Mengapa selalu kopi?
pertanyaan kalian kuabaikan
bungkamku bukan
sebab ketiadaan jawaban
mengapa selalu merindu kopi dan berhidang
sebab dari kepal uapnya menghadang
angan-angan terlalu panjang
terlarang
kopi ini senantiasa mengajakku berbincang-bincang
syair-syair berbunyi lantang
hanya di sebuah ruang
rahasia
ketika dingin turut mencengkam bersama embun yang turun dari gunung
ia menyajikan secangkir kopi
hangat
bahkan sampai bertahun-tahun kemudian
jika aku menyeduhnya suatu hari
di mana saja dan kapanpun
kopi ini bukan sedang mengobati kantuk, suntuk, atau remuk
sejatinya aku sedang meletakkan imaji
di bangku dan meja kayu
yang saat ini masih menjadi utopia
mungkin menyentuh kemustahilan
kopi ini membawanya ke sisiku, seakan-akan nyata
kepulannya berpuisi
kehangatannya menyempurnakan dunia
mengapa kopi?
biarkan mereka menerka-nerka dengan lugunya
seandainya mereka mengerti
kopi ini akan mereka rampas
dan aku diguyuri caci maki
Bogor, 30 Oktober 2025 (11.47)









