Beranda / Fiksi / Cerpen / Kompas Setengah Waktu

Kompas Setengah Waktu

Kompas Setengah Waktu

Aku membuka lembar demi lembar yang bernama buku Refleksi. Pada setiap halamannya ada beberapa kalimat nasihat yang memudar. Tak sedikit pula angka pengingat terdapat bekas bakaran karena kerap tersimpan di dekat lampu cempor yang tak tertutup. Aku merenung, karena banyak yang terlupa.

Buku itu pun telah lama berdebu. Bentuknya kecil, dan lembarannya pun tak banyak, hanya 27 halaman. Pada saat terjadi bencana kehidupan—dimana arus gemerlap dunia mengguncang jiwa, aku mengevakuasi beberapa buku—termasuk buku Refleksi ini, menuju tenda darurat. Rumahku begitu rapuh dimakan rayap, karena kelembapan dari dalam yang begitu labil. Terguncang sedikit saja, atap dan pondasi rumah roboh dengan mudah. Seketika hancur.

Setelah beberapa hari, segelintir orang membangunkan untukku rumah minimalis. Aku sudah begitu mafhum, bencana ini baru dimulai. Bukan hanya gempa, tapi longsor moralitas pun sudah terlihat dari arah barat. Menggerus dengan cepat tatanan etika yang sudah ditata rapi sesuai kontur habit oleh ayah ibu kita turun temurun. Efek hancurnya luar biasa, sehingga perlu untuk membuat pagar sebagai perisai. Agar sedikit kokoh, pagar itu diberi mantra yang terdapat di dalam buku Refleksi itu.

Tak lama rumah itu berdiri, dan aku menyimpan buku itu di paling bawah. Isinya sudah diluar kepala, apalagi di bab “Pondasi Mental” pada bagian “Mengubah pola pikir dari negatif ke positif.”

“Bagian itu sudah aku talar, tinggal mengkonversi pola pikir ke hal yang baik-baik saja,” gumamku dalam hati merasa mudah.

Maka aku beralih pada buku lain dengan tema yang berbeda, yaitu buku Pertaruhan. Di dalamnya terdapat baku hantam perasaan, adu argumentasi, dan saling bertabrakan kepentingan. Aku merasa sudah kuat, dan aku menyelaminya. Lembar demi lembar aku baca pada bab pertama dengan perlahan dan hati-hati. Alurnya bertempo sedang, namun menanjak. Ada kejadian seru, akan tetapi aku masih terasa segar untuk menghadapinya.

Manakala pada pertengahan bab pertama, ada alur yang membuat hatiku merasa cekam, namun penglihatan seperti melihat surgawi. Sesekali note-note liar menggelitik perasaan untuk keluar dari baris hidup yang sudah aku susun. Pondasi pun mulai goyah.

Akan tetapi, aku mengabaikan pondasi itu—terbawa alur yang sebenarnya tidak terlalu deras arusnya. Pagar yang baru saja dibangun mulai patah, perisainya pun memudar.

“Buku Pertaruhan ini sungguh berbahaya.” Hati berkata dengan pelan. Meski demikian, aku masih mengikutinya kemana arus itu mengalir. Seperti dinina bobokan, setengah kesadaranku tengah tertidur. Sedikit menikmati arus yang mengalir ke jurang. Beberapa kali pola pikirku terbentur energi negatif, tak ada perlawanan hanya berpasrah pada langkah yang salah. Hanyut.

Hingga sampailah pada diri terbentur permasalahan hidup dengan keras. Seperti tubuh menabrak batu karang—terasa menyakitkan. Aku pun terombang-ambing di tengah arus. Beruntungnya, arus itu tidak satu arah. Ada yang mengarah ke jurang, ada pula yang mengarah ke tepian. Alam semesta begitu baik tak membawaku ke jurang. Ia menuntunku ke tepian, lalu memberi salam pada jiwaku—seolah memberitahu “kembalilah pada baris hidup yang sudah kau susun. Abaikan suara mereka yang berjalan miring.” Aku pun kembali tersadar dari gemerlap yang menyesatkan.

Di tengah gontainya perasaan, aku berdiri dan berjalan pulang menuju bangunan yang berumah kesadaran tertinggi. Langkah kakiku perlahan-lahan menapaki jalan itu agar mengerti lembar demi lembar yang telah aku pelajari. Buku Pertaruhan masih tetap aku bawa, namun aku tak membukanya, apalagi meneruskan lembaran yang baru.

“Ah! Aku masih belum cukup siap untuk menghadapi kisah demi kisah di buku Pertaruhan ini.”

Pada saat di rumah—ketika tubuh ini lusuh bercampur lumpur, aku tertidur karena lelah hingga lelap. Dalam pejam aku bermimpi lembar yang bertulis “Pondasi Mental” terbang terbawa angin yang bertiup sepoi-sepoi. Kata demi kata terlihat jelas menghampiri penglihatanku.

Aku pun terbangun, dan mengingat kembali apa yang terjadi di dalam mimpi. Seperti bukan mimpi, makna dari kata-kata itu menasihatiku.

“Ternyata aku belum memahami betul apa yang yang ditulis di dalam buku Refleksi.” Gumamku sambil berpikir mendalam.

Setelah tersadar penuh, aku membersihkan diri dan mencari kembali buku Refleksi. Meski kecil dan tipis, namun memiliki makna berjilid-jilid. Buku petunjuk seni dalam hidup dari guruku yang mengutamakan kesadaran dan kesabaran. Jika diukur, aku baru menghabiskan setengah maknanya dari makna keseluruhan, meski aku telah membaca habis berulang kali.

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *