Home / Topik / Wisata / Mengenal Johannes van der Steur

Mengenal Johannes van der Steur

Makam Johannes van der Steur (radarmagelang.jawapos.com)
2

Magelang selalu sejuk, panas yang terik tak pernah benar-benar menyengat. Semilir angin mengimbangi cuaca siang hari dengan suhu berkisar 28-29° Celcius, cuaca khas perkotaan yang dikelilingi pegunungan. Saat melintas dari arah Pecinan menuju Jalan ikhlas, tampak beberapa warga hendak berziarah ke kompleks pemakaman yang tersembunyi di antara deretan toko di Jalan Ikhlas, Kelurahan Magersari, Kota Magelang, Jawa Tengah.

Jalan masuk menuju pemakaman tersebut hanya berupa gang kecil dengan lebar sekitar 2 meter. Begitu melewati jalan itu, maka tampak kompleks pemakaman dengan luas sekitar 12 x 15 meter.

Mengingat lokasinya tidak mudah ditemukan dan ukuran makam yang tidak terlalu luas, tentu mengulik rasa penasaran, siapa gerangan yang terbaring di pemakaman tersebut. Jika melihat antusias warga, pasti yang dimakamkan bukan orang biasa.

Menurut warga setempat yang dimakamkan di tempat itu adalah Johannes van der Steur, seorang pendiri panti asuhan yang memiliki jejak panjang sebagai tokoh kemanusiaan.

Nama Johannes van der Steur di negeri Belanda sangat masyhur. Jika Pangeran Diponegoro di kalangan orang Belanda dianggap sebagai pemberontak, sebaliknya Johannes van der Steur adalah pahlawan. Namun, bagi masyarakat Magelang keduanya memiliki nilai tersendiri.

Makam Johannes van der Steur merupakan salah satu tempat bersejarah di kota Magelang yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dari berbagai negara seperti Belanda, Malaysia, Brazil, Amerika, dan masih banyak lagi. Pengunjung dari mancanegara khususnya yang dari Belanda, kebanyakan dari mereka adakah anak keturunannya yang dulu kakek, nenek bahkan ayahnya pernah tinggal bersama Johannes van der Steur yang telah memberikan masa depan yang lebih baik.

Banyak pengunjung mancanegara yang berkunjung, memberi rasa kebanggan akan perjuangan sesosok Pa van der Steur (panggilan untuk Johannes van der Steur) di masa Hindia Belanda. Kadang ada juga mahasiswa dari berbagai universitas yang datang untuk penelitian sekaligus tugas mata kuliah mereka, dan banyak juga masarakat umum yang berkunjung hanya sekadar ingin mengenal sosok pahlawan kemanusiaan tersebut.

Sejumlah photo perjalanan hidup tokoh Johannes Van der Steur, dipajang di kompleks makam. Datang dari Belanda ke Hindia Belanda pada 1892 dan berjasa mengasuh anak-anak yang kehilangan orangtua mereka akibat perang.

Kompleks yang berisi 24 makam dan sebuah monumen itu dulu merupakan bagian dari kompleks Kerkhoff yang memiliki luas sembilan hektar. Kompleks makam Van der Steur adalah satu-satunya yang tersisa dari Kerkhoff di tengah Kota Magelang.

Di komplek pemakaman juga terdapat prasasti yang menempel di bekas bangunan Panti Asuhan Oranje Nassau, bangunan serta ornamen-ornamennya yang masih berdiri kokoh dan tak berubah, meski usianya sudah ratusan tahun itu didirikan oleh Johannes Van der Steur .

Kini salah satu ruang di bekas bangunan Panti Asuhan Oranje Nassau di Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang tersebut digunakan oleh pekerja dari Dinas Sosial Kota Magelang.

Keberadaan bekas bangunan Panti Asuhan Oranje Nassau sangat penting untuk dipertahankan sebagai monumen atas jasa Van der Steur. Hingga saat ini semangat kemanusiaan tokoh Belanda ini terus memberi inspirasi bagi banyak orang.

Hal tersebut membuktikan bahwa sosok Johannes van der Steur begitu berjasa di Magelang di masa Hindia Belanda hingga namanya masih melekat kuat dalam ingatan masyarakat.

Setiap awal Juli, Komunitas Kota Toea Magelang melakukan bersih-bersih kompleks Makam Kerkhof. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati hari lahir Johannes van der Steur yang jatuh pada 10 Juli.

Hingga kini makam itu masih mendapat perhatian dan selalu terawat meski usianya hampir menyentuh satu abad. Ada puluhan makam lain selain Van Der Steur, seperti istri van der Steur, dan beberapa anak asuhnya.

Lalu siapakah sosok Johannes van der Steur? Beliau adalah pejuang kemanusiaan yang lahir pada 10 Juli 1865 di Rozenprieel, Haarlem, Belanda, dan meninggal pada 16 September 1945 di Kota Magelang. Meski berkebangsaan Belanda, Van der Steur hidup serba pas-pasan bersama sepuluh saudaranya.

Van der Steur dibesarkan oleh keluarga Kristen Protestan yang sangat taat. Ketaatan itulah yang membuat nilai-nilai protestanisme dan kemanusiaan tumbuh dalam diri seorang Van der Steur.

Suatu hari dalam perjalanannya menyebarkan agama Kristen Protestan, Van der Steur bertemu dengan seorang serdadu yang baru saja kembali dari Hindia Timur di kota Harderwijk.

Serdadu itu banyak bercerita kepada Van der Steur tentang pengalamannya di kota tersebut. Kenyataan yang didapat ternyata sangat tragis tentang nasib para serdadu.

Van der Steur tergerak hatinya, dia bertekad untuk berkunjung ke Kota Harderwijk. Pada 10 September 1892 dia berlayar ke Hindia dari Kota Ijmuiden. Di tahun yang sama, Van der Steur tiba di Magelang

Sebagai seorang penyebar agama, Van Der Steur tidak datang dengan tangan kosong, tapi sekaligus membawa misi untuk membimbing para serdadu agar mengenal dan kembali ke jalan Tuhan.

Van der Steur mengawali misinya dengan bekerja sebagai pembantu di tangsi militer. Dalam tugasnya dia membagikan kertas yang berisi renungan nukilan ayat-ayat injil di atas tempat tidur.

Sampai pada suatu ketika, dia menemui tentara yang mabuk dan mengatakan bahwa di luar ada anak-anak telantar yang bapaknya sudah meninggal. Namun, dari pertemuan itu lagi-lagi Van Der Steur menemukan fakta mengenaskan, bahwa praktik pergundikan marak terjadi di Hindia-Belanda kala itu.

Van der Steur lalu mengirim surat kepada Directur Onderwijes, Eredienst, en Nijverheid (Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri). Surat tersebut berisi desakan untuk melangsungkan pernikahan sebanyak mungkin agar praktik pergundikan bisa ditekan.

Suatu ketika, Van der Steur melakukan kunjungan di satu kampung. Dan dia prihatin menemukan fakta banyaknya anak-anak dari berbagai latar belakang yang terlantar karena orang tua maupun keluarganya meninggal akibat perang.

Van Der Steur pun tergerak untuk membantu dengan mengasuh empat anak telantar di sebuah rumah di daerah Menowo, Magelang. Makin hari anak asuhnya semakin bertambah banyak, hingga akhirnya Van der Steur menjual seluruh aset berharga di kampung halamannya, dan kembali lagi ke Magelang bersama istrinya.

Setibanya di Magelang, Van Der Steur membeli lahan di Kampung Meteseh untuk didirikan panti asuhan yang bisa menampung anak-anak telantar pada tahun 1892. Lambat Laun anak asuhnya semakin banyak hingga ribuan. Mereka berasal dari berbagai suku dan daerah. Seperti Maluku, Ambon, Manado, dan sebagainya.

Anak-anak itu bukan hanya sekadar diasuh. Namun, juga diberi keterampilan seperti menjahit dan memasak untuk anak perempuan. Sedangkan anak laki-laki, diajarkan pertukangan, membuat sepatu, dan tentu saja disekolahkan dengan baik.

Harapannya, anak-anak yang kurang beruntung itu bisa memiliki derajat dan mengenyam pendidikan yang layak supaya kelak menjadi anak yang mandiri.

Namun, saat Jepang datang di Magelang, Van der Steur dibawa ke Cimahi pada 1942. Hal tersebut membawa dampak yang luar biasa pada kondisi panti asuhan hingga tahun1945.

Akhirnya setelah Jepang menyerah, Van der Steur kembali ke Magelang dan dinyatakan meninggal pada 16 September 1945.

Semasa hidupnya, Van der Steur dan istrinya memang tidak memiliki anak. Bagi mereka, ribuan anak-anak asuh dianggap sebagai anak kandungnya.

Kasih sayang Van der Steur membuat anak-anak asuhnya maupun generasi kedua dan ketiga, tetap mengenang dan beberapa kali berziarah ke makam Van der Steur hingga sekarang.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image