Beranda / Genre / Fiksi Sejarah / 9. Rencana Dendam Poseidon/Antuan

9. Rencana Dendam Poseidon/Antuan

Khairuddin Barbarossa 1600x900
This entry is part 10 of 17 in the series Khairuddin Barbarossa

Sebelumnya…

Komandan Marco menyisir Pulau Rhodes dengan hati-hati dan waspada penuh. Ia memerintahkan pasukannya agar tidak lengah sedikit pun. Setiap inci pulau tersebut mereka perhatikan tanpa satu pun yang terlewatkan.

Di Kastil Archangelos, Antuan mengirim utusan untuk memberitahu kepada sahabatnya, Alberto Barbarigo mengenai kondisi di Pulau Rhodes. Ia pun meminta kepada Alberto Barbarigo untuk mengirim bantuan pasukan, karena ia yakin Barbarossa bersaudara masih hidup, dan ingin menghancurkan mereka.

“Sahabatku, Alberto Barbarigo. Melalui kuasa Tuhan yang berada di tanganmu, saatnya berperang untuk menghancurkan umat Islam. Aku meminta bantuanmu untuk mengirim pasukan terbaikmu agar berjuang di sisiku. Sahabatku, dengan kuasa dewa di tanganku, aku akan melenyapkan Barbarossa bersaudara yang telah membunuh adikku, Enrico.”

Lalu, utusan itu segera pergi menuju Venesia.

Di Prancis, Giovanni berada di penginapan guna mencari Antoine de Montpellier. Penginapan tersebut berfungsi sebagai kedai, tempat transit orang-orang baik ke luar maupun ke dalam wilayah, dan sebagai tempat bertanya kediaman orang-orang penting vetermasuk Antoine de Montpellier.

Sementara, Komandan Marco bersama para prajuritnya sudah sampai di dekat pesisir Laut Aegea. Dari kejauhan, Komandan Marco melihat banyak orang yang sedang menaiki kapal 2 kapal besar.

“Prajurit, sepertinya itu mereka. Mari kita kejar jangan sampai mereka lolos.” Kata Komandan Marco.

Tak lama, mereka langsung berlari untuk mengejar Barbarossa bersaudara, dan semua orang yang bersama mereka. Hingga sampailah ke pesisir Laut Aegea.

Piri Reis yang berada di belakang, menyadari ada pergerakan dari dalam pulau, dan memerintahkan kepada pasukannya untuk berposisi siap menyerang. Tak lama, benar saja, Komandan Marco dan prajuritnya muncul untuk menyergap. Seketika, İshak Ağha, Oruç Reis, dan Hizir Reis bersiap untuk membantu Piri Reis.

“Para pemberaniku, jagalah mereka (para tawanan) bersama Isabel, kami disini akan menahan mereka!” Instruksi Oruç Reis kepada para ksatrianya.

“Tapi, Reis …” Jawab Gülletopuk, yang belum selesai bicara.

“Tidak ada tapi, tidak ada waktu, ayo, ayo, ayo!” Sambar Oruç Reis.

Dengan terpaksa Gülletopuk dan para ksatrianya menuruti perintah Oruç Reis.

Lalu… suara denting pedang beradu di pesisir Laut Aegea. Oruç Reis memilih lawan yaitu, Komandan Marco. Sementara yang lainnya melawan para prajuritnya. Bersamaan dengan itu, kapal yang dibawa oleh Isabel bertolak menuju Alexandria untuk evakuasi tahap kedua. Dengan perasaan gemas, Gülletopuk melihat Oruç Reis dan kawan-kawan bertarung melawan Pasukan St. Jon of Jerusalem dari kapal yang perlahan jalan meninggalkan Pulau Rhodes.

Setelah hampir tak terlihat kapal yang dibawa Isabel, Oruç Reis dan kawan-kawan berhasil melumpuhkan Pasukan St. Jon of Jerusalem. Sementara, hanya Komandan Marco yang tidak dibunuh melainkan dibawa ke kapal besar lainnya untuk dijadikan tawanan.

Kapal pun akhirnya berangkat. Para pasukan Piri Reis menggunakan kapal tempur dan kembali ke Lesbos, sementara Barbarossa bersaudara dan Piri Reis menggunakan kapal besar ke Alexandria menyusul Isabel.

Di Venesia, Alberto Barbarigo menerima surat yang dibawa oleh utusan dari Pulau Rhodes. Tanpa basa-basi, Alberto Barbarigo langsung memerintahkan kepada Gabriel Alfonso untuk mengumpulkan pasukan.

“Gabriel, segera kau kumpulkan pasukan terbaik kita, dan pimpin menuju Pulau Rhodes. Sahabat kita Poseidon akan melakukan perburuan.” Perintah Alberto.

“Baik, Tuan.” Jawab Gabriel.

Sang tangan kanan Alberto Barbarigo pun segera mengumpulkan pasukannya.

Setelah seperempat hari lamanya, Gabriel bersiap berangkat menuju Pulau Rhodes lengkap dengan baju besinya.

Dengan menggunakan kapal besar untuk dirinya memimpin, dan 6 kapal tempur untuk pasukannya, mereka pun berangkat menuju Pulau Rhodes. Di dalam kapal, Gabriel Alfonso sudah menyiapkan mesiu dalam jumlah banyak agar dapat memudahkan Antuan dalam upaya balas dendam. Tak sampai disitu, ia pun memerintahkan pasukannya untuk melumuri anak panah dengan minyak. Itulah yang disebut panah api.

Antuan, atau yang biasa disebut Poseidon tengah melakukan persiapan balas dendam. Hatinya membara oleh api kesumat kepada Barbarossa bersaudara, dan Piri Reis.

Dalam waktu yang bersamaan, Giovanni tengah bernegosiasi dengan Antoine de Montpellier dalam upaya pembangunan gua yang sudah hancur dan mendirikan benteng terkuat untuk Pulau Rhodes.

Apakah Giovanni berhasil? Sebab, proses negosiasinya berlangsung alot karena terkait biaya yang diminta oleh Antoine de Montpellier begitu tinggi.

Khairuddin Barbarossa

. Evakuasi Tawanan 0. Dendam Poseidon dan Ketenangan Alexandria

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *