Syauki duduk di mejanya, menatap selembar kertas di depannya. Dia tak mampu menghilangkan rasa gelisah yang menguasainya selama seminggu terakhir.
Persamaan itu cukup sederhana—hanya serangkaian angka dan simbol yang sekilas tampak masuk akal. Namun, ketika dia mencoba menyelesaikannya, ada sesuatu yang terasa janggal. Seberapa pun dia menyusun ulang angka-angka itu atau memasukkannya ke dalam kalkulator, jawabannya selalu tampak tepat.
Awalnya, dia mengira itu hanya kesalahan kecil. Namun, seiring berjalannya waktu, persamaan itu seakan menghantuinya. Dia terbangun di tengah malam, bermandikan keringat. Pikirannya berpacu dengan kemungkinan tak terbatas tentang cara menyelesaikannya. Dia berhenti makan, hampir tak tidur, dan menghabiskan seluruh waktu luangnya untuk mempelajari soal tersebut.
Seiring berlalunya minggu menjadi bulan, obsesi Syauki terhadap persamaan itu menggerogoti dirinya. Dia berhenti bertemu teman dan keluarganya, serta berhenti bekerja. Yang dia pedulikan hanyalah menemukan jawabannya. Dan ketika akhirnya dia merasa telah mendapatkannya, rasa gembira itu hanya sesaat. Jawabannya salah, dan persamaan itu seolah mengejeknya, menertawainya dengan kemungkinan-kemungkinannya yang tak terbatas.
Namun, suatu hari, ketika Syauki hampir putus asa, dia menemukan sebuah terobosan. Jawabannya bukanlah sebuah angka, melainkan sebuah kata. Sebuah kata yang selama ini dia tatap, tetapi tak pernah benar-benar dia lihat hingga saat itu. Kata itu adalah “tak terhingga”.
Syauki menyadari bahwa persamaan itu merepresentasikan siklus hidup dan mati yang tak berujung, serta pencarian pemahaman. Dia menyadari bahwa ia terjebak dalam siklus ini, terobsesi selamanya, dan mencari jawaban yang mungkin takkan pernah datang.
Pikirannya hancur dan dia tahu dia takkan pernah bisa kembali ke kehidupan lamanya. Dia terjebak dalam siklus mental ini, terus-menerus mencari.
1 Desember 2025









