apa yang paling kuyup dari hujan?
kenangannya, ucapmu
membuatku tercenung saat pagi merenggut kita
dari sepenggal kisah tentang lalat cinta
tapi hujan baru lagi menghampiri
di sudut paling tepi dari puisiku yang sunyi
kukuhmu, seakan hujan hari ini
adalah hujan yang terakhir kali
tak perlu ribuan hujan untuk mematangkan hujan, kilahku
sebab yang kutahu, hujan memang cuma hujan
sebab seingatku hujan tetap hanya hujan
dengan atau tanpa hujan
ini hujan, ucapku
seraya memetik sebutir hujan
yang sebelumnya terperangkap di daun kenangan
yang setelah kubingkai dengan koran
memukaumu dengan hujan yang paling kilau
salahkah hujan, sendumu
sebab puisi tentang hujan
acapkali membuatku heran
tentang lariknya yang melulu cemburu bermazhabkan kekosongan, lanjutmu
diam-diam kutatap hujan yang menggumpal di matamu
lekat. erat. dengan hujan yang sama dipendar pandangku
jangan mencari hujan, bisikku
cobalah sekali-kali menjadi hujan, hasutku
setidaknya di suatu peran: kita pernah merasakan hujan
walau dengan serpih kenangan
yang kian waktu entah kenapa terasa kian tak nyaman
Jakarta-Borneo, tahun itu.










