“Sebenarnya apa yang kau harap dari sebuah kejujuran, selain mengetahui kebenaran tentunya, kau hanya akan menemukan dirimu jatuh dalam jurang kekecewaan tanpa dasar. Apakah itu yang kau mau?” Aku tak menjawab. Kubiarkan saja laki-laki di depanku ini bicara panjang lebar. Aku sungguh-sungguh sedang tak selera untuk berdebat.
“Lalu apa maumu sekarang? Bagaimana kau akan menyelesaikan semuanya?” Lagi-Lagi dia bertanya, hanya sekadar melihatku bereaksi setelah apa yang baru saja kusaksikan sendiri.
Aku tau, Dion sedang menatapku, dengan pandangan mengintimidasi seolah menungguku untuk menyerah dan menyesal telah menguntit Mas Irwan.
Dari awal memang Dion yang mencegahku untuk menyelidiki sepak terjang Mas Irwan di luar sana. Entah karena empati sesama laki-laki atau memang dia termasuk orang yang enggan cari-cari masalah. Tapi yang jelas itu tak membuat rasa kesalku hilang.
“Aku akan mencari bukti lainnya.” Untuk hal ini aku benar-benar ngotot. Meski Dion berkali-kali menyebutku “keras kepala” tetapi aku tidak akan mundur.
Malam itu Mas Irwan pulang tepat waktu. Seperti biasa, makan malam kami habiskan dengan tenang, meskipun hatiku dipenuhi kekalutan yang tak terjelaskan. Bahkan kopi di hadapanku seperti ikut mengejek seberapa suram pikiranku sekarang. Dan bisa ditebak, alih-alih menyambut pelukanku di atas tempat tidur, Mas Irwan malah membelakangiku usah berkata lirih, “Jangan sekarang, aku capek.”
Tiga hari kemudian aku mengunjungi Mas Irwan di Toko Obat tempatnya memulai usaha. Dia mempekerjakan seorang karyawan yang saat ini tentu saja sedang makan siang di luar. Aku datang memang sengaja tanpa memberi tahu, maksudku sebagai kejutan.
Dengan menggunakan kunci cadangan aku berhasil masuk dengan tenang. Sayangnya di ruang penyimpanan obat itulah aku disambut pemandangan yang seketika membuat darahku membeku. Mas Irwan terlihat sedang “beradu mekanik” dengan seorang gadis muda!
Sontak kedatanganku membuyarkan kegiatan mereka. Laki-laki yang menikahiku 20 tahun yang lalu itu terlihat panik seperti ayam yang ketahuan mematuk nasi sisa di halaman, begitu juga si gadis, secepat kilat membereskan pakaiannya dan kabur ke kamar mandi.
Untuk beberapa saat kepalaku terasa kosong. Aku merasa kesulitan mencerna apa yang kulihat. Otakku seperti kehilangan kemampuan untuk berpikir.
Gadis yang kulihat tadi masih teramat muda, hampir seumuran Narisa. Seketika dadaku sesak, perutku mual. Dalam harapan dan doaku yang panjang, semoga putriku itu terhindar dari karma buruk ayahnya. Aamiin.
09.49









