Home / Genre / Fiksi Sejarah / 14. Kursi Kesultanan Memanas

14. Kursi Kesultanan Memanas

Muhammad al-Fatih
This entry is part 16 of 20 in the series Muhammad al-Fatih
Dalam situasi penuh ketegangan, Mara Hatun membutuhkan dukungan penuh agar Mehmed naik tahta. Maka ia menulis surat undangan kepada Evrenosğlu Ali Bey untuk hadir ke istana, dan memberikan pendapat bahwasanya Mehmed-lah yang pantas untuk naik tahta. Di sisi lain Istana Kesultanan Utsmani, İshak Pasha menemui Halime Hatun, dan menceritakan keresahannya. Ternyata, gayung bersambut. Halime Hatun pun memiliki ambisi kuat agar anaknya, Şehzade Ahmed yang belum cukup umur untuk naik tahta. Maka, akhirnya mereka berkolaborasi.

“Aku sudah menemui Daye Hatun, dan menceritakan semuanya. Ia pun setuju untuk mendukung Şehzade Ahmed naik tahta, serta akan membantu kita.” Kata İshak Pasha.

“Bagus, sangat bagus. Aku telah menerima surat dari Mara Hatun agar mendukung Mehmed. Akan tetapi, setelah menerima surat itu, aku pun merasa terganggu.” Jawab Halime Hatun.

“Baiklah, Halime Hatun. Kita akan bergerak melalui Daye Hatun terlebih dahulu.”

Halime Hatun, hanya mengangguk.

Dengan hadirnya Şehzade Ahmed sebagai kandidat Sultan Utsmani, ini akan menjadi permasalahan tersendiri. Sebab, akan memecah persaingan, antara Şehzade Mehmed, dengan Orhan Çelebi dalam perebutan tahta.

Kursi kekuasaan pun semakin panas.

Sementara, kedua belah pihak—Şehzade Mehmed dengan pasukan kecilnya sudah bergerak menuju Edirne, begitu pun Orhan Çelebi dengan dukungan Çandarlı Halil Pasha, dan pasukan pendukung dari Kaisar Konstantinos XI Palaiologos siap untuk menjegal Şehzade Mehmed di tengah jalan.

Orhan Çelebi, membuat markas kecil berupa tenda di sebuah hutan yang menuju ke Edirne tepat di bawah bukit, sehingga posisi markas tidak akan diketahui oleh siapapun. Orhan Çelebi sangat yakin bahwa Şehzade Mehmed akan melewati jalur ini. Maka, sambil menunggu pasukan dari Suku Çandar, ia melakukan strategi pencegatan disana. Beberapa pasukan pendukung yang sudah ada disebar di balik semak-semak dengan posisi siap menyerang.

Şehzade Mehmed, berjalan menuju Edirne melalui jalan itu. Ia tidak mengetahui akan ada penyergapan yang sudah dipersiapkan oleh Orhan Çelebi. Şehzade Mehmed, memacu kudanya dengan kencang tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Di istana, İshak Pasha, dan Halime Hatun bersekongkol melakukan berbagai cara agar Şehzade Ahmed naik tahta. Mereka berdua pergi menemui Çandarlı Halil Pasha untuk meminta dukungan, dan memberikan pandangan.

Sesampainya di kediaman Çandarlı Halil Pasha, İshak Pasha memulai percakapan.

“Halil Pasha, aku datang kesini untuk memberitahu kepadamu, baik Şehzade Mehmed, maupun Orhan Çelebi yang naik tahta, nasib kita akan sama-sama terancam.”

“Terancam bagaimana, İshak?” Tanya Çandarlı Halil Pasha.

“Şehzade Mehmed, sudah jelas punya konflik dengan kita di masa lalu pada saat ia diturunkan oleh Sultan Murad Han. Sementara Orhan Çelebi membahayakan Kesultanan Utsmani, karena terlalu bergantung pada Kaisar Konstantinos. Begitulah yang aku ketahui Çandarlı Halil Pasha.” Jawab İshak Pasha.

