“To the point aja, sih…”
Itulah komentar remeh yang diperoleh dari sobat maya usia belia, saat saya pernah ‘gagah-gagahan’ meng-ACC tawaran jadi admin grup Secangkir Kopi Sufi. Setelah melewati uji materi ala-ala versi konyol saya sendiri, saya sadar: lebih baik hengkang sesegera mungkin. Setidaknya dengan cara tersebut bisa membuat saya terhindar dari jebakan kekonyolan yang lainnya buah kesadaran saya yang masih minim tentang konsep “Tak Tahu Diri dan Tak Tahu Malu”.
Awalnya saya ingin bertempur hikmah dengan pemilik komentar itu: saling menelikung kalimat, berkutat kata mati-matian—mungkin demi kebenaran atau setidaknya demi sekadar pembenaran.
Tapi sayangnya, pemilik komen tersebut entah kenapa justru malah lebih memilih untuk merendahkan cangkir pembelajar miliknya, memaksa saya untuk kembali terhenyak serta terpontang-panting sendirian menyingkap hijab dibalik kejadiannya. Apes nian kau, Bay, hahahay…
Untunglah pengalaman super-duper puanjangg sebagai pecundang terhebat sekaligus mantan ‘pesulap’ membuat saya akhirnya mampu untuk segegas mungkin mengubah apes itu menjadi begitu banyak rejeki, yang barangkali ‘gak malu-maluin banget’ kalau saya bagi di sini.
Komen tersebut langsung saja menyepak saya untuk mempertanyakan lagi semuanya.
Kenapa kita tak “to the point aja, sih…” saja terhadap semuanya? Kenapa yang dilakukan justru men-jlimet-inya? Melungker-lungker tak karuan, putar sana keliling kemari hingga menguras daya yang begitu besar, demi sekadar sampiran dan tepi? Mengapa tidak langsung saja berfokus kepada substansi, misalnya? Hingga tak perlu khawatir semua tergerus kemelungkeran yang melelahkan, hingga ketika akhirnya sampai kepada isi: kita telah lelah, lalu marah, lalu bersabda juga barangkali berfirman bahwa isi inilah yang terbaik, yang terbenar, karena dalam dunia isi: saya adalah tuhan, tak seperti kalian yang cuma sekedar insan? Naudzu billah min dzaalik.
Kenapa kita tak “to the point aja, sih…” bertanya pada pangsa pasar, sehingga tak perlu berlelah-lelah bikin perusahaan lengkap dengan segala macam survei pasar, kiu si[1] dan segala kecipaknya?
Kenapa kita tak “to the point aja, sih…” terhadap jemaah pengajian plus ustaznya, yang setelah poin itu didapat, pengajian langsung bubar sebab tujuan utamanya toh telah tercapai?
Kenapa kita tak “to the point aja, sih…” kepada Kepala Sekolah, bertanya ulang poin apa yang sekiranya tak meski membuat kita bergumul dalam lelah peluh menekuni segala macam rutinitas belajar di kelas hingga menghabiskan waktu 18 tahun untuk menjadi S2, yang harusnya mungkin cuma butuh berkata “to the point aja, sih…” kala baru mendaftar TK, maka selesailah semua, langsung bisa lulus seketika itu juga sambil menenteng gelar profesor kehidupan?
Kenapa kita tak “to the point aja, sih…” saat bertanding bola? Bukankah poinnya jelas: ‘memasukkan’ bola ke gawang lawan. Kenapa tidak berfokus hanya ke sana? Saling memasukkan bola ke gawang team lawan dengan cara bergantian dengan lebih sederhana dan kekeluargaan, yang setelahnya pertandingan tak lagi diperlukan karena toh apa gunanya tips dan trik bertanding bola kita bahas dan ulas sampai berbusa kalau tujuan utama pertandingan sepak bola sudah berhasil kita mufakati bersama?
