Renungan Awal Tahun: Bekal untuk Perjalanan 2026, Apa Saja Perlu Kita Bawa? (Bagian Pertama)
Apabila mendengar kata ‘bekal’, apa terlintas dalam benak kita? Bekal tidak selalu berupa persediaan makanan-minuman untuk dikonsumsi dalam perjalanan atau untuk dinikmati saat istirahat di sekolah/tempat kerja. Berikut ini beberapa jenis bekal ‘lama tapi baru’ yang sebaiknya kita renungkan bersama-sama. Bawalah ke manapun kita pergi, jadikanlah pegangan dalam menghadapi hari-hari sulit dalam tahun baru 2026 yang masih penuh tanda tanya ketidakpastian ini.
- Merasa diri sedang bertarung? Setiap orang punya ‘pertarungan’ mereka sendiri (ungkapannya dalam Bahasa Inggris:Everybody is fighting their own battles). Pertarungan di sini berbicara soal pergumulan hidup yang tidak melulu soal pekerjaan atau bahkan pergaulan. Mungkin tentang sakit-penyakit, masa lalu yang belum selesai, hubungan keluarga kurang harmonis, atau hal-hal lainnya.
‘Pertarungan’ orang lain mungkin terlihat mudah di mata kita, sedangkan ‘pertarungan’ sendiri terasa begitu sukar. Izinkan saya mencontohkannya dengan pekerjaan/jobdesc yang berbeda-beda di sebuah kantor. Seseorang berpendapat, ah, kerjaan dia ‘mah gampang, comfortable, enak. Kerjaan saya jauh lebih susah, capek, berat. Si pembicara lantas rentan iri hati, merasa diperlakukan kurang adil, sering mengeluh dan membicarakan dari belakang secara negatif. Tunggu dulu. Setiap orang memiliki bakat, dipinjamkan Tuhan satu-dua talenta dan bagiannya masing-masing. Ada pekerjaan yang tampak ringan-nyaman, apalagi duduk di kursi empuk dalam ruangan ber-AC. Ada yang harus rela berpanas-panas ria di ruangan semi outdoor. Apakah yang di ruangan berpendingin udara Anda anggap lebih beruntung daripada yang panas-panasan? Pekerjaan yang menuntut skill dan kerja otak belum tentu lebih leha-leha daripada kerja fisik. Misalnya pencarian ide kreatif dan olah inspirasi hingga keputusan besar dan jangka panjang harus dihasilkan. Tuntutan tugas dan tanggungjawabnya juga berbeda-beda. Apakah satu sama lain siap bertukar tempat? Belum tentu. Hargailah para petarung lain, syukurilah dan jalankan saja bagian masing-masing. Berjuanglah semampunya di jalan-jalan berbeda yang ditentukan Tuhan bagi kita. - Berikut ini cuplikan plus hasil olah inspirasi dari siraman rohani yang penulis terima baru-baru ini. Semua orang sering merasa ‘tidak punya waktu’ atau ‘tidak ada cukup waktu’, padahal semua orang dibekali satu hari yang sama, 24 jam yang sama. Orang terkaya sedunia sekalipun tak ada yang bisa menambahkan satu detik, apalagi satu jam, ke dalam sebuah hari. Kita sering beralasan klise seperti ‘waktu saya gak cukup, jadi saya gak bisa olahraga, akhirnya lemak numpuk deh!’ Padahal sebenarnya kita bisa mengakali kekurangan waktu olahraga itu dengan naik sepeda atau berjalan kaki pergi-pulang kerja selama sekian belas menit sambil mengirit biaya perjalanan. Seorang guru kursus saya zaman abege pernah berkata, “Manusia mengatur waktu, bukan waktu mengatur manusia.” Pergunakan waktu 24 jam kita masing-masing dengan bijak; beristirahat jiwa-raga (tidur), bekerja, dan waktu luang/lain-lainnya (leisure time) secara seimbang.
- Waspadailah jebakan terlalu sering memberikan diri Anda self reward. Self love (seni menghargai dan mencintai diri sendiri) tidak berarti harus sering memanjakan diri dengan self reward. Seringkali kita kalap membeli apa saja demi menghargai diri sendiri tanpa memperhitungkan apakah kita benar-benar menginginkan atau memerlukannya. Misalnya sedikit-sedikit jajan kuliner enak-viral atau membeli barang diskon di flash sale. Akibatnya beragam, misalnya keuangan ‘bobol’ hingga dampak-dampak negatif pada kesehatan kita. Bukannya tidak boleh memberi diri hadiah kecil, akan tetapi pertimbangkanlah dahulu; apakah saya nanti masih punya cukup uang setelah membeli barang ini? Apakah saya pernah mencicipi makanan/minuman seperti ini, jika ya, perlukah saya saat ini makan/minum ini? Apabila bisa, seleksi dan tundalah beberapa keinginan-keinginan kecil tersebut sebelum telanjur melaksanakan lalu menyesal kemudian. Uang bisa dicari lagi, kesehatan tak bisa dibeli.
(Bersambung ke https://kompako.web.id/2026/01/06/renungan-awal-tahun-bekal-untuk-perjalanan-2026-apa-saja-perlu-kita-bawa-part-2/)