Wazir Agung Kesultanan Utsmani pun tertegun sejenak. Ia berpikir bimbang—yang menurutnya kebenaran yang disampaikan oleh İshak Pasha, dengan keterlanjurannya mendukung Orhan Çelebi.

Maka, ia pun mengatur siasat di dalam istana.

Çandarlı Halil Pasha menyembunyikan Halime Hatun, dan Şehzade Ahmed disalah satu rumah miliknya di Edirne. Dengan bantuan Daye Hatun, mereka pergi menuju rumah milik Çandarlı Halil Pasha dengan menyamar agar tidak ada yang tahu. Setelah itu, ia mengumpulkan para pasha di kediamannya, tanpa melibatkan Zağanos Pasha, dan Şahabettin Pasha yang sudah kembali bertugas.

Dengan hak kekuatan wewenangnya sebagai Wazir Agung, Çandarlı Halil Pasha menggiring para pasha untuk mendukung Şehzade Ahmed agar naik tahta. Ia tidak memberikan pilihan kepada para pasha untuk memilih yang lain. Sebab, apabila para pasha tidak memilih Şehzade Ahmed, dengan bahasa yang halus, dan diplomatis, Çandarlı Halil Pasha sedikit mengungkit kebaikannya kepada mereka—yang membuat mereka tak bisa berkutik, dan merasa berhutang. Diketahui, Çandarlı Halil Pasha memang rajin membantu banyak orang, termasuk orang-orang yang berada di istana. Tujuannya adalah untuk mengikat mereka—meski pada dasarnya, sikap memberi menjadi kebiasaan bagi Çandarlı Halil Pasha.

Meski demikian, Çandarlı Halil Pasha membiarkan pasukan dari Suku Çandar pergi untuk mendukung Orhan Çelebi. Namun, dengan siasat politiknya, Çandarlı Halil Pasha menunjuk Halil Şahbaz Bey sebagai pimpinan pasukannya. Jika menang, Çandarlı Halil Pasha akan mendapatkan prestise dari Halil Şahbaz Bey, namun apabila kalah, nama Çandarlı Halil Pasha akan bersih dihadapan Şehzade Mehmed. Sebab, dirinya mengakui bahwa Şehzade Mehmed adalah Şehzade yang kuat. Hanya saja perbedaan pandangan yang mencolok tentang kepengurusan negara yang membuat Çandarlı Halil Pasha tidak mendukung Şehzade Mehmed untuk naik tahta.

Di bukit itu, telah tiba Şehzade Mehmed dengan pasukan kecilnya. Mereka tidak mengetahui bahaya sedang mengintai. Tanpa basa-basi lagi, Orhan Çelebi memerintahkan pasukan Kaisar Konstantinos untuk memanah. Beberapa pasukan Şehzade Mehmed terkena anak panah.


“Penyergapan! Lindungi Şehzade!” Kata salah seorang pasukan.

Mereka pun membuat formasi pertahanan. Setelah itu, muncul ‘lah Orhan Çelebi dengan sikap arogan, seolah kemenangan sudah didepan matanya. Tanpa panjang lebar, Orhan Çelebi menyerang Şehzade Mehmed dengan jumlah pasukan banyak. Sementara Şehzade Mehmed bertahan dengan pasukan kecil.

Pertempuran yang tak seimbang pun berlangsung cukup singkat. Şehzade Mehmed, dan tiga pasukan yang tersisa dalam keadaan terpojok. Sayangnya, ketiga pasukan tak mampu berbuat banyak, mereka mati ditebas berkali-kali, dan Şehzade Mehmed pun tergeletak tak berdaya, karena tubuhnya ditebas dua kali oleh Orhan Çelebi. Tak hanya itu, Orhan Çelebi menusuk Şehzade Mehmed di bagian iga kiri hingga tak sadarkan diri.

Orhan Çelebi menatap Edirne dengan penuh kemenangan. “Tak lama lagi, tahta akan menjadi milikku.”

Muhammad al-Fatih

3. Perebutan Tahta 5. Penentuan “Siapakah yang Akan Naik Tahta?”

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image