Yazid tidak mempermasalahkan dirinya ditolak.Pemuda itu sadar diri. Dalam hati dia sudah bertekad akan terus menjaganya,menjaga sahabat singkatnya semasa kecil itu.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Begitu juga dengan kehidupan Karima. Dia kini menjauh dari dua pemuda yang sama-sama menaruh hati padanya, Yazid dan Youssef. Akan tetapi,usaha mereka berdua mendekatinya tidak pernah berhenti,hanya saja dengan cara berbeda.
Karima cenderung nyaman berteman dengan mereka. Hanya sesekali saja mereka bersua dan bertegur sapa. Tidak ada yang istimewa baginya saat ini, karena dia masih fokus belajar. Tidak ingin menyia-nyiakan beasiswa yang didapatkannya dengan susah payah. Tidak ingin mengecewakan ayah dan juga neneknya. Terlebih, dia ingin membuat almarhum ibunya bangga.
Sore itu, dia bersama sahabat baiknya,Vivian,menuju tepi pantai Marseille untuk menyaksikan indahnya matahari terbenam. Setelah melepas penat sehari penuh dengan ujian yang menguras tenaga dan pikiran. Vivian mengajaknya bersantai sejenak.
“Apakah kau akan kembali ke Casablanca setelah lulus nanti?” tanya Vivienne, gadis manis asal Marseille yang selalu bersamanya. Sebenarnya tidak hanya dia saja teman dekat Karima,tetapi ada satu lagi teman mereka yang tidak turut bersama.
“Entahlah, Vivi. Aku belum tahu pasti. Kemungkinan aku akan kembali ke Casablanca. Tapi, ayahku sudah pindah ke sini juga, karena kantor pusatnya ada di Prancis.”
“Aku bersyukur jika kita masih bisa bersama, Karima.”
Karima bersyukur mempunyai sahabat baik seperti Vivienne. Mereka menghabiskan kebersamaan hingga menjelang malam.
“Aku akan mengantarmu, Karima.”
“Terima kasih, Vivi.”
Vivienne mengantarkan Karima menuju tempat tinggalnya. Jalanan hari itu agak padat, sehingga beberapa kali mobil Vivienne harus bersabar menunggu untuk melaju. Hingga akhirnya, dia bisa mencari celah dan sampai di depan apartemen Karima tinggal.
“Terima kasih, Vivi. Sampai bertemu besok.”
Karima melambaikan tangan kepada sahabatnya itu.
“Sampai nanti, Karima.”
Karima memandang mobil Vivienne yang perlahan melaju meninggalkannya. Langkah gadis itu terhenti ketika seseorang mencekal lengannya kuat. Dia terkejut dan juga takut ketika melihat orang yang sangat dikenalnya. Ternyata Youssef.
“Yo-Youssef, lepaskan!” Karima mencoba melepaskan cekalan tangan Youssef, tetapi tenaga pemuda itu lebih kuat.
“Karima, aku ingin mengantarmu ke atas. Tolong, jangan tolak aku, Karima,” pinta Youssef.
“Aku bisa pulang sendiri, Youssef. Tolong lepaskan! Aku tidak biasa begini.”
Youssef mengendurkan tangannya. Karima menatapnya dengan pandangan tidak suka. Baginya, apa yang dilakukan Youssef sudah membuatnya takut.
“Tolonglah, Youssef. Jangan ganggu aku. Aku pun tidak ingin mengganggu hidupmu.”
“Kau tidak mengganggu hidupku, Karima. Aku mencintaimu, sungguh.”
Karima tidak banyak bicara. Dia meninggalkan Youssef sendiri di bawah. Dia tidak ingin mendapatkan masalah seperti beberapa waktu lalu dengan Sabrina.
***
“Saya ingin menjadi diri saya sendiri,Tuan. Anda masih memiliki calon pewaris yang lebih berhak. Dia akan menjadi penerus, Anda.”
Pemuda itu masih bercakap-cakap dengan pria paruh baya di depannya yang masih lemah. Beberapa terapi sudah dijalaninya demi memulihkan kondisi tubuhnya yang sangat ringkih. Dia mencoba duduk tegak bersandar pada punggung ranjang.
“Sebaiknya Anda beristirahat dengan tenang, Tuan. Saya akan menjaga Anda.”
Pria itu tersenyum, ada rasa haru dan bahagia dalam dirinya.
‘Ini bukan sekadar romansa, ini adalah rasa yang tersimpan rapi, tertutup,dan tak ada seorang pun yang tahu kecuali diriku dan Tuhanku. Aku tidak bisa mengungkapkannya padamu berulang kali, dan kurasa kekuatan terbesar adalah doa-doa serta keyakinanku pada-Nya.’
Rasa bosan yang menghinggapinya,membuat pemuda itu menuliskan beberapa kalimat ungkapan hati yang dituliskan pada satu lembar kertas putih. Berharap,bahwa kelak,akan ada seseorang yang memiliki hati seputih itu,belum ternodai. Yang kan menjadi miliknya untuk selamanya.
Berulang kali, Yazid ingin melepaskan diri dari nama Leon d’Oro yang disandangnya. Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Leon,menurutnya sudah sangat berlebihan. Pemuda itu menyadari sepenuhnya, jika kekuasaan yang kini dimilikinya adalah bukan miliknya, dia ingin mengembalikannya kepada yang punya dan lebih berhak.
“Terima kasih untuk kerjasama ini, Leon. Aku harap kita bisa menjadi mitra terbaik di bisnis ini. Kau tidak hanya senior bagiku, tetapi juga mitra terbaik perusahaan tempat kerjaku.”9
“Sama-sama Youssef. Sekali lagi, kita pernah bersama. Jangan sebut aku senior, kita adalah mitra kerja. Semoga kerjasama ini membawa keberuntungan kita berdua.”
“Aku pergi dulu, sampai bertemu nanti.”
“Baik, Youssef. Sampai nanti.”
Pertemuan singkat Youssef sedikit membuka jalan keluar baginya untuk mempermudah mendapatkan informasi tentang seseorang. Di pertigaan jalan, seseorang mengawasinya terus dari dalam mobil. Mengikuti arah langkah kakinya. Ternyata langkah kaki Youssef menuntunnya menuju salah satu jalan gang kecil. Di sana dia berbelok dan menuju ke suatu rumah.
“Ibu, aku datang,” Youssef mendekati seorang wanita yang terbaring di sofa coklat dekat jendela. Tatapan matanya masih saja kosong seperti biasa. Dia seolah-olah tidak mendengar Youssef memanggilnya.
“Ibu, aku datang,” satu sentuhan lembut di punggungnya membuatnya tersadar. Diraihnya tangan Youssef yang kekar. Pemuda itu bersimpuh di hadapannya, menatapnya penuh dengan keprihatinan.
“Ibu, aku akan balas semua sakit hati ibu di masa lalu. Akan aku buat pria yang sudah membuat ibu menderita lebih menderita dari kita, Bu. Aku berjanji!”
“Jangan, Nak.” Kedua tangannya menangkup wajah Youssef, “Bagaimanapun juga dia ayahmu, meski dia tidak mau mengakuimu.”
Youssef bangkit, dengan tatap mata tajam dan tangannya yang tergenggam kuat, dia berbicara keras pada ibunya.”Tidak! Dia harus merasakan apa yang dirasakan oleh kita. Mereka akan membayar semua. Tunggu saja!”
Wanita itu tetap mencegah,”Jangan, Nak. Jangan. Kau akan mendapatkan kesulitan dan bahaya besar. Mereka punya pengaruh besar. Kau akan celaka.”
“Tidak! Aku tidak bisa dan tidak akan membiarkan semua ini. Selama ini ibu sudah cukup menderita karena pria itu.”
“Ibu bilang jangan, Nak. Dia ayah kandungmu. Kau adalah darah dagingnya.”
“Tidak, Ibu. Tidak! Aku tidak akan tinggal diam sekarang. Kita sudah menderita dengan ulahnya.”
“Ibu tidak ingin kehilangan dirimu Nak. Siapa yang akan bersama ibu nanti. Siapa?” Lamyya mengkhawatirkan tekad Youssef untuk menemui Leon.
“Ibu, aku tetap putra ibu. Ingat itu. Akan selalu menjaga ibu.”
Youssef meninggalkannya lagi. Kini dia sendirian mengenang masa lalu yang menyakitkan. Cinta sesaat yang berujung pada sengsara. Pria yang telah menanamkan benih pada tubuhnya dan kemudian meninggalkannya tanpa kabar, hingga akhirnya dia harus melahirkan seorang bayi tanpa ayah. Kilasan-kilasan masa lalu yang menyakitkan itu masih terekam jelas di benaknya.
“Gugurkan kandunganmu! Aku akan memberi harta benda berlimpah jika kau mau menggugurkannya,” tatapan sinis pria paruh baya di hadapannya itu tidak menggetarkan hatinya.
“Tidak, Tuan! Saya tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Ini adalah anak saya dan juga anak putra Anda. Itu berarti dia juga cucu Anda!” jawabnya tak kalah sengit. Sementara tatapan matanya beralih ke arah seseorang yang telah mengambil keuntungan darinya.
“Mengapa kau diam? Mengapa kau tidak berani menjawab ayahmu! Mana keberanianmu sebagai seorang pria sejati. Berani berbuat harus berani bertanggungjawab. Tunjukkan!” ucapnya dengan mata nyalang.
“Hei! Sudah kukatakan, putraku hanya sedang khilaf. Dan jangan pernah mengaku-ngaku jika janin itu adalah anaknya. Aku paham jika kau hanya mengada-ada karena ingin menjadi bagian dari kami, bukan begitu?”
“Jihh! Anda salah besar, Tuan. Anda tidak akan bisa membeli harga diri saya dengan uang dan harta Anda. Suatu saat Anda akan menyesal!”
“Bisa saja, janin itu karena perbuatanmu dengan pria lain, bukan denganku,” kini pria yang dicintainya itu mengelak, serasa tiada beban atau pun rasa tanggung jawab dalam dirinya.
“Kau pria penghianat! Licik, tidak bermoral. Kau bukan pria yang baik.”
“Silakan dirimu mencaciku sepuasnya, tetapi aku tidak akan pernah bisa mengakui janin itu sebagai anakku.”
“Kau akan rasakan akibatnya nanti manusia tak bermoral!”
Untuk yang terakhir kali dia menatap ke arah pria yang pernah dpenderitaannya dengan pandangan kebencian. Pria yang kini hanya menjadi pecundang atas penderitaannya.
“Suatu saat kau akan menerima balasan atas perbuatanmu itu, dan camkan ini baik-baik. Aku takkan pernah menggugurkan anak kita. Dia harus tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Baru setelah itu aku akan tenang. Hari itu akan tiba!”
Langkahnya tidak pasti. Dia tidak meminta apapun selain hanya pengakuan atas janinnya. Hingga beberapa bulan, saat-saat dia harus berjuang melahirkan bayinya tanpa seorang pendamping. Keluarganya telah mengusirnya karena dia telah dianggap menjadi aib keluarga.
Dua puluh tahun lebih telah berlalu, tetapi kenangan buruk itu masih membekas jelas. Dia meninggalkan tanah kelahirannya tanpa tujuan pasti, hingga akhirnya dipertemukan dengan keluarga yang baik dan menjadikannya sebagai anak angkat. Suami istri itu tidak memiliki keturunan, sehingga mereka merawatnya seperti putri mereka sendiri.
Hari itu dia akan melahirkan buah hatinya. Nyawanya adalah taruhannya. Rasa sakit yang luar biasa dirasakan tidak seberapa besar jika dibandingkan dengan sakit hatinya pada seseorang yang merupakan ayah dari bayi tak berdosa yang baru saja dilahirkannya. Tangis kesedihan dan kebahagiaan bercampur aduk menjadi satu.
“Anakku, jangan sesali yang sudah terjadi. Kita besarkan putramu bersama-sama. Kelak, dia akan tahu semuanya.” Ibu angkatnya selalu memberikan dorongan dan semangat padanya.
“Anak yang malang, ” ucapnya lirih. Diciumnya bayi laki-laki yang masih merah itu.
“Aku akan memberi nama anakmu Youssef El Karim, dia menyandang nama belakangku. Orang tidak akan ada yang berani menyakitinya. Dia adalah cucuku yang akan menjadi orang mulia.”Ayah angkatnya pun membesarkan hatinya yang masih terluka dalam.
Meski begitu, dia masih mencintai pria yang lari darinya dalam diam dan berharap suatu saat bisa bertemu dengan pria itu. Entah kapan, tapi dia yakin hari itu akan tiba. Cepat atau lambat.










