Apa yang kau bayangkan
Bila berada di tengah dentuman mesiu
Sepanjang hari, bagai dibakar mentari
Senyuman meleleh bersama darah yang belum mengering
Apa yang kau rasakan
Bila kesusahanmu tak sebatas legam karena lelah mencari nafkah
Hari-hari kulit mereka disapa bahan peledak
Raganya lebur dengan debu-debu yang beterbangan
Apa yang kau gambarkan
Bila engkau menjadi salah satu dari mereka
Sakit dan pedihnya tak sebatas melihat si kaya yang hura-hura sementara kau kesusahan untuk makan
Atau kau jadi relawan yang menjaga pos agar hidung penjajah tak masuk wilayah
Bayangkan dan rasakan
Bagaimana kecemasan ini tak sekedar tercekik harga yang membumbung tinggi
Setiap waktu, terusik oleh cemas kehilangan dan nyawa melayang
Ingatannya diteror oleh congor senapan yang bengis
Apakah doa dalam hening dapat meringankannya?
Di tengah gundukan bangunan dan hati yang hancur
Mereka menangis dalam genangan darah yang setiap hari membasahi tanah
Gaza,
Maafkan kami yang belum layak menjadi saudaramu
Pikiran kami masih seperti anak berumur lima tahun
Jangankan bermimpi menjadi pahlawan di sisimu
Mengingatmu saja masih jarang dan bahkan sudah mulai bosan
Tangerang, 9 Oktober 2025











