“Apa yang kalian lakukan?” pekik seorang wanita yang terkejut saat membuka pintu kamarnya.
Mata Danisha menatap nanar dua insan yang dengan tidak tahu malu tengah bergelut di atas ranjangnya. Dua orang yang tertangkap basah itu, langsung terhenti dari aktifitas menjijikkan yang tengah mereka lakukan. Ekspresi terkejut keduanya tak lama berubah sinis.
Saat suaminya melotot marah karena merasa terganggu, Danisha dengan sigap membuat foto dengan ponsel yang dipegangnya, sebagai bukti perselingkuhan tak terbantahkan. Kemudian dia lari keluar rumah dan menaiki mobilnya pergi dari sana. Teriakan marah pria itu tak digubrisnya. Air mata di pipinya menganak sungai. Dia sungguh tak menyangka dua orang yang dikasihinya tega melakukan hal sekeji itu di rumah dan kamarnya sendiri. Entah sejak kapan suaminya Glend bermain asmara dengan adiknya Sheyla. Danisha menggelengkan kepalanya yang terasa berputar dengan keras.
“Rifki, bisakah kau membuatkan surat pengajuan perceraikan untukku?” tanya Danisha melalui telepon pada temannya yang seorang pengacara. Dia sama sekali tak ingin membuang waktu. Sambil menyetir, dia mendengarkan suara terkejut temannya.
“Apa? Apa maksudmu … kau—“
“Ya! Kau tidak salah dengar. Akan kukirim alasan perceraian itu, nanti. Kau siapkan saja draftnya lebih dulu. Oh ya, ada satu hal penting yang harus kamu lakukan,” tambah Danisha.
“Apa itu?” kejar Rifki Prambudi.
“Aku mau kau mengambil sebanyak mungkin bagian harta gono-gini untukku!” tandas Danisha marah sebelum mematikan ponselnya dan lanjut pergi ke apartemen kecil pribadinya.
Hingga hampir pagi, Danisha nyaris tidak dapat memicingkan mata. Dia terus memikirkan apa kekurangannya sebagai istri, saampai sang suami menduakannya. Yang lebih tidak dimengertinya, dari semua wanita muda di Surabaya, kenapa pria itu memilih adik kandung istrinya sendiri?
***
Bunyi panggilan ponsel terus terdengar di sebuah apartemen sejak seperempat jam yang lalu. Sepertinya, orang yang hendak menghubungi tidak berputus asa dan bertekad akan terus berisik sampai orang yang dituju mengangkat panggilan teleponnya.
Sebuah tangan terjulur lemah meraih ponsel berdasarkan arah suara. Mata Danisha yang tidak terlalu besar, jadi terlihat seperti mata ikan kembung akibat bengkak setelah menangis semalaman. Ahirnya, tangan itu berhasil menemukan benda kecil yang sudah menjerit lelah sejak beberapa menit yang lalu.
“Ya … hallo!” Suaranya terdengar lesu.
“Kau di mana! Aku akan menyusulmu ke sana!” Suara khawatir seorang wanita yang memekik nyaring, membuat Danisha otomatis menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Apa sekarang kau juga mau membuat telingaku tuli!” teriak Danisha kesal.
“Hei … aku sedang prihatin padamu. Aku takut kau bunuh diri!” Wanita di ujung telepon itu membela diri.
“Awas si Rifki! Dia tak bisa jaga mulut! Biar kupecat saja jadi pengacaraku!” balas Danisha masih jengkel. Namun, sekarang dia sudah mulai menyadari keadaannya dan melihat langit terang dari balik jendela apartemen kecilnya. Ternyata hari sudah berganti.
“Hei … aku istrinya dan kau teman kami. Saat di rumah, masalahmu bukan lagi tentang lawyer dan client, tapi sudah tentang persahabatan!” Wanita di ujung sana masih bersemangat untuk bicara.
“Kau di mana? Jika kau butuh bahu untuk bersandar, aku bersedia meminjamkan bahuku—“
“…dengan bayaran?” todong Danisha sambil mengulum senyum.
“Ya! Kau harus mentraktirku makan siang di tempat favorit!” Di seberang, Lestari tertawa geli.
“Jemput di apartemenku satu jam lagi. Sudah kuputuskan tidak masuk kerja hari ini dan pergi bersamamu!” kata Danisha.
