Desing peluru, bom, telah luluh lantakkan tanah
Negeri para nabi, negeri indah bak nirwana dunia
kini porakporanda oleh nista durjana dan angkara
Berabad-abad di sana
tanah yang diberkahi. Bertaman Tin dan Zaitun dari surga
tertulis indah di sana; Palestina
Kebaikan yang dibalas kebencian
penghancuran bahkan pembinasaan
Biadab! Sungguh biadab!
Kaum penjajah bersorai di atas derita. Wajah-wajah tak berdosa begitu sengsara. Tiada lagi harapan. Yang ada hanya; hidup atau mati di tanah air tercinta. Negeri Para Nabi yang diberkahi.
Tanah para nabi dibanjiri air mata darah
Kini rata dengan tanah. Keindahan itu kian sirna bersama pekik “Allaahu Akbar” para syuhada
Wahai syuhada …
Iman kami tak sepertimu
Iman kami masih sangatlah tipis dibanding engkau insan-insan pilihan
Wahai kekasih-kekasih Allah
Kami belum bisa sepertimu; bahkan mungkin tak bisa
Wahai jiwa-jiwa pilihan; iman kami kadang goyah
Namun kau ajarkan kami mencinta dengan sebenar cinta
Ikhlas dalam keterbatasan. Tak pupus oleh harapan yang
tak sesuai kenyataan.
Wahai jiwa-jiwa pilihan …
Negeri ini adalah pilihan, pun jiwa-jiwa yang membersamai
Menuju haribaan Ilahi; kami ingin sepertimu
Menjadi jiwa-jiwa bersih; menuju surgaNya
Negeri indah di sana bersama para syuhada
Temanggung, 29 Oktober 2025, 14.00












Satu Komentar
T_T