Elaine yang belum terbiasa mendaki gunung, langsung tertidur kelelahan setelah menghabiskan semangkuk penuh mie instans rebus ditambah dua telur mata sapi. Kadang aku heran dengan selera makan gadis bule ini, meski bermata biru dengan rambut blonde khas Eropa, tapi soal makanan tak pernah pilih-pilih, dan anehnya dia tidak pernah merasa takut gemuk seperti gadis-gadis seusianya.
Aku duduk sendiri memandang gunung yang berhadapan dengan gunung Andong. Bagi warga Magelang dan sekitarnya, pasti mengenal betul Gunung Telomoyo yang terletak di Desa Pandean, Kecamatan Ngablak. Gunung yang memiliki ketinggian 1.894 mdpl ini merupakan gunung api yang berbentuk stratovolcano atau kerucut. Namun, meski hampir tidak pernah meletus, gunung ini merupakan gunung yang memiliki sejarah vulkanisme yang hebat.
Berdasarkan data Wikipedia yang pernah kubaca, Gunung Telomoyo terbentuk dari letusan gunung kuno Soropati yang telah mengalami erosi hebat pada jutaan tahun yang lalu. Erosi ini kemudian membentuk beberapa topografi unik di wilayah Jawa Tengah yaitu Gunung Telomoyo, Gunung Batok, dan Gunung Andong.
Simbolisme budaya nama “Telomoyo” sendiri memiliki makna mendalam dalam budaya Jawa. Secara etimologis, “Telo” berarti tiga dan “Moyo” berarti bulan. Hal ini melambangkan pentingnya pelestarian alam serta hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya.
“Maman, bolehkah aku naik Telomoyo?” Entah sejak kapan berada di sampingku, tapi pertanyaan gadis yang beberapa saat lalu masih tidur nyenyak ini sukses membuatku terkejut.
“Kalian …?” tanyaku sambil menunjuk Elaine dan Ran bergantian. Keduanya mengangguk bersamaan.
“Kita pergi bersama-sama.” Bhaskoro menyeletuk tiba-tiba. Aku mengerutkan kening, heran … nggak Elaine, nggak Bhaskoro, hobi banget muncul tiba-tiba dan membuatku terkejut.
“Pada hari libur, Gunung Telomoyo ramai dikunjungi wisatawan yang sekadar ingin menikmati keindahan puncak di atas awan. Jika datang pada saat cuaca cerah seperti sekarang, saat berada di puncak dapat melihat pemandangan tujuh gunung sekaligus yaitu Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Ungaran , Gunung Andong, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Prau.”
“Wow, amazing. Kita … jalan?” tanya Elaine antusias.
“Tidak,” jawab Bhaskoro cepat.
“Lalu bagaimana sampai ke puncak?” Elaine bertanya keheranan.
“Jalur ke puncak Gunung Telomoyo dapat didaki menggunakan kendaraan bermotor, tapi kendaraan roda empat tidak diperbolehkan menuju puncak karena jalurnya yang sempit dengan tanjakan serta turunan yang curam. Bagi wisatawan yang datang berombongan, tersedia armara Jeep untuk menuju ke puncak gunung Telomoyo.”
“Wah, asik. kita berangkat sekarang?” Elaine bergegas berdiri, mengemas barang-barang dan membopongnya. Tumben, tidak meminta Ran membawakan.
Aku hanya menggeleng-geleng kepala, anak ini seperti tidak kenal lelah jika ada maunya. Bhaskoro menepuk bahuku, sambil tersenyum.
Hanya memakan waktu singkat untuk sampai di pos Dalangan. Sayangnya di kalangan para pendaki, gunung Telomoyo tidak begitu menarik untuk dijadikan destinasi pendakian. Alasannya karena untuk mencapai puncak gunung ini, bahkan bisa dilakukan dengan mengendarai sepeda motor. Ada sebuah jalan aspal dari kaki gunung hingga ke puncak yang membuat aksesnya terasa sangat mudah.
Bhaskoro segera memesan Jeep, tapi justru dia tidak ikut naik. Alasannya karena Jeep hanya muat untuk tiga orang dia memilih menunggu di masjid yang ada di area pos Dalangan. Aku mengedikkan bahu, merasa nggak enak, dan bermaksud tinggal menemani Bhaskoro, tapi Elaine lebih dulu menarik tanganku dengan cepat.
Jeep mulai melaju, melewati jalan yang menanjak menuju puncak gunung yang banyak diburu kaum muda karena sangat fantastis. Memiliki Sunrise yang menawan, medan yang tidak terlalu terjal dan pemandangan yang indah sepanjang jalur pendakian, dan bisa ditempuh dalam waktu 3 hingga 5 jam tergantung kecepatan pendaki.
Menurut pengemudi Jeep yang juga merangkap sebagai pemandu, berbeda bagi para pendaki sejati Gunung Telomoyo justru jauh lebih menantang jika dibandingkan dengan Gunung Andong. Medan pendakiannya memang tidak begitu sulit, tetapi dari sisi tantangan misterinya, Gunung Telomoyo justru jauh lebih menakutkan daripada misteri gunung Andong.
“Wah, saya kira justru Telomoyo lebih mirip gunung wisata karena bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor,” seruku takjub
“Benar. Meski cukup terkenal sebagai objek wisata dan pendakian, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui bahwa Gunung Telomoyo menyimpan beberapa misteri dan cerita mistis yang melekat,” ujar pengemudi yang mengaku bernama Joyo tersebut.
“Ooo begitu.” Aku berkomentar heran sekaligus takjub. Ternyata Telomoyo menyimpan banyak misteri, jauh berbeda dari ekspektasiku yang mengira hanya gunung wisata.
“Apa saja misterinya, Kak?” Ran menimpali.
“Salah satu misteri Gunung Telomoyo adalah keberadaan beberapa makam di wilayah gunung ini. Jika mendaki gunung menggunakan sepeda motor melalui jalanan yang sudah diaspal, di punggung gunung sekitar 200 meter menjelang puncak akan menemukan sebuah bangunan makam yang terletak di sebelah kiri jalan. Tapi bukan makam ini yang dimaksud, melainkan makam yang terletak di antara dua puncak Gunung Telomoyo. Tempat tersebut menjadi semacam punggungan penghubung antara dua puncak Telomoyo dengan rimbunan hutan belantara yang lebat dan jarang dijamah oleh manusia,” ulas Joyo gamblang.
“Saya pernah membaca novel MMA Trail karangan Anton Sujarwo, beliau menulis tentang misteri Gunung Telomoyo dan menyebut bahwa punggungan ini disebut dengan Lembah Kamutih. Benar seperti itu ya, Kak?” tanya Ran.
“Itu benar. Meski diisebutkan Gunung Telomoyo adalah gunung api tipe stratovolcano, tapi kawah Gunung Telomoyo tidak eksis. Sebagai gantinya, sebuah punggungan tipis menjadi penghubung antara puncak tertinggi Telomoyo yang disebut juga dengan Puncak Pemancar menuju puncak yang lebih rendah yang disebut dengan Puncak Telomoyo.”
“Lalu makam yang dimaksud dalam novel MMA Trail ada di mana?” cecar Ran.
“Di atas punggungan inilah terdapat makam misterius, tepat di bawah gelap dan rindangnya hutan Gunung Telomoyo.” Joyo terus menjelaskan misteri setiap titik yang kita lewati. Aku hanya menyimak dengan takjub. Sementara Elaine seperti biasanya sibuk mengambil gambar.
“Meski sang penulis tidak menyebutkan siapa pemilik makam tersebut, tapi dia menggambarkan bahwa auranya sangat magis dan terasa menakutkan. Bahkan tokoh utama dalam novel MMA Trail itu diceritakan sempat mengalami mati suri saat terjatuh tak jauh dari makam misterius tersebut,” lanjut Joyo.
Menurut Joyo, jika mendaki Gunung Telomoyo melalui rute pendakian Dalangan, kurang lebih sekitar 200 meter mendekati puncak akan mendapati sebuah lintasan mendatar dengan semak belukar lebat di atas jalanan.
“Rute ini persis seperti terowongan yang disebut dalam buku MMA Trail,” sela Ran sambil menunjuk ke arah jalan gelap mirip terowongan. Kami merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduk meremang.
“Di tempat inilah diceritakan bahwa, tokoh utama cerita dihadang oleh seekor macan kumbang dengan mata menyorot laksana bola api.”
“Beneran ada macan?” Elaine memandang sekitar dengan awas
“Di Gunung Telomoyo konon masih terdapat macam kumbang, seperti halnya di gunung-gunung lain di pulau Jawa yang masih sering ditemui fenomena keberadaan macan kumbang dengan warnanya hitam gelap tertangkap camera trap, Namun, sejauh ini Telomoyo dengan akses jalan aspal hingga ke puncaknya, memang belum pernah ditemukan kasus pengunjung berpapasan dengan binatang buas.” Penjelasan Joyo membuatku sedikit lega, tapi bukan berarti tidak ada hewan buas di sisi lain Gunung Telomoyo ini, bukan?
“Tadi kita kan naik dari pos Dalangan?” Ran kembali mengingat sesuatu, “Ada kisah mistis yang paling dikenang oleh masyarakat sekitar hingga saat ini adalah kematian seluruh snggota pementasan wayang di Desa Sepayung. Benar begitu?”
