Cinde lelah, dahinya berkilau oleh keringat terkena sinar matahari akibat keringat. Dia berjalan tanpa alas kaki dan berhati-hati agar kakinya tidak terluka.
Jun berjalan di depan sementara dia mengikutinya. Mereka kini berada di lapangan terbuka dan masih di antah berantah.
Mereka tidak tahu di mana mereka berada. Satu-satunya yang ada di sekeliling hanyalah rerumputan, pasir, dan air. Daerah itu tampak seperti pulau terpencil. Dia terus berjalan meskipun seluruh persendiannya menjerit kelelahan. Seandainya saja mereka bisa melihat mobil lewat atau manusia, setidaknya, mereka akan tertolong, tetapi, di mana mobil akan muncul di antah berantah ini?
Yang ada di benak Cinde hanyalah Zhoya.
Apakah dia baik-baik saja?
Semoga orang-orang jahat itu tidak menyakitinya. Dan bagaimana dengan Tatiana? Apakah dia mengkhawatirkanku?
Cinde meragukannya. Tatiana hanya akan mengkhawatirkan gaun dan sepatunya.
Cinde menatap pemuda yang berjalan di depannya. Dia menyadari pemuda itu juga sedang melamun.
Jun melamun sambil terus melangkah. Meskipun telah berkali-kali berpetualang, dia belum pernah berkelana di wilayah yang asing sebelumnya. Seharusnya terasa indah, bersama seorang gadis di antah berantah, tetapi itu bukanlah perasaan yang indah, terutama mengetahui bahwa temannya mungkin dalam masalah.
Dia mendesah
Kasihan Sam.
Sam tak akan tahan siksaan. Satu hal yang bisa dia percayai pada temannya adalah dia tak akan pernah mengungkapkan niatnya untuk menculik seorang putri dan bagaimana hal itu berbalik merugikannya.
“Kita bakalan baek-baek aja.”
Dia berbalik ketika mendengar suara di belakangnya berkata dan ia menyadari bahwa Cinde telah berhenti berjalan dan menatapnya dengan kekhawatiran terpancar di wajahnya.
“Kita bakalan baek-baek saja?” tanya Jun, berbalik menghadap Cinde.
“Gimana lu bilang kita bakalan baek-baek padahal kagak ada nyang tau kita dimari?” Jun bertanya, balik lagi ke mode Betawi yang jadi bagian penyamarannya. Tapi wanita itu mengangkat bahu.
“Entahlah. Gue punya super sistem nemu sisi positif dalam situasi yang amduradul,” jawab Cinde.
Jun tersenyum. “Jadi, apa sisi positifnya?”
“Yah, gue dimari bareng lu. Bayangin kalo gue sendiri aja, atawa lu sendirian. Parah, kan?”
Dia mendesah, andai saja Sam juga baik-baik saja.
“Gue bukan watir diri gue ndiri,” katanya, mulai berjalan lagi.
“Jadi, lu watirin siapa? Nyak babe lu?” tanya Cinde yang kini berjalan sejajar di sampingnya.
“Bukan, teman gue. Gue rasa dia dapet masalah gara-gara gue,” kata Jun sedih.
“Yah, gue juga kuatir sama bestie gue,” kata Cinde, “kalau itu bisa ngibur lu.”
“Oh, cewek yang barengan?” tanya Jun.
“Yoi, dia pasti watir banget,” jawab Cinde dan mereka berdua terdiam sambil terus berjalan, memikirkan orang-orang terkasih mereka yang mereka tahu mengkhawatirkan mereka.
Jun berbalik dan menatap Cinde, lalu terdiam.
Cinde mengerutkan kening. “Ada apa?”
“Kagak apa-apa. Gue cuman nyangkain lu watirin nyak lu, babe lu, adek lu….”
Cinde tersenyum.
“Nyak babe udah meninggal dan satu-satunya orang yang bisa gue sebut keluarga bestie gue.”
“Jadi lu kagak punya adek.”
Cinde berhenti. “Ngomong aja lu pengen tau keluarga gue.”
Jun tersenyum. “Gak apa-apa, kan, gue nanya? Emangnya kagak bole?”
Cinde mengangkat bahu, “Kagak tau juga. Tergantung jemuran. Lu bole nanya apa saja. Bebas. Gue jawab semuanya,” katanya sambil terus berjalan.
“Jadi, lu anak tunggal?”
“Kagak juga, sih. Gue punya adek tiri perempuan dua dan ibu tiri.”
“Wah, Tuan Putri, sepertinya lu kagak sukaa sama mereka, ya?” tebak Jun, mencoba membaca pikirannya.
Cinde ingin menjawab bahwa dia bukan seorang putri, tetapi kemudian dia melihat sesuatu bergerak di kejauhan. “Eits, apapaan, tuh?Mobil bukan?”
“Bukan, itu orang naek kebo,” jawab Jun setelah mengamati apa yang dilihat Cinde. “Nyok, ngkali dia bisa ngasih tau jalan,” lanjutnyasambil mengulurkan tangannya yang diraih Cinde tanpa pikir panjang. Keduanya berlari menuju kerbau di kejauhan.
“Permisi, Pak!” teriak mereka berdua kepada orang yang sedang menunggang kerbau, yang jelas terkejut melihat mereka.
Mereka masih berlari, terengah-engah hingga akhirnya mereka berhasil menyusul pria berikut kerbaunya.
“Selamat siang, Pak. Tolong, kami butuh bantuan,” Jun berkata dengan napas tersengal-sengal.
Pria itu mengerutkan kening, ia seorang pria kurus, bibir tipisnya tertutup oleh kumis lebatnya yang memanjang di bawah rahang dan menghilang ke dalam semak janggut hitam yang menutupi dagunya.
“Siapa kalian dan dari mana kalian datang?” tanyanya, melihat ke kejauhan tempat mereka pasti melarikan diri.
“Ceritanya panjang, Pak. Kami ditangkap dan kami melarikan diri,” jelas Jun.
“Ditangkap? Ditangkap oleh siapa?” tanya pria di atas kerbau.
“Kami tidak kenal mereka,” jawab Cinde, “tapi kami melarikan diri dan sekarang kami tidak dapat menemukan jalan kembali.”
“Wow! Kalian berada di suatu tempat yang dekat dengan hutan larangan, dan tempat ini tidak cocok untuk kalian. Berbagai binatang buas dan makhluk astral berkeliaran di malam hari. Kalian beruntung masih hidup. Mau ke mana?”
“Menuju kota,” jawab Jun. “Kota mana pun yang dekat, dari sana kita bisa menemukan jalan pulang.”
Cinde mengerutkan kening, kenapa dia tidak memberinya nama yang spesifik saja?
“Yah, kota terdekat dari tempat ini adalah Kartajaya Gemahripah dan itu masih beberapa jam lagi. Kalian tidak bisa ke sana karena pasti macet total, akan ada Festival Emas malam ini dan semua penduduk kota serta desa tetangga harus tetap di sana. Tidak seorang pun boleh pergi ke mana pun.”
Jun dan Cinde bertukar pandang. “Festival Emas? Apa itu?”











