Home / Non Fiksi / Opini / Kehidupan Kristen: Literasi Kesaksian: Bentuk Pelayanan Warisan Kata-kata Abadi! (Part 3)

Kehidupan Kristen: Literasi Kesaksian: Bentuk Pelayanan Warisan Kata-kata Abadi! (Part 3)

Kehidupan Kristen 20251125 (Illustrated Faith)
3

Apakah bersaksi lewat tulisan masih terasa sukar? Barangkali sebagian besar kita berkata, bener ‘nih, masih lebih mudah bicara aja daripada nulis. Padahal sebagian besar kita juga tanpa sadar sering sekali nulis meskipun bukan seorang penulis. Misalnya nulis schedule/jadwal, status di WA/media sosial. Pasti pernah juga nulis catatan, jawaban soal latihan, mengarang puisi hingga karya ilmiah saat masih di bangku sekolah atau kuliah. Apalagi jika Anda seorang pembaca antusias atau avid reader, pasti pernah dong baca Alkitab, apalagi ‘hanya’ artikel/berita di media massa atau cetak. Nah, pembaca yang punya pendapat sendiri akan tertarik juga untuk menulis, sedikit-banyak ingin mengkomunikasikan apa yang dirasakan/dialami, tanggapan atas apa yang dibaca. Dari seorang pembaca (biasa) menjadi penulis, mengapa tidak?

  1. Menjadi seorang penulis tidak harus lewat pendidikan formal. Tidak harus lewat pendidikan sastra-bahasa atau kursus segala macam, dapat sertifikat hingga gelar dulu, dan sebagainya. “Kok bisa, bukannya harus belajar dulu agar tahu materi hingga kaidah?” Tentu saja apabila sering membaca Alkitab, artikel, buku-buku (terutama cetak) apa saja (tentunya dari sumber terpercaya serta telah disunting dengan baik), kita secara tak langsung mengenal dasar-dasar kepenulisan. Misalnya, huruf pertama kata pertama dalam kalimat ditulis dengan huruf besar, akhir kalimat (biasa) diakhiri tanda titik. Kata ‘di-’ untuk menunjukkan kata kerja digabung, ‘di’ untuk menunjukkan tempat dipisah. Semakin sering membaca, semakin tahu banyak juga sang calon penulis! Nah, jadi, tunggu apa lagi?
  2. Menjadi penulis bukan hanya ‘mencerdaskan’ pembaca, melainkan juga diri sendiri. Bukan berarti otomatis jadi ahli sastra tata bahasa atau jadi penulis perfect yang bebas tipo/salah ketik, melainkan membantu mencegah pikun, mempertajam daya ingat, meningkatkan ketelitian. Tidak ada pencapaian/hasil instan, semua perlu latihan. Latihan mungkin sukar, ada trial and error, salah ketik, perlu edit. Namun lewat latihan-latihan itu, talenta dan kemampuan kita ditingkatkan-Nya.
  3. Jika literatur kesaksian dibaca, akan ada banyak akibat yang dihadapi. Barangkali pada awalnya sepi, kita belum dianggap. “Siapa ‘sih dia? Ngapain ‘sih? Apa yang dia tulis?” mungkin begitu kata dunia. Seperti restoran yang baru buka, belum ada pelanggan tahu rasa masakan yang disajikan. Akan tetapi jika kita terus menawarkan, apalagi memberi icip-icip, lama-lama akan ada calon pelanggan yang tertarik. Jika memang rasanya enak, ia akan datang lagi dan lagi. Begitu pula dengan tulisan yang menjadi bacaan.

    Penolakan barangkali ada, bahkan tidak sedikit. Calon pembaca hingga pembaca yang masih mengeraskan hati, tidak tergugah, pesimis dan sebagainya. Kritik entah positif atau negatif barangkali mengalir masuk. Terimalah yang positif, barangkali bermaksud baik. Tak semua yang negatif perlu ditanggapi (secara baper), tetaplah menulis. Jangan hiraukan ‘batu-batu sandungan’ yang berusaha menghambat perjalanan rohani kita. Berdoa saja agar Tuhan ubahkan setiap hati keras jadi lemah-lembut, semakin terbuka hingga mengenal-Nya.
  4. Literatur kesaksian kita berbeda dengan tulisan-tulisan ‘dunia’ dan juga konten-konten ‘rohani/religi’ yang bertujuan tidak sesuai kehendak-Nya. Apakah ada, apa saja misalnya? Sebagai contoh, konten yang diam-diam bertujuan mengejar keviralan atau view, konten yang memicu perdebatan, tidak mencerminkan kasih Tuhan (hanya mengasihi-membela sesama namun gagal mengasihi ‘yang berbeda’). Hendaknya kita mampu menyaring secara mandiri bacaan-tulisan yang akan kita bagikan. Jangan sampai malah kita jadi ‘batu sandungan’ bagi pembaca.

Kesimpulan: Dunia kita sehari-hari sudah cukup melelahkan. Saatnya kita mencoba memberi sebetik kelegaan lewat tulisan-tulisan menyejukkan dan membangun iman. Inspirasi selalu ada; mulai dari Firman Tuhan yang menjelma nyata dalam pengalaman hidup, alam indah ciptaan-Nya, hingga hal-hal baik yang kita harapkan terjadi. Seperti dalam peribahasa ‘kata-kata lebih tajam daripada senjata’, maka pergunakanlah kata-kata (lisan-tulisan) dengan penuh hikmat.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.

Tangerang, 27 November 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image