Home / Fiksi / Cerpen / Pewaris Deru Intifada (Part I)

Pewaris Deru Intifada (Part I)

Pewaris Deru Intifada (Part I)

Palestina, 2001

Di tengah hancurnya bangunan kota, ada seorang anak tertimbun reruntuhan. Dahinya bersimbah darah, dan badannya sedikit kaku. Namun, ia masih bernapas dengan suara lirih.

“Siapapun, tolong aku. Tolonglah, aku berada disini.”

Aku yang sedang menyisir kota, mendengar suara itu sayup-sayup. Tepat di pojok bangunan, aku melihat tangan yang bergerak lemah memberi isyarat meminta pertolongan. Segera aku memanggil tim untuk meminta bantuan untuk menyelamatkan anak itu.

Tubuhnya tak berdaya karena tertindih oleh tembok-tembok, dan atap-atap yang porak poranda akibat serangan roket zionis. Aku dan tim relawan lainnya dengan sigap mengangkat dan menyingkirkan reruntuhan yang menindihnya, lalu menarik anak tersebut dan mengevakuasi ke tenda pengungsian.

“Siapa namamu, nak?” Aku bertanya.

“Namaku Muhammad Zayed Al-Fatteh.” Jawabnya.

Ia sebatang kara, kedua orang tuanya, dan sanak saudaranya sudah lebih dulu berpulang. Tak ada sesiapapun kecuali kami anggota relawan dari Indonesia.

Saat aku menatapnya, ada secercah bahagia di air wajahnya. Ia mengerti bahwa kami adalah relawan asal Indonesia, dan itu membuat dirinya tenang. Lalu, kami menyembuhkan luka-lukanya.

Selepas itu, dari dalam tenda, Muhammad Zayed Al-Fatteh perlahan berdiri tegak, menatap tajam dengan sorot matanya yang berwarna merah saga, dan menaruh bebatuan di pundaknya yang dulu menimpanya serupa gunung. Selain kami, tak ada yang tahu roket-roket yang menghancurkan kotanya membakar hatinya untuk melawan zionis.

Muhammad Zayed Al-Fatteh, kala itu berumur 16 tahun. Dimana anak-anak seumuran itu di belahan dunia manapun sedang menikmati masa-masa indah bermain bersama teman-teman. Namun, bagi Zayed hal itu tidak berlaku, ia harus berjibaku dengan rasa sakit yang teramat dalam, dan bangkit menjadi pejuang.

***

Palestina, 2002

Intifada Al-Aqsa semakin menggema di tanah Palestina. Perlawanan para pemuda membuktikan, bahwa perjuangan dalam mempertahankan tanah air menjadi sebuah kewajiban. Begitu pun dengan Muhammad Zayed Al-Fatteh. Bara api yang membakar hatinya membuat dirinya semangat untuk maju ke medan tempur. Namun, keberaniannya harus diasah dengan keterampilannya dalam bertempur. Maka, Muhammad Zayed Al-Fatteh kami antar menuju Brigade Jundullah—yang pemimpinnya sudah sangat kami kenal bernama, Yahya Asad.

Di tempat lain, Brigade Jundullah sedang bertempur melawan tentara zionis. Dengan senjata seadanya berupa bubuk mesiu, dan senjata tradisional, yaitu panah—Brigade Jundullah mampu menahan pergerakan tentara zionis yang menginvasi tanah Palestina. Sehingga upaya invasi tentara zionis tidak berkembang. Dengan perjuangan disertai keberanian, tentara zionis mundur karena terkejut mendapat perlawanan sengit.

Tak lama, Brigade Jundullah berupaya keras untuk mengevakuasi warga sipil dari pemukimannya menuju tempat pengungsian. Hal ini dilakukan, untuk mempertahankan ras nya agar tidak musnah dibantai oleh tentara zionis. Selepas itu, Brigade Jundullah yang dikirim ke medan tempur kembali dengan selamat tanpa ada satu nyawa pun yang melayang. Kemudian mereka menghadap pada pimpinan, Komandan Yahya Asad.

Lalu, terdengar suara “Birruh, biddam, nafdika ya Aqsa, birruh, biddam, nafdika ya Aqsa, birruh, biddam, nafdika ya Aqsa.” Menggema di kamp pelatihan, membakar semangat para pejuang Brigade Jundullah.

Muhammad Zayed Al-Fatteh sangat terkesima mendengar semangat jihad pasukan Brigade Jundullah, dan hatinya merasa terpanggil untuk segera bergabung di dalamnya menjadi bagian dari pasukan tersebut.

Sebelum masuk sebagai pasukan, Muhammad Zayed Al-Fatteh wajib melakukan registrasi terlebih dahulu, yaitu menghapal 10 juz pertama selama satu bulan. Jika tidak, dirinya belum dapat diterima sebagai pasukan tempur.

“Ini adalah penempaan sebelum menjadi pasukan kami, dan bukan untuk menyulitkan, saudaraku. Sebab, Al-Qur’an akan menjadi cahaya bagi dirinya, kelak.” Kata Komandan Yahya Asad kepadaku.

***

Dua pekan di masa penghapalan Al-Qur’an, Muhammad Zayed Al-Fatteh bertemu dengan seorang anak berumur 12 tahun yang tak lain adalah tetangganya yaitu, Hurriyat Az-Zawaid. Ayahnya sudah menjadi syahid, sementara ia tinggal bersama ibunya, Ummu Fareeha. Maka, Muhammad Zayed diajak oleh Hurriyat Az-Zawaid ke rumahnya untuk bertemu ibunya. Hurriyat adalah anak yang polos. Pada saat di rumahnya, Muhammad Zayed melihat Ummu Fareeha sedang melamun, karena memikirkan adik perempuan Hurriyat yang hilang bernama, Zahratul Widad. Lalu, Muhammad Zayed sebisa mungkin menenangkan Ummu Fareeha. Melihat kondisi Ummu Fareeha, Ia semakin bertekad untuk masuk ke dalam Pasukan Brigade Jundullah, dan berjanji kepada Ummu Fareeha apabila ia menemukan Zahratul Widad, dengan segera akan membawanya pulang ke rumahnya. Setelah itu, Ummu Fareeha pun meminta kepada Muhammad Zayed untuk membawa Hurriyat Az-Zawaid bersamanya. Karena, hatinya akan lebih tenang apabila putranya itu tinggal bersama tentara-tentara Allah.

Maka, keduanya pun berangkat menuju kamp pelatihan, meninggalkan Ummu Fareeha yang berhati tegar.

***

Palestina, 2004

Muhammad Zayed Al-Fatteh sudah menjadi bagian dari Pasukan Brigade Jundullah dua tahun yang lalu. Sementara Hurriyat Az-Zawaid—selama dua tahun hanya sebagai pembuat senjata saja. Dirinya belum siap ke medan tempur meninggalkan ibundanya, Ummu Fareeha yang masih bersedih karena adiknya, Zahratul Widad belum juga ditemukan.

Pada tahun ini, pemimpin Brigade Jundullah, Komandan Yahya Asad kembali ikut langsung ke medan tempur untuk ketiga kalinya dalam mempertahankan tanah air Palestina. Biasanya, Brigade Jundullah dipimpin oleh Sersan Mahmoud Anam manakala pasukannya turun ke medan tempur. Keikutsertaan Komandan Yahya Asad, tak lain karena serangan sporadis dari tentara zionis yang memfokuskan Beit Hanoun, Beit Lahia, dan kamp-kamp pengungsian di Bukit Jabalya. Keadaan ini sudah begitu genting, maka Komandan Yahya Asad menerapkan darurat militer. Muhammad Zayed Al-Fatteh pun ikut serta juga dalam barisan ini.

Komandan Yahya Asad bergerak menuju Beit Hanoun, untuk menetralisir serangan tank-tank baja dari tentara zionis yang sudah menghancurkan 40% tempat tersebut. Sersan Mahmoud Anam bergerak menuju Beit Lahia untuk menjinakkan pasukan bersenjata lengkap tentara zionis, sementara Muhammad Zayed Al-Fatteh ikut pada barisan yang bergerak ke kamp-kamp pengungsian untuk melakukan pertahanan dan evakuasi warga sipil.

Pertempuran sengit di Beit Hanoun tak dapat dielakkan. Dengan senapan-senapan seadanya, Pasukan Brigade Jundullah yang dipimpin oleh Komandan Yahya Asad mampu menahan serangan tank-tank baja tentara zionis.

Baaaammmm!

Suara granat yang dilemparkan oleh tentara-tentara zionis kembali menghancurkan seperempat bangunan yang masih utuh. Melihat itu, Komandan Yahya Asad merasa geram, dan maju sendirian untuk menghadapi enam orang tentara yang melempar granat tersebut. Dua diantaranya tewas ditembak oleh Komandan, sementara empat yang lainnya berhasil sembunyi di balik bangunan yang masih berdiri. Kemarahan Komandan Yahya Asad tak terbendung, ia mengejar empat tentara zionis yang bersembunyi. Suara dari pasukannya untuk tidak mengejar karena berbahaya, diabaikan oleh Komandan Yahya Asad. Ia terus mengejar, hingga terpaksa beberapa pasukan lainnya mengikutinya untuk memberi dukungan.

Dar! Dar! Dar!