Hingga puncaknya, barangkali kita akan bertanya kepada Tuhan, sesaat setelah kita terlahir di dunia: “Gak usah basa-basi, Tuhan, and “to the point aja, sih…” tentang kenapa kami perlu dilemparkan ke dunia yang amat menyebalkan ini…?” yang kemudian setelah bertanya, kita bisa langsung mati lagi dengan sangat mapan sebabpoin terpenting kehidupan toh telah didapatkan, dengan cara yang sangat nyaman dan terutama sekali: to the point alias langsung kepada Tuhan.
Sayangnya, itu hanya mungkin di dunia khayalan. Jikapun ngotot melanjutkan pembahasannya, tetap cuma akan menjerumuskan kita menjadi si tukang angan, menjajakan mimpi bermodalkan kulak jere adol ndeyan, sambil diam-diam tak henti berdoa agar keajaiban seketika mengubah segala khayal dan angan menjadi kenyataan. Bukankah doa adalah senjatanya orang-orang yang beriman?
Sangat gegas saya hirup kopi di gelas. Bukan karena begitu menyukainya, melainkan lebih karena tak ingin tawa geli saya terkesan mengejek. Entah kenapa, kalimat yang aslinya sangat religius tersebut, ketika berada di tangan kita pelaksanaannya malah seketika menjelma kalimat paling sekuler yang pernah ada.
Doa?
Doa yang mana?
Doa yang seperti apa..?
Batin saya penuh gumam, berpikir keras kapan kiranya terakhir kali kita saling mendoakan bersama teman, yang terasa semakin tahayul saat ingatan yang menyelepit di sela benak justru menunjukkan berderet tanya abstrak: bagaimana mungkin kita mampu untuk saling mendoakan, sementara berdoa untuk diri sendiri saja kerap begitu terburu-buru demi bisa memenuhi undangan khutbah, mengajar, menyuarakan kebaikan dan atau menularkan kebahagiaan melalui laman medsos yang penuh dengan zona nyaman.
Gumam batin kian perlahan ketika saya merasa lebih sukar lagi untuk mengingat:
Benarkah yang kita panjatkan adalah doa?
Untuk Tuhan?
Dengan cara menantang ayat-Nya? Lewat ayat demi ayat kemapanan dunia yang terus kita reka dan ciptakan?
“Kau nikahlah, kau miskin Kubuat kau kaya…” bisik Tuhan di kitab suci, yang dengan anggah-ungguh penuh sopan kita balas pakai ayat besutan sendiri: “Baik, Tuhan, saya dengar dan saya taat. Tapi nanti, setelah saya punya pekerjaan, setelah saya lulus ini selesai itu, setelah saya punya ini mampu itu, setelah saya begini lalu begitu, setelah…”
Mari ganti kata ‘nikah’ tersebut dengan sedekah, beribadah, menjadi kepala suku atau bos perusahaan, penulis, penyiar radio, pastor, kyai, dan entah profesi apa lagi yang akhirnya percuma saja sebab jawaban kita tetap saja serupa: Tunggu. Nanti. Karena kita memang seorang pembangkang yang amat hebat dan professional.
Bahkan Tuhanpun kita bangkang! Atau—jika perlu—kita tipu. Kenapa tidak, bukankah Tuhan tetap Maha Penyayang, tak akan mungkin marah buah ulah konyol yang terus kita lakukan, dengan atau tanpa sadar itu?
“Terus, gue salah gitu kalau jadi pembangkang, Bay?” Sebuah tanya asu yang menghasut saya untuk buru-buru meneguk seluruh sisa kopi sekaligus.
“Yaa… salah sekaligus gak salah,” jawab saya berbelit sambil berusaha mengorek kenangan tentang para pembangkang yang biasanya cuma berakhir sebagai debu hitam.
“Ganyang taklid, perangi kultus!” teriak mereka dengan ingar, seolah agama baru saja ditemukan kemarin sore lewat tombol like di medsos.
Mereka lupa, yang sebenarnya terjadi hanyalah perpindahan kuadran: dari karyawan rendah hati di perusahaan orang lain, menjadi budak sombong di perusahaan miliknya sendiri.