“Benar sekali.” Joyo melambatkan laju Jeep yang dikemudikan. Memberi kesempatan untuk menikmati setiap titik pandang yang indah.
“Di suatu masa, kampung Sepayung mengadakan pentas seni wayang kulit dengan kru pewayang yang jumlahnya puluhan orang termasuk dalang, sinden, penabuh gamelan dan beberapa kru yang lain. Untuk membuat pertunjukkan semakin meriah, didirikanlah semacam panggung pementasan yang lokasinya tepat di kaki Gunung Telomoyo.”
“Berarti di sekitar pos Dalangan tadi, ya?” tanya Ran.
“Benar, letaknya tak jauh dari pos pendakian.” Joyo melanjutkan ceritanya.
“Beberapa saat setelah pertunjukan wayang kulit dimulai, tiba-tiba terjadi angin ribut yang membuat pohon-pohon tumbang dan dinding gunung Telomoyo longsor. Dalam peristiwa naas itu, tragisnya seluruh angota kru pewayangan itu tewas tak bersisa.”
“Innalillahi,” ujarku spontan.
“Setelah kejadian itu, desa Sepayung kemudian berganti nama menjadi Dalangan. Untuk mengingatkan mereka bahwa Dalang dan kru pewayangannya pernah mengalami nasib buruk di kampung itu. Dan hingga saat ini, pendaki yang mengambil rute pendakian melalui jalur Desa Dalangan akan menemukan beberapa makam kuno di pojok kampung yang kerapkali dianggap sebagai makam kru wayang yang tewas tersebut.”
“Sepertinya aku tadi melihatnya,” celetuk Ran.
“Ohya, dalam buku MMA Trail ada hantu pencekik yang keberadaannya di sekitar air terjun kecil, tidak jauh dari Pos I pendakian via Dalangan. Apa kita juga akan bertemu hantu pencekik?”
“Sebenarnya itu hanya kiasan. Jangan membayangkan hantu pencekik di Telomoyo seperti hantu dalam banyak film horor Indonesia yang bermuka seram, mata melolot dengan taring menjulur, dan kuku-kuku yang panjang siap mencekik leher. Hantu pencekik yang digambarkan penulis MMA Trail di air terjun Pos I sama sekali berbeda,” ujar Joyo menjelaskan. Kami semua menyimak sambil menikmati sejuknya udara pegunungan, memanjakan mata dengan pemandangan yang luar biasa indah.
“Dalam MMA Trail, dikisahkan sang tokoh utama merasa seolah tercekik oleh udara Hutan Telomoyo yang begitu pekat menjelang magrib, sehingga dia tidak bisa bernapas, seakan pengab dan gelapnya hutan membuat lehernya seperti tercekik. Yang menariknya cekikan aneh berakhir setelah tokoh utama cerita dalam buku MMA Trail digambarkan mendengar sayup-sayup kumandang azan magrib dari masjid kampung Dalangan.”
Joyo mengakhiri ceritanya saat Jeep menyentuh dataran yang merupakan puncak Telomoyo. Elaine membulatkan mata takjub saat menatap hamparan awan yang luas.
“Ini puncak?” tanya Elaine. Joyo mengangguk
“Kita berada di atas awan?” tanya ELaine lagi.
“Benar, itulah kenapa puncak Gunung Telomoyo sering disebut negeri di atas awan,” ujar Joyo.
“Jika naik ke puncak Telomoyo dan penasaran dengan keindahannya, lupakan kisah misterinya. Tapi yang harus diingat adalah tetap berhati-hati dan patuhi larangan seperti halnya mendaki gunung lainnya. Jika ingin merasakan sensasi melayang di udara dengan hamparan hijau di bawah, silakan coba bermain paralayang.”
“Wah, aku jadi ingin. Tapi … aku belum pernah,” rajuk Elaine. Aku menggelengkan kepala.
“Jika belum pernah mencoba, terlalu berisiko. Jadi cukup menikmati aja,” tandasku. Elaine nyengir dengan sepasang mata birunya membulat.
Salah satu hal menarik dari Gunung Telomoyo adalah menjadi tempat lepas landas olahraga paralayang. Menurut beberapa sumber, ketinggian gunung Telomoyo yang mencapai hampir 2.000 mdpl menjadikan Gunung Telomoyo sebagai salah satu landasan paralayang tertinggi di Indonesia.
Dengan ketinggiannya yang cukup signifikan, aktivitas bermain paralayang di Telomoyo akan sangat mengasyikkan. Menikmati keindahan alam dari ketinggian, bahkan bisa menyaksikan keindahan kabupatan Semarang, wilayah Salatiga dan wilayah Magelang ketika sedang melayang di udara. Tentu akan sangat menyenangkan berada di antara lautan awan sambil melayang, sayang saat ini cukup memandang dan menikmati saja.











