Home / Fiksi / Puisi / Gurindam Doa

Gurindam Doa

Mencintaimu dengan Cara yang Paling Malu
This entry is part 6 of 9 in the series Mencintaimu dengan Cara yang Paling Malu

mengapa banyak doa kian enggan terbaca
bukankah tabiat doa selalu bergiat mengeja yang lupa



mengapa doa membisu saat bertemu sederet ragu
doa tentu cemburu, menelikung ragu dan membawanya menuju tentu

mengapa dalam doa ada saja terselip alpa
ada hati yang urung bicara, terkenang dosa yang kerap lalai diseka

mengapa doa acap kali tersesaki kata pinta
kata ingin berbagi, memberi asa secercah nyata yang hendak ada

mengapa doa mesti terucap sesungguh kata
doa tak suka diucap dusta, memaksa kata jadi khusyuk dan penuh makna

mengapa doa tak lantas rela cuma kata saja
doa rindu makna, rindu adab dan tata cara

sejak mengerti makna kata, mengapa tak sepatahpun doa kau pinta
usah tunggu pinta sempurna, doa mau kata saja, makna terikut jua

Mencintaimu dengan Cara yang Paling Malu

Diam-Diam Aku Terdiam, Oleh Cintamu yang Tak Kunjung Diam Saat Kau Terlelap

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image