Saling tembak pun terjadi. Tentara zionis yang diuntungkan karena bersembunyi di balik bangunan, masih bisa selamat. Namun, akurasi tembakan mereka menjadi nol karena fokusnya terdistraksi oleh kecepatan manuver antara lari dan menghindar dari Pasukan Brigade Jundullah. Tentara zionis pun panik, lalu mereka pun melarikan diri. Aksi kejar-kejaran pun terus berlanjut. Di tengah aksi tersebut, salah satu tentara zionis berbalik badan, dan mengeluarkan granat dari tas perangnya, kemudian melemparkan ke Pasukan Brigade Jundullah. Aksinya harus dibayar oleh nyawanya, namun sayang lemparan granatnya tepat ke depan Komandan Yahya Asad hingga terpental. Tiga tentara zionis tewas, tiga tentara lainnya berhasil melarikan diri. Sementara Pasukan Brigade Jundullah kembali dengan membawa tubuh Komandan Yahya Asad yang terluka karena lemparan granat.

Intensitas pertempuran di Beit Hanoun, perlahan menurun. Tank-tank baja tentara zionis pun perlahan mundur, karena mereka pikir Beit Hanoun sudah hancur lebur, sehingga tak ada perlawanan lagi. Hal ini disebabkan, Pasukan Brigade Jundullah mengatur ritme pertempuran karena memang kalah jumlah, dan kalah perlengkapan senjata.

***

Tubuh Komandan Yahya Asad, terbaring hingga waktu magrib, namun sayangnya, setengah jam kemudian, Komandan Yahya Asad mengembuskan napas terakhirnya. Seluruh pasukan Brigade Jundullah merasa kehilangan sosok komandan, dan sosok ayah sekaligus yang semasa hidupnya ia berdiri kokoh bagaikan gunung. Meski dalam kesedihan yang mendalam, jasad Komandan Yahya Asad harus segera dikebumikan. Maka, dalam waktu singkat, jasad sang komandan sudah berada di pusara bumi disertai melangitkan doa terbaik kepadanya.

Keesokan harinya, Pasukan Brigade Jundullah berdiskusi untuk menjalankan sunnah nabi, bahwasanya setiap jamaah tidak dianjurkan berlama-lama kosong tanpa pemimpin. Dengan segera, Pasukan Brigade Jundullah memutuskan Sersan Mahmoud Anam untuk mengisi posisi mendiang Komandan Yahya Asad, dan menaikkan pangkat Sersan Mahmoud Anam menjadi komandan. Kini, Pasukan Brigade Jundullah memiliki komandan yang baru.

***

Palestina, 2005

Sudah setahun, Pasukan Brigade Jundullah dipimpin oleh Komandan Mahmoud Anam. Dalam rentang waktu tersebut, Komandan Mahmoud Anam menambahkan nama baru di pasukannya, yaitu menjadi Kesatuan Pasukan Brigade Jundullah, dan mengelompokkan setiap pasukannya sesuai keahliannya. Hal ini dimaksudkan agar lebih efektif, dan efisien dalam menghalau serangan invasi dari tentara zionis.

Akan tetapi, belum juga pasukannya bergerak, ada berita mengejutkan dari tentara zionis, yaitu mereka menarik mundur seluruh tentaranya dari tanah Palestina. Seketika, tanah Palestina dapat bernapas, dan warga sipil Palestina dapat dengan tenang kembali ke rumahnya masing-masing. Meski kota-kota di negeri itu porak poranda, warga sipil Palestina begitu sangat bahagia, karena ancaman tentara zionis telah usai.

Mendengar berita itu, aku beserta relawan lainnya kembali ke tanah airku, Indonesia. Namun, aku tak meninggalkan begitu saja, sebab akan ada relawan lainnya yang akan bergerak merekonstruksi kembali kota-kota di Palestina.

Dengan perasaan haru, aku berpamitan kepada seluruh Kesatuan Pasukan Brigade Jundullah, terlebih pada Muhammad Zayed Al-Fatteh, dan Hurriyat Az-Zawaid.

“Jaga diri kalian disini, ya.” Ucapku kepada mereka berdua.

Mereka hanya mengangguk.

“Tak lupa, jaga Ummu Fareeha, dan jangan lelah mencari adikmu, Zahratul Widad.” Sambungku kepada Hurriyat Az-Zawaid.

“Iya. Terima kasih telah menemani kami disini selama lima tahun ini, dan jangan lupakan kami.” Jawab Muhammad Zayed Al-Fatteh.

“Ah! Pemberaniku, mana mungkin aku melupakanmu.” Jawabku sambil memeluk mereka berdua.

Selepas itu, aku dan relawan lainnya melangkahkan kaki meninggalkan mereka untuk kembali pulang ke Indonesia.

Tangerang, 7 November 2025.

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image