Aku melajukan mobil menuju desa Sukamakmur yang terletak di lereng Gunung Sumbing. Bagi para hiker atau tektoker, tentu sudah sangat akrab dengan Gunung Sumbing, salah satu gunung api di Jawa Tengah yang memiliki puncak ketinggian 3.371 mdpl, dan merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet.
Secara administratif Gunung Sumbing terletak di tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo. Letak Gunung Sumbing berhadapan dengan Gunung Sindoro, sehingga sering disebut gunung kembar seperti halnya Merbabu dan Merapi.
Namun, meski memiliki tinggi dan kondisi alam yang hampir sama, bagi para pendaki Gunung Sumbing memiliki trek yang lebih berat daripada Gunung Sindoro. Hal tersebut dikarenakan gradien kemiringan yang terjal dan rute yang lebih panjang.
Kami berhenti sejenak di desa Sukamakmur yang terletak di ketinggian 1.726 mdpl. Hamparan sawah yang hijau dengan udara yang sejuk membuat area yang merupakan penghasil sayur ini dijuluki negeri sayur.
Setelah puas berphoto dengan berbagai gaya, Elaine tak sabar untuk melanjutkan perjalanan menuju Nepal Van Java. Salah satu jalur pendakian Gunung Sumbing yang paling disukai adalah melalui pos Butuh Kaliangkrik. Sebuah perkampungan yang berada di lereng Gunung Sumbing. Tepatnya di Dusun Butuh Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik.
“Sebelum terkenal dengan julukan Nepal Van Java, sebenarnya Dusun Butuh sudah cukup dikenal di kalangan para pendaki gunung, sebagai perkampungan yang menjadi titik awal pendakian menuju puncak Gunung Sumbing,” ujar Ran saat mobil memasuki gapura Nepal Van Java.
“Mengapa disebut Nepal Van Java?” tanya Elaine penuh rasa ingin tahu.
“Pertanyaan Elaine tepat sekali. Dusun Butuh pasti punya sejarah yang menarik. Sepertinya juga tak banyak orang yang tahu seperti apa kisah awal mula terbentuknya perkampungan ini. Dan bagaimana awal mula kampung itu hingga dijuluki Nepal Van Java?” Aku menegaskan pertanyakan Elaine.
“Tidak ada literasi yang pasti, tapi yang aku tahu, asal-usul terbentuknya Dusun Butuh hanya diceritakan masyarakat secara turun-temurun,” jawab Ran.
Kami naik menuju area spot photo yang bisa melihat semua sudut pandang. Tak lupa sepiring mendoan yang masih mengepul dan secangkir kopi menjadi teman ngobrol di tengah kabut yang menggigit.
“Konon saat itu permukiman warga masih berada di kaki gunung yang lebih rendah dari Dusun Butuh saat ini. Dusun Butuh masih berupa hutan belantara. Saat itu warga kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, hingga berjalan naik untuk mencari sumber air. Akhirnya mereka menemukan mata air di lereng gunung dan mendirikan perkampungan di sana. Tempat tersebut kemudian dinamakan “Butuh” merujuk pada kondisi mereka yang saat itu butuh air.” Ran memulai penjelasan setelah menyesap capuccino hangatnya. Sedikit tergesa karena menurutnya akan cepat dingin jika tidak segera diminum.
“Seiring berjalannya waktu, Dusun Butuh menjadi kampung yang ramai. Aktivitas perekonomian pun makin berkembang karena selalu didatangi para pendaki gunung dari berbagai daerah,” lanjutnya. Elaine mengikuti cara Ran menyesap kopi, tapi gadis itu juga menyantap mendoan hangat dengan cocolan sambal kecap yang legit.
“Lambat laun Dusun Butuh dikenal sebagai desa wisata. Keberhasilan Dusun Butuh menjadi desa wisata tak lepas dari kekompakan warganya.”
“Lalu Nepal Van Java?” potong Elaine tak sabar.
