Beranda / Topik / Wisata / 17. Getar Yang Hadir Kembali

17. Getar Yang Hadir Kembali

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
1
This entry is part 18 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Setelah semalam hujan lebat yang membuat kami tidur nyenyak hingga nyaris terlewatkan salat subuh, akhirnya kami bisa kembali menyiapkan diri untuk perjalanan hari ini.

Meski sebenarnya aku belum punya rencana hendak kemana, tapi Elaine mengusulkan untuk menikmati pemandangan pegunungan.

Tiba-tiba aku mendapat ide untuk mengajak Elaine sarapan di satu tempat yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Aku yakin Elaine akan menyukai suasana dan masakannya.

“Kita mau sarapan di rumah, atau di perjalanan?” tanya Elaine.

“Aku kesiangan, sarapan di perjalanan boleh juga,” jawabku.

Tak butuh waktu lama, mobil sudah meluncur di jalan. Sisa-sisa kabut masih enggan pergi, cuaca dingin mengepung rapat. Mungkin itulah kenapa kata Magelang sering diplesetkan artinya menjadi “Magele wes ilang”. Magel dalam bahasa Jawa artinya malas. Jadi Magelang berarti malasnya sudah hilang. Tapi itu hanya candaan, bukan arti yang sebenarnya. Membayangkan suasana pagi yang basah dengan suhu berkisar 20° memang membuat orang malas beranjak dari tempat tidur. 

Mobil mulai memasuki Dusun Karang Wetan, Desa Pucang, Kecamatan Secang. Sebagian rumah warga masih tertutup rapat, meski penghuninya sudah mulai beraktivitas di dalamnya. Akhirnya sampai juga di sebuah rumah berdinding kayu dengan bangunan khas Jawa.

“Tempat apa ini?” tanya Elaine penasaran.

“Kita akan sarapan di sini,” jawabku sambil turun dari mobil.

“Di rumah orang?” tanya Elaine lagi, alisnya bertaut tanda keheranan. Warung makan yang viral ini memang hanya berupa rumah biasa, teramat sederhana, tanpa banner ataupun tulisan sebagai penandanya seperti warung makan pada umumnya.

“Yup, kita masuk! Kamu suka masakan khas Jawa, kan?” Aku berjalan mendahului memasuki ruangan yang merupakan warung makan tersebut.

“Ini warung kluban Bu Bandi atau juga dikenal sebagai Mbah Bandi. Warung sarapan legendaris yang terkenal dengan kluban-nya yang mantap dan dimasak dengan kayu bakar.

“Kluban itu apa?” tanya Elaine sambil mengamati beragam lauk dan sayur yang tersedia dalam panci-panci berukuran besar.

“Kluban adalah makanan tradisional dari Jawa Tengah, terutama Magelang dan Semarang.  Kluban merupakan nasi dicampur dengan sayuran rebus seperti kangkung, daun singkong, kacang panjang, bayam, taoge dan masih banyak lagi. Diberi bumbu kelapa parut, dan sering disajikan dengan lauk pauk seperti ikan asin, tempe, atau telur goreng.” Aku menyerahkan sepiring nasi lengkap dengan kluban dan telur mata sapi.

“Ini kelapa?” tanya Elaine sambil menunjuk parutan kelapa di atas aneka sayuran di piring.

“Itu bumbu kelapa. Kelapa yang diparut dan dibumbui dengan rempah-rempah seperti bawang putih, cabai, kencur, terasi, dan gula merah.”

Elaine memasukkan satu sendok penuh nasi beserta potongan sayur berbumbu kelapa, mengunyahnya pelahan, merasakan sensasi rasa unik dan khas yang baru pertama kali dikecapnya, “Enak. Aku suka bumbunya.”

“Semua menu andalan di sini  dimasak dengan kayu bakar, itu yang memberikan cita rasa otentik dan mantap.” Aku menambahkan beberapa sendok ayam suwir, salah satu menu terlaris di warung Mbah Bandi selain sambal teri, tumis daun pepaya, dan sayur krecek.

Elaine begitu menikmati sarapannya, bahkan gadis yang mengaku napsu makannya meningkat jika mengingat mantan pacarnya itu sampai nambah dua porsi. Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

“Kenapa kemarin Maman tidak mengajak makan di sini?” protes Elaine dengan mulut penuh.

“Telan dulu makananmu!” tegurku.

Elaine menutup mulut, mengunyah tergesa lalu menelan makanannya dengan cepat, “Maaf.”

“Warung ini cuma buka setiap hari dari pagi sekitar pukul 06.00-09.00.”

“Sayang sekali, padahal makanannya enak,” keluh Elaine kecewa.

“Justru karena enak, maka orang harus berlomba untuk mendapatkannya.”

Kami mengakhiri acara sarapan pagi ini setelah membayar nominal yang menurutku terlalu murah untuk 3 porsi nasi kluban dengan lauk telur dan ayam masing-masing dobel. Senyum Mbah Bandi yang sudah berumur 78 tahun merekah lebar saat kami berpamitan. Senyum yang selalu buat orang ikut tersenyum saat makan di warung kluban ini dan menjadi salah satu momen yang tidak bisa terlupakan.

Aku mencoba menghidupkan mesin mobil beberapa kali, tapi tetap tidak mau menyala. Ada apa dengan kuda tua ini? Sedikit panik, tapi masih berusaha tenang karena aku tidak mau Elaine ikut panik.

“Ada masalah?” Sebuah suara yang sangat kukenal terdengar sangat dekat di telinga. Aku mengejang seketika, lutut dan semua persendian lemas seperti dilolosi tulangnya. Ketukan di jendela membuatku tak punya pilihan. Kuturunkan kaca dengan perasaan yang entah. Seulas senyum yang tak pernah kehilangan hangatnya menyapa. Aku hanya membalas dengan tarikan kecil di sudut bibir.

“Kenapa mobilnya?” tanyanya lagi. Kali ini tangannya bergerak cepat membuka pintu mobil. Aku memundurkan badan menghindari bersentuhan.

“Maaf, bisa keluar sebentar? Biar aku cek,” ujarnya. Aku mengembuskan napas, turun pelahan dan memberi celah pada laki-laki itu untuk mengecek mobilku. Aku duduk terpaku di akar pohon tua, meredam debaran di dada yang berdentum seperti genderang perang. Kenapa harus bertemu lagi dengannya? Justru di saat genting seperti ini?

Laki-laki berperawakan sedang itu terlihat sibuk mengutak-atik mesin mobil. Jika mengumpat tidak dosa, rasanya aku ingin mengeluarkan semua serapah isi kebun binatang. Tapi itu tidak mungkin kulakukan, malu, dan aku juga tidak ingin kehilangan kesan adab yang baik.

“Sepertinya ada masalah dengan mesinnya,” ucap laki-laki itu. Aku bergeming dengan kepala tertunduk.

“Maaf aku nggak bisa memperbaikinya. Bagaimana jika meminta bantuan orang untuk membawanya ke bengKel?” saran laki-laki itu.

Aku masih bergeming, tak punya pilihan.

“Mas punya teman, jika Adek setuju akan mas panggil sekarang,” ujarnya lagi. Perih, sakit, sekaligus tersanjung. Cara dia memanggilku dan menyebut dirinya sendiri masih tetap sama, dengan nada dan kelembutan yang juga tidak berubah sedikitpun.

Allah, jangan biarkan rasa yang susah payah kumatikan paksa ini tumbuh kembali. Mungkin cinta dan semua yang Bhaskoro miliki tidak berubah, tapi aku tidak mau terluka lagi. Akan ada hati yang lain yang sama terlukanya.

“Maman, Est-ce que ça va?” Elaine mendekat dengan tatapan cemas

“Je vais bien,” jawabku sambil membuang muka, mengusap kasar kristal bening yang meluncur dari sudut mata tanpa permisi. Aku tidak mau terlihat cengeng di hadapan Bhaskoro. Laki-laki yang kisahnya tak pernah selesai, meski aku telah menutup lembaran terakhirnya.

“Bagaimana? Apa mau dipanggilkan tukang bengkel?” Bhaskoro mengulang pertanyaannya. Sejak tadi tatapannya tidak bergeser membuatku semakin sesak napas.

“Aku setuju,” jawab Elaine cepat. Aku mendelik protes. Elaine hanya nyengir.

“Monsieur Bhaskoro veut juste aider,” kilah Elaine membela diri. Aku mengembuskan napas. Elaine benar, laki-laki dari masa lalu itu hanya Ingin membantu.

Bhaskoro segera menghubungi seseorang, berbicara serius, sesekali mengangguk-angguk, sesekali tangan menunjuk pada mobilku.

“Mobil Adek akan diambil teman nanti siang,” ujar Bhaskoro setelah menutup panggilan teleponnya. Aku hanya mengangguk, bahkan untuk mengucap terima kasih pun mulutku seperti terkunci.

“Sebenarnya ini mau kemana?” tanya Bhaskoro lagi.

“Entah, sepertinya Maman juga belum punya tujuan. Tapi aku ingin jalan-jalan ke gunung.” Elaine menjawab tanpa rasa bersalah. Ah, anak ini … seandainya dia tahu saat ini aku seperti berperang meredam dentum jantungku yang makin tak patuh pada ritmenya.

“Saya hendak ke Grabag, ke makam wali. Mau ikut?” Bhaskoro menawarkan.

“Boleh ya, Maman?” rengek Elaine sambil bergayut manja.

“Sambil menunggu mobil diperbaiki, jalan-jalan ke lereng Gunung Andong,” ujar Bhaskoro. Entah kenapa, tiba-tiba aku seperti kerbau dicocok hidung. Menurut ketika Bhaskoro membukakan pintu mobilnya untukku. Elaine melompat naik di belakang dengan girang. Wajah putih kemerahan itu begitu ceria. Aku tidak tega juga mengecewakannya.

Mobil pelahan merayap membelah jalanan pegunungan  yang berliku, aku hanya duduk mematung di samping laki-laki yang hingga kini masih sering kurindukan diam-diam.

***

Note :

Monsieur Bhaskoro veut juste aider: Tuan Bhaskoro hanya ingin membantu.

The Hidden Site of Tuin van Java

6. Prasasti Tukmas dari Lereng Merbabu 8. Makam Wali di Kaki Gunung Andong

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *