saat kau terlelap
aku bermandikan sunyi yang pedih
dan menyakitkan
air mata kini tak lagi punya hati
saat kau terlelap
hidungku tak lagi tajam
membaui aroma
kehidupan, yang penuh dengan sketsa
ketidakberdayaan
dan saat kau terlelap, aku
tak mampu lagi untuk tidak bergerak
dalam detak dan bercak
yang penuh oleh darah
kenistaan adalah kini
tatkala angan, yang hanya begitu saja
memaksaku untuk melacurkan semua
sementara moral
sudah jauh-jauh hari menguap
dalam retorika ketinggian manusia
yang kini, tak lagi punya harga
tapi engkau tetap terlelap
dan desah napasmu yang teratur
seakan membisiku, tentang
sebuah keabadian cinta
dalam dunia yang tak pernah mampu
untuk kucumbu
karena
saat kau terlelap, aku pun
turut terlelap
di sisimu, dalam irama kebusukan hidup
-
Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.
Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.
Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.
Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, <em>ghost writer</em>, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis <em>online</em> lintas negara.