“Sabar, dong! Biiarkan Ran menghabiskan makanannya dulu,” titahku tegas. Elaine hanya cengir dengan mulut penuh.
“Adalah Lilik, kepala dusun pada masa itu, memiliki rencana untuk mengembangkan Dusun Butuh menjadi desa wisata. Secara rutin Lilik mengajak warga untuk kerja bakti membersihkan lingkungan dari sampah. Selain itu setiap kali perayaan 17 Agustus, bersama dengan warga desa menggelar lomba mengecat tembok rumah di lingkungan masing-masing. Bahkan beliau memberi modal pada tiap lingkungan berupa empat kaleng cat.” Ran menjeda penjelasannya, menyesap habis capuccino hingga tak bersisa. Namun, dia menolak ketika aku menawarkan untuk memesan lagi
“Dengan adanya lomba itu, lingkungan rumah di Dusun Butuh semakin berwarna. Hingga pada tahun 2018, Lilik meminta sekelompok mahasiswa yang melakukan KKN di dusun Butuh untuk membuat program kerja berupa menggambar mural grafiti, juga pengadaan bak sampah. Total ada sembilan bak sampah baru yang disediakan untuk warga. Harapannya dengan adanya bak sampah tersebut warga tidak lagi membuang sampah ke sungai.”
“Wah, bagus juga idenya,” puji Elaine.
“Lilik juga mengirim photo-photo kegiatan warga ke beberapa teman wartawan yang pernah meliput soal pendakian di sini. Tujuannya adalah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kebersihan dan keramahan, karena itu jadi kunci pokok sapta wisata. Dan siapa sangka dalam tulisannya wartawan tersebut menyematkan nama Nepal Van Java. Menurutnya deretan rumah warga dengan cat aneka warna, dan berada di lereng gunung, menyerupai perkampungan di daerah Nepal India. Hingga kini Nepal Van Java menjadi daerah wisata yang ramai dikunjungi masyarakat Magelang dan sekitarnya,” pungkas Ran.
Beberapa anak muda dengan motor gede masuk berombongan. Rupanya mereka adalah para penyedia jasa mengantar pengunjung. Jika tidak membawa motor sendiri atau yang tidak yakin dengan trak yang ekstrim, bisa menyewa jasa joki motor dari basecamp negeri sayur Sukamakmur menuju Nepal Van Java.
Salah satu dari mereka menawarkan bantuan untuk mengambil video. Elaine dan Ran pun tak melewatkan kesempatan, berpose dengan berbagai gaya dengan latar belakang lereng yang berwarna-warni.
“Mas … asli sini?” tanyaku pada pemuda yang menurutku masih berusia belasan tahun, tapi sangat lihai mengendalikan medan yang cukup ekstrim dengan motor gedenya.
“Iya, Kak,” jawabnya sambil mengangguk sopan.
“Brarti mengenal dengan baik jalur pendakian menuju puncak Gunung Sumbing, ya?” tanyaku sekadar basa basi.
“Iya, Kak. Sebelum Nepal Van Java menjadi jalur pendakian menuju puncak dan terkenal seperti sekarang, jalur Dusun Butuh lebih dulu digunakan sebagai jalur pendakian,” jawab laki-laki yang memperkenalkan diri bernama Wilo.
“Kakak mau naik?” tanya Wilo, aku menggeleng sambil tersenyum.
“Mungkin mau ke petilasan Ki Ageng Makukuhan?” tanyanya lagi.
“Petilasan? Ada, ya?” tanyaku terkejut. Jujur belum pernah dengar ada petilasan di puncak Gunung Sumbing.
“Iya, Kak. Jika ingin berziarah, kebanyakan orang lewati jalur via Dusun Butuh. Saya bisa antar.” Wilo menawarkan
“Memangnya siapak Ki Ageng Makukuhan? Mengapa makamnya berada di puncak Gunung Sumbing?” cecarku
“Memangnya Kakak belum tahu?” Wilo balik bertanya. Aku menggeleng, Elaine dan Ran ikut mendekat.
“Ki Ageng Makukuhan memiliki nama asli Ma Kuw Kwan, beliau adalah keturunan Cina, dan merupakan murid dari Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Ki Ageng Makukuhan merupakan salah satu dari sembilan santri Sunan Kudus yang memiliki ilmu tinggi.” Wilo menjelaskan.
“Selain Ilmu agama, Ki Ageng Makukuhan juga belajar cara bercocok tanam, ilmu kanuragan, termasuk ilmu untuk terbang pada Sunan Kalijaga. Setelah dirasa cukup ilmu yang diberikan, Sunan Kalijaga kemudian memberi tugas untuk menyebarkan agama Islam di daerah Kedu dan Temanggung.”
“Jadi Ma Kuw Kwan temasuk murid Sunan Kalijaga juga?” sela Ran.
“Benar, Ki Ageng Makukuhan menyebarkan agama Islam di daerah Kedu dengan media pertanian. Beliau tidak segan melakukan salat di tengah sawah. Ternyata saat panen, hasil panen Ki Ageng Makukuhan lebih berkualitas dan bagus. Tentu saja hal ini membuat masyarakat penasaran dan meniru apa yang dilakukan Ki Ageng Makukuhan, yakni salat. Dari peristiwa tersebut, banyak masyarakat setempat yang awalnya hanya menganut paham kepercayaan, akhirnya memeluk agama Islam.”
“Masya Allah.”
“Kemudian, Sunan Kudus dengan ilmu yang dimiliknya menjatuhkan rigen, yaitu anyaman bambu yang tidak terlalu rapat dan berbentuk persegi panjang di lereng Gunung Sumbing. Lokasi jatuhnya rigen ini ternyata menjadi tempat yang sangat cocok untuk menanam tembakau. Ki Ageng Makukuhan pun mulai mengenalkan tanaman tembakau kepada masyarakat sekitar. Lagi-lagi panenan tembakau Ki Ageng Makukuhan yang kemudian dikenal dengan nama tembaau srintil, memiliki kualitas dan rasa yang sangat istimewa bagi para penikmatnya.”
“Wah, saya tahu itu tembakau srintil.” celetuk Ran.
“Cara Ki Ageng Makukuhan yang santun dan memberikan manfaat langsung, membuat banyak warga yang bersimpati dan mengikuti ajaran beliau. Dalam waktu singkat nama Ki Ageng Makukuhan makin disegani sebagai pemimpin agama yang juga mengajarkan pertanian sehingga mendapatkan banyak pengikut dan mendapat julukan Ki Ageng Kedu.”
“Sepertinya nama asli beliau Ki Ageng Ma Kuw Kwan, tidak bisa diucapkan dengan benar oleh lidah orang Jawa, sehingga lebih mudah menyebutnya dengan Ki Ageng Makukuhan.” Ran menyimpulkan.
“Benar banget, Kak.” Wilo tertawa mendengar kesimpulan Ran.
“Beliau meninggal dan dimakamkan di puncak Gunung Sumbing. Gimana? Mau ke puncak?” tanya Wilo menawarkan.
“Hmmm, kayaknya lain kali, deh,” tolakku halus. Elaine mengangguk mantap.
“Oya, Kak. Dari beberapa legenda tentang Gunung Sumbing, juga ada cerita bahwa di lereng Gunung Sumbing terdapat sumber air panas yang memiliki kandungan garam cukup tinggi. Legenda ini yang akhirnya menjadi asal mula Gunung Sumbing berasal dari kata “sam” yang berarti air dan “bing” yang berarti asin. Sehingga nama Sumbing bermakna air asin.” Wilo menambahkan.
“Benarkah? Sepertinya menarik. Lain waktu kita harus ke puncak,” ujar Elaine sambil bergelayut di lenganku.
“Ok, lain kali,” jawabku.
Setelah mengucap terima kasih pada Wilo, kami bergegas turun menuju tempat parkir untuk melanjutkan perjalanan.










