Ruben terengah-engah, wajahnya memerah. Dia menoleh ke Katryn dan melihat wajah Katryn sangat mirip dengannya. Pucatnya membuat semburat merah muda menjalar ke leher dan tulang selangkanya. Matanya basah dan berkilat, pupilnya melebar seperti cermin hitam yang memantulkan wajah Katryn. Katryn bernapas berat setelah mengerahkan tenaga. Hanya beberapa menit, tetapi tenaga keduanya terkuras habis.
Turun dari tempat tidur, Ruben berjalan tertatih-tatih ke dapur dan berdiri di wastafel sambil mengisi segelas air.
Bayangan peristiwa dari malam itu berkelebat di benaknya, seperti film bisu zaman dulu yang terlalu cepat. Beberapa tegukan panjang mengosongkan gelas sementara dia berdiri memandang ke luar jendela, tak benar-benar melihat rumah di sebelahnya, tenggelam dalam kenangan.
Sambil mengguncang tubuhnya, ia kembali ke kamar tidur yang lampunya sudah dipadamkan, dan Katryn berbaring diam, menghadap ke luar tempat tidur. Lekuk tubuhnya menggelinding seperti bukit di bawah seprai tipis.
Ruben berbaring di tempat tidur dan meletakkan satu tangan di pinggul Katryn. Dia terjaga cukup lama sebelum akhirnya tertidur.
***
Pagi itu hening. Baik Ruben maupun Katryn tidur larut malam, lelah setelah beraktivitas semalaman dan terbangun dengan tuntutan candu kafein. Perjalanan ke kafe lokal hanya sebentar, tetapi Ruben puas melakukan perjalanan itu. Dia berjalan di bawah langit berwarna koral, mengingatkannya pada puisi tentang pelaut tua.
Ketika dia kembali, Katryn sudah berpakaian dan berdiri di kamar tidur, menatap ke dalam lemarinya. Sebuah koper kosong tergeletak di tempat tidur. Dia memberikan kopi itu kepada Katryn, yang diterimanya dengan ucapan terima kasih dengan lirih.
“Kamu tidak perlu melakukan ini hari ini.”
Mata Ruben memperhatikan cangkir kopi Katryn saat kopi itu naik ke mulutnya dan dia menghembuskan uapnya dengan lembut sebelum menyesapnya.
“Ya. Aku setuju. Kita sudah bicara semua, dan kalau aku tetap di sini, kita akan kembali ke rutinitas kita. Kita akan bertengkar lagi bulan depan.”
“Aku masih mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu. Itu sebabnya aku pergi.”
Mereka minum kopi dan berbincang tentang masa lalu.
Dia membantu istrinya berkemas lalu membawakan barang-barangnya ke mobil. Mereka berpelukan dan berpisah di bawah langit yang telah berubah warna menjadi sarang laba-laba. Dua awan terpisah setelah badai, mencari cakrawala yang lebih cerah.
Bekasi, 30 September 2025