Mereka lupa bahwa setelahnya justru lebih mati-matian menghibur diri, meyakinkan bahwa jabatan Bos Besar adalah bukti keterlepasan dari dunia karyawan.
Lupa bahwa hal itu justru menjadikannya kacung bagi karyawan perusahaannya sendiri, agar roda bisnis tetap berputar—atau sekadar bertahan.
Lupa bahwa mereka hanya bergeser dari satu taklid ke kultus lain.
Lupa bahwa yang mereka anut kini tak lebih dari takfir metodologi, bukan keilahian sejati: berbeda berarti kafir, salah berarti dosa. Titik.
Dan di tengah semua lupa itu, saya mendadak ingin tertawa getir karena sadar, barangkali saya pun sama—tak jauh beda dari mereka.
Sama-sama sibuk ingin terlihat paham, tapi lupa untuk benar-benar memahami.
“Lo dari tadi celoteh begono-begini, sebenernya mau ngomongin apa sih, Bay? Kenapa gak “to the point aja, sih…”
Hampir saja “Huaaahhh…!” panjang dan keras keluar dari mulut saya saking kagetnya. Entah kenapa, kalimat itu lagi yang muncul—seolah semua kalimat keren selain “to the point aja, sih…” tenggelam di zaman yang serba instan ini.
Dengan sedikit getar dan getir, saya ingin menjelaskan bahwa semua ini cuma tentang proses. Tentang bagaimana pengetahuan yang kita peroleh dengan susah-payah—kadang berdarah-darah—bisa menuntun pada jalan pelaksanaan, dengan penyederhanaan sebagai alat utamanya.
Sebab, sehebat apa pun teori berenang yang kita pahami, tetap tak akan membuat kita mampu mengarungi air tanpa melalui proses gejebar-gejibur dulu.
Dan sehebat apa pun ambisi kita ingin melesat seperti torpedo, tetap tak mungkin tercapai tanpa penyederhanaan gerak dan olah napas yang hakiki—yang hanya bisa lahir lewat proses pematangan, entah cepat, entah lambat.
Tapi saya urung melakukannya. Urung bertempur hikmah, urung pula menegakkan dalil.
Entah kenapa, belakangan saya merasa perdebatan sering kali hanya berubah menjadi perang gengsi yang dibungkus kostum kebenaran. Dan saya takut, kalau terus dibiarkan, saya akan kehilangan kemampuan untuk benar-benar belajar.
Maka saya memilih diam. Sebab kadang, diam adalah cara paling keras untuk berbicara—terutama kepada diri sendiri.
Saya urung melakukannya karena sadar—bahwa hidayah, cahaya, serta pencerahan, memang sejatinya hanya milik Tuhan. Milik Allah.
Dan sehebat apa pun kita berusaha, penuh busa di mulut atau peluh di sekujur tubuh, jika Allah belum menghendaki, tetap saja tak akan ada yang terjadi.
Tinggal satu cara tersisa: mengajaknya berdoa bersama.
Meminta agar Tuhan memberikan apa pun secara langsung kepada kita, tanpa harus mengajari lewat musibah ataupun keberhasilan.
Setelah itu, saya cuma ingin membentur-benturkan jidat jenong ini ke sajadah—berusaha khusyuk dalam istighfar, memohon ampun-Nya, sambil berharap semoga setelah ini tak ada lagi komen atau pertanyaan yang membuat saya larut dalam keputusasaan.
Semoga Allah to the point mengabulkannya, eh… ^_
Padepokan Bayangan-Jawa Tengah Pinggir Dikit.
[1] Quality Control (QC): proses sistematis dalam suatu perusahaan untuk menguji, memeriksa, dan memantau produk atau layanan guna memastikan produk tersebut memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan, menjaga kepuasan pelanggan, serta meminimalkan cacat produksi sebelum produk sampai ke pasar.










Satu Komentar
Cakep pemikirannya