Home / Topik / Lifestyle / Kehidupan Kristen: Berpisah, Solusi Terbaik Pernikahan Bermasalah?

Kehidupan Kristen: Berpisah, Solusi Terbaik Pernikahan Bermasalah?

Kehidupan Kristen
3

Tahun 2025 seakan menjadi tahun topnya perpisahan/perceraian antara selebriti Indonesia hingga mancanegara. Ada yang sudah lama sekali menjalin hubungan sehingga terdengar mengejutkan. Banyak yang dianggap sebagai couple goals.

Bukan hanya orang terkenal, barangkali di sekitar kita juga banyak kejadian yang sama. Perpisahan sering jadi bahan gosip antar tetangga, bersama-sama menduga-duga penyebabnya, padahal belum tentu benar.

Barangkali ada dari antara kita sama sekali tidak peduli karena belum menikah, atau merasa pernikahan/rumahtangganya baik-baik saja. Akan tetapi sebelum terjadi, para lajang maupun yang sudah lama berpasangan dan sudah dikaruniai anak perlu merenungkan beberapa poin di bawah ini.

  1. Pernikahan bukan ibarat sekolah/kuliah atau ujian, bukan pula ajang saling suruh-menyuruh/mengajarkan, melainkan kebersamaan untuk seumur hidup sepasang pria-wanita dewasa yang disatukan oleh rasa suka, sayang dan cinta.

    Pasangan masih ‘kurang sempurna’ di mata Anda? Bukan masanya lagi mengajarkannya ala orang tua atau guru, “Kamu harus begitu, dong!” atau menyuruhnya meniru orang lain yang Anda anggap lebih sempurna (kakek-nenek, ortu, guru, dan lain-lain). Mengapa? Karena dia juga sudah dewasa. Jika kalian belum dewasa, tentu takkan berani mengambil keputusan terbesar dalam hidup ini, sebuah komitmen suci yang diucapkan di hadapan Tuhan. Saling berbeda pendapat boleh-boleh saja, memberitahukan ganjalan di hati tentu saja lebih baik dilakukan, akan tetapi tidak dengan pertengkaran atau paksaan.

    “Saling melengkapi/mengisi kekurangan dengan kelebihan adalah salah satu tujuan berpasangan/berkeluarga.”
  2. Pernikahan sepatutnya membuat pasangan berbahagia. Jika hal sebaliknya terjadi, tidak lagi merasa bahagia, apakah kemudian harus berpisah/bercerai? Tunggu dulu. Jika pernah merasa sangat bahagia apalagi di hari pernikahan, lantas mengapa sekarang tidak bisa begitu lagi? Kemungkinan besar, sesuatu terjadi. Ada perubahan, entah sesuatu yang hilang atau muncul tak terduga.

    Cara mengembalikan kebahagiaan yang hilang itu bermacam-macam dan sebenarnya tidak sesukar yang dibayangkan. Pertama, introspeksi. Tidak perlu berdua, sendiri-sendiri dahulu. Kedua, diskusi. Pernikahan ibarat sepasang kaki atau sumpit, melangkah bersama-sama. Jadi, kebersamaan harus diutamakan. Apa yang membuat aku, kamu, kita, bahagia? Apa yang harus kita bersama-sama lakukan agar bahagia kembali (bersama-sama)? Ketiga: ulangi kembali momen-momen yang membuat Anda berdua berbahagia. Caranya tidak terlalu sukar. Ambil waktu sejenak berkencan atau cuti bulan madu kesekian bersama-sama, usahakan untuk tidak berdebat/bertengkar. Pergilah ke tempat-tempat penuh kenangan. Bahaslah hal-hal yang menyenangkan seperti hobi/benda atau kuliner favorit bersama.
  3. Jika terjadi suatu hal sehingga rasanya tak dapat lagi mempertahankan pernikahan karena pasangan sudah sangat mengecewakan (misalnya melakukan KDRT, berselingkuh dan sebagainya) apakah berpisah sudah pasti jalan terbaik? Pertama-tama, berdoalah secara pribadi minta petunjuk Tuhan. Cobalah berkonsultasi dengan pendeta atau konsultan pernikahan. Jangan asal curhat kepada siapa saja karena keluhan demikian hanya menimbulkan rasa lega sesaat saja, akan tetapi masih jauh dari solusi, malah bisa berubah menjadi bahan gosip. Jangan ambil keputusan sepihak/gegabah karena tentu ada beberapa hal jadi pertimbangan. Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana jika perselisihan ini disebabkan karena belum juga dikaruniai keturunan selama bertahun-tahun, apakah akan mengadopsi anak asuh atau mencoba tindakan medis seperti bayi tabung? Dan sebagainya.
  4. Apabila terjadi perselisihan, jangan buru-buru ucap kata ‘cerai’. Ucapan/kata-kata adalah doa, demikian keyakinan sebagian besar orang. Apa yang Anda sering ucapkan, cepat atau lambat bisa menjadi kenyataan. Kok bisa? Tuhan mendengar ‘permintaan’ kita bahkan di saat kita tidak serius mengucapkannya. Karena itu jauhkanlah kata-kata kasar; kutuk, cela hingga gertak/ancaman. Sebaliknya, utamakanlah pengendalian diri. Kendalikan amarah, undur diri sejenak hingga tenang. Setelah siap, cobalah menghadapi pasangan dengan kepala dingin. Berbicaralah dari hati ke hati hingga bersama-sama menemukan jalan keluar.
  5. Jadikan perpisahan sebagai jalan keluar terakhir meskipun belum tentu menyelesaikan segala masalah (akar pahit/dosa masa lalu). Tidak lantas melepaskan semua beban/pergi bebas merdeka.

Berikut pengalaman dunia nyata. Beberapa rekan/kenalan penulis juga mengalami perpisahan/perceraian meskipun ada yang sudah berkeluarga cukup lama. Pasangan entah kemana, sudah jadi mantan yang tak ingin lagi dikenang. Ada yang berhasil move on, ada juga yang masih berjuang bangkit dari titik terendah dalam hidup. Ada yang masih harus meredam gosip atau praduga negatif, ada yang berjuang menghadapi sepinya kesendirian atau menghidupi anak-anak yang diasuhnya sebagai single parent. Kesimpulannya, memilih bertahan atau udahan adalah hak Anda berdua. Pertanggungjawaban atas konsekuensi cepat-lambat harus dihadapi. Apakah sudah siap, sehingga tidak terjadi penyesalan?

Kesimpulan: Pernikahan umumnya terlaksana karena ada rasa suka, sayang dan cinta. Bukan hanya itu, keinginan-kesiapan kedua pihak untuk bersatu disertai pertimbangan yang matang dan dewasa serta restu keluarga juga tak kalah penting. Jangan sampai badai perbedaan kepribadian, masalah hidup, emosi negatif sesaat hingga plus-minus pasangan kemudian jadi alasan untuk menyudahi saja perjalanan biduk pernikahan. Kesulitan akan selalu ada; tidak ada kemudahan sempurna, keluarga/pasangan/anak-anak sempurna. Tuhan menciptakan manusia sebagai pasangan bukan hanya untuk memenuhi bumi, melainkan juga saling membantu dan melengkapi. Anda berdua patut berjuang bersama-sama mengatasi badai hidup plus tidak lupa berdoa minta pertolongan Tuhan yang sudah mempersatukan.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.


Tangerang, 31 Oktober 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image