr. Manfaat minuman beras kencur ini sangat banyak, bisa untuk meningkatkan daya tahan tubuh, melancarkan pencernaan, menambah energi, meredakan sakit kepala dan nyeri, dan memiliki sifat antioksidan, anti radang, serta anti-bakteri. Jamu ini juga dapat membantu meningkatkan nafsu makan, meredakan stres dan kecemasan, serta membantu mengendalikan gula darah, menghambat pertumbuhan sel kanker, dan mempercepat penyembuhan luka.”
“Benarkah? Jika begitu aku akan membeli beberapa botol,” tukas Elaine.
“Untuk apa?” tanyaku
“Untuk Maman, bukankah tadi katanya minuman ini bisa meredakan stress karena patah hati?” gelaknya menggoda. Aku mendelik, tapi sebentar kemudian ikut tertawa sambil mencubit ujung hidungnya dengan gemas.
Aku melanjutkan perjalanan yang hanya beberapa meter dari tempat makan. Menuju sebuah tempat wisata yang cukup terkenal. Konon mengunjungi Magelang tidak akan lengkap tanpa mengunjungi TKL Ecopark. Bahkan jauh sebelum objek wisata viral lainnya hadir di Magelang, TKL Ecopark lebih dulu menjadi jujugan wisatawan keluarga.
Setelah membeli tiket masuk, kami masuk ke Taman Kyai Langgeng atau yang kini dikenal dengan TKL Ecopark, sebuah objek wisata taman yang terletak di Kota Magelang. Wisata alam yang berada di pusat kota ini hanya berjarak 3.5 km dari alun-alun Magelang. Diresmikan pada 15 September 1987 oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, H. Ismail.
Taman yang luas ini konon sebelumnya merupakan lahan kritis berupa pekuburan, persawahan, dan kebun yang kurang produktif. Kemudian atas inisiatif dari Walikota Magelang saat itu, yang dijabat oleh Drs. H. A. Bagus Panuntun pada tahun 1981 diubah sebagai Taman Flora atau lebih dikenal oleh masyarakat Kota Magelang dengan sebutan Taman Bunga seluas 27,36 ha
Pusat rekreasi yang berada di Kota Sejuta Bunga ini dalam pengembangan ke depan diwujudkan sebagai Taman Wisata Keluarga sekaligus paru-paru kota dengan konsep hutan buatan yang memiliki banyak fasilitas penunjang untuk kenyamanan para pengunjung.
Mengingat luasnya objek wisata alam ini, kami memilih menyewa mobil dengan pemandu wisata yang merupakan fasilitas yang disediakan. Menikmati pesona alam dengan berbagai koleksi pohon langka dan setengah langka didalamnya menjadi daya tarik tersendiri. Panorama Gunung Sumbing sebagai latar belakang menjadi bagian nilai eksotis alam yang tak ternilai.
Selain sebagai wisata alam, Taman Kyai Langgeng memiliki fasilitas seperti Wahana Permainan, Petualangan, Edukasi, Wisata Air, dan Wisata Religius. Akses pendukung lainnya adalah area parkir, mushola, toilet, kedai makan, kedai souvenir, serta akses internet WIFI.
Taman Kyai Langgeng juga memiliki Water Park dengan kolam ramah anak dan berbagai wahana pendukungnya. Berenang dikelilingi keindahan alam di wilayah Gunung Sumbing dan Sungai Progo tentu mempunyai sensasi yang berbeda. Waterpark dan waterboom Taman Kyai Langgeng sangat cocok dijadikan alternatif liburan bersama keluarga.
Kemudian pada tahun 2022 atas prakarsa Perusahaan Umum Daerah Objek Wisata, Taman Kyai Langgeng Kota Magelang resmi menjadi Taman Kyai Langgeng Ecopark brand baru Taman Kyai Langgeng mengingat usia Taman Kyai Langgeng sudah 34 tahun, sehingga perlu adanya penyegaran dan sebuah trigger untuk perbaikan-perbaikan, agar mampu tetap eksis dalam dunia pariwisata.
Pemandu wisata menjelaskan PDOW mengambil logo kombinasi daun dengan siluet burung kepodang. Daun tumpuk tiga ke atas searah jarum jam memiliki arti TKL Ecopark membawa kesan unsur natural, bangkit, dan tumbuh. Kemudian siluet burung sebagai simbol fauna merupakan penggambaran burung kepodang yang merupakan ikon Taman Kyai Langgeng.
Adapun pemilihan warna pada logo yaitu kuning dan oranye memiliki kesan kreatif, bahagia, enerjik, kebebasan, antusias, dan percaya diri atau optimistis. Sedangkan ungu melambangkan imajinasi dan spiritual yang secara umum juga dianggap Exciting Eco-Friendly Park, untuk menarik perhatian serta memberi kesan independen, bijaksana, serta visioner.
Penamaan TKL Eco Park dengan slogan Exciting Eco-Friendly Park secara luas memiliki arti Taman Kyai Langgeng adalah taman rekreasi terbuka yang hijau dan berfungsi sebagai sarana rekreasi sekaligus tempat bermain dan belajar bagi masyarakat umum, serta bisa meningkatkan kepedulian pada alam.
Kami sempat berhenti di beberapa tempat yang merupakan produk unggulan yang ditawarkan antara lain Botanical Park, Edu Park, Playground Park, Adventure Park dan Culinary Park.
Namun, dibalik itu semua tak banyak orang mengetahui asal penamaan Taman Kyai Langgeng.
Pemandu wisata mengulas riwayat Kyai Langgeng atau yang memiliki nama asli Ki Ageng Suryokusumo. Beliau adalah sosok sentral dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda. Beliau lebih dari sekadar tokoh agama, tapi sekaligus penasehat spiritual bagi Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan penjajah Belanda.
Sebagai keturunan langsung Raja Mataram Sri Sultan Hamengkubuwono II, Kyai Langgeng memiliki pengaruh yang kuat di kalangan masyarakat Jawa. Kecerdasan dan keteguhan hati Sang Kyai membuatnya menjadi penasihat spiritual yang dipercaya oleh Pangeran Diponegoro.
Pada awalnya, Kyai Langgeng disebut sebagai seorang “prajurit sandi” yang tidak dikenal secara luas. Saat itu, Pangeran Diponegoro telah menyatakan perang melawan Belanda, dan mengutus prajurit kepercayaannya, Kyai Kasan Besari, untuk mengirim kabar tentang persiapan serangan kepada markas Belanda di Magelang. Tugas ini dianggap sangat sulit mengingat kota Magelang dijaga ketat oleh pasukan Belanda. Namun, Kyai Besari memilih seorang prajurit sandi yang setia, tangguh, dan memiliki kemampuan spiritual luar biasa untuk menjalankan misi tersebut.
Nama dan identitas prajurit sandi ini tetap dirahasiakan. Meski tidak dikenal banyak orang, keberanian dan kesaktiannya membuatnya disegani oleh pasukan Pangeran Diponegoro dan rakyat di wilayah tersebut. Masyarakat merasa aman saat berada di bawah perlindungan prajurit sandi ini, yang dikenal karena kesabarannya dalam menyelesaikan tugas dan kemampuan untuk menjaga kerahasiaan misinya.
Sesuai tugasnya, prajurit sandi selalu berpindah-pindah tempat dan mengubah namanya sesuai lokasi perjuangannya. Di Mudalrejo, ia dikenal sebagai Kyai Mudalrejo, sedangkan di Kemiri, ia dipanggil Kyai Kemiri. Di setiap tempat, ia memimpin rakyat dengan penuh persiapan dan semangat, membantu Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah.
Semangat perjuangan prajurit sandi atau Kyai Langgeng membakar semangat rakyat Magelang, yang rela mengorbankan jiwa dan harta mereka demi kemerdekaan. Di bawah komandonya, pasukan Pangeran Diponegoro mampu merebut kota Magelang dan Parakan, menjadikannya pusat pertahanan strategis. Pasukan Belanda pun mengalami kesulitan menghadapi prajurit sandi yang tak dapat ditangkap.
Semangat yang dibawa oleh Kyai Langgeng terus mengalir di hati rakyat, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hingga akhir hayatnya, identitas asli Kyai Langgeng tetap menjadi misteri. Setelah meninggal, namanya terus hidup dalam ingatan masyarakat sebagai simbol perjuangan yang abadi. Masyarakat menyebutnya Kyai Langgeng, sebagai harapan agar semangat perjuangannya tetap “langgeng” atau abadi, diteruskan oleh generasi penerus.
Setelah peristiwa penangkapan Pangeran, Diponegoro oleh militer Belanda, Kyai Langgeng beserta para pengikutnya sempat menyingkir untuk sementara waktu dan kemudian kembali ke Magelang setelah kondisi dirasa aman. Selama menetap di Magelang, beliau masih melanjutkan perjuangan dengan cara yang lebih subtil.
Sebagai seorang ulama, Kyai Langgeng juga sempat mendirikan pondok pesantren kecil di Magelang dan memiliki sejumlah santri. Beliau meninggal pada tahun 1829 dan dimakamkan di Magelang tepatnya ada di tengah area Objek Wisata Taman Kyai Langgeng.
Ulasan berakhir seiring berakhirnya perjalanan mobil yang membawa kami mengelilingi TKL ECO Park. Senja mulai hadir, kami melanjutkan perjalanan menyusuri tepian kali Progo.
***