“Oke!” jawab Lestari cepat.
Danisha memeriksa ponsel, ada banyak panggilan tak terjawab dari suaminya. Dia mengabaikan dan mencari foto terakhir, kemudian mengirim bukti perselingkuhan Glend William dan adiknya Sheyla Amara pada Rifki Prambudi. Danisha yakin, pengacaranya itu akan melakukan yang terbaik untuk mengurus perceraiannya.
“Dari semua wanita, kenapa dia pilih adikmu? Dasar pria bodoh!”
Selesai mandi, Danisha membaca pesan balasan dari Rifki. Tangannya mengetik balasan dengan cepat. “Itu artinya, dia tak ingin mempertahankan pernikahan kami!”
Diliriknya jam di dinding kamar. Dengan cepat wanita muda itu bersiap menunggu jemputan Lestari. Dia ingin pergi menyegarkan otak dan menenangkan hatinya yang kembali bergemuruh marah setiap kali bayangan kemarin melintas di kepalanya.
“Mau ke mana kita?” tanya Lestari dengan wajah cerah.
“Kenjeran!” Danisha telah memilih tempat pelarian mereka.
“Asik!” Senyum Lestari makin semringah. Mobil kecil warna merah itu melaju menuju pantai Kenjeran. Di sana mereka bisa duduk santai sembari menikmati hidangan laut segar favorit Lestari.
Ponselnya kembali berdering. Danisha melihat dan mengabaikannya. Dia memasang mode hening pada ponsel sebelum memasukkannya lagi dalam tas mungilnya.
“Siapa?” tanya Lestari heran. Tak biasanya Danisha mengabaikan panggilan orang lain.
“Siapa lagi!”
Melihat wajah marah dan suara ketus sahabatnya, Lestari bisa menebak siapa yang tadi menelepon. Jadi, dia tak memperpanjang pertanyaan. Tujuannya hari ini adalah menghibur Danisha. Kemarin dia jadi ikut marah-marah pada sang suami. Memperingatkan pria itu untuk tidak macam-macam dengan adik perempuannya. Rifki Prambudi hanya bisa mengembuskan napas jengkel. Dia menjadi kesal pada Glend. Gara-gara pria bodoh itu, dia jadi dicurigai juga.
“Kalau kau ingin menangis, kau boleh nangis, kok.” Lestari membuka percakapan setelah suasana hening beberapa lama. Tangannya membunyikan musik lembut untuk menenteramkan hati Danisha yang sedang bergejolak.
Dengan keras kepala, Danisha menggeleng. “Aku sudah menangis semalaman. Sudah cukup. Rugi membuang air mata untuk pria seperti itu!”
Wanita itu membuang pandangan ke luar jendela mobil dan berusaha menikmati suasana kota yang mulai panas di jam sepuluh pagi. Jalanan ramai dan lancar. Mungkin karena sekarang masih jam kerja. Baru kali ini dia menikmati keramaian dari aktifitas jalan raya Surabaya. Selama ini dia selalu menyetir sendiri dan selalu terburu-buru. Banyak hal menarik yang berhasil mengembalikan lagi senyuman di wajahnya yang kusut. Lestari mengamati dengan wajah puas.
Danisha tidak mengatakan apa pun pada kedua orang tua atau pun mertuanya. Dia yakin, segala kebusukan akan terungkap tanpa dia perlu campur tangan. Dugaannya benar. Ledakan pertama terjadi di rumah keluarganya sendiri. Sheyla tak dapat menyembunyikan rahasianya lagi.
“Apa kau sudah gila!”
Sebuah tamparan mendarat di pipi wanita muda itu. Tamparan sepenuh tenaga dari tangan papanya sendiri, membuat tubuh Sheyla terhuyung ke belakang.
Di kursi kayu, sang mama menebah dadanya yang terasa nyeri. Kepalanya terus menggeleng tak mengerti. “Kenapa bisa begini …,” bisiknya berulang kali.
“Kurang baik apa kakakmu? Dia membantu membiayai kuliahmu sampai selesai. Tapi kau membalas dengan cara seperti ini. Apa kau bukan manusia?” Suara pria tua itu menggelegar.
“Maafin Sheyla, Pa.” Wanita muda itu menangkup kedua pipinya, takut kena tamparan lagi. Suaranya gemetar menahan kengerian atas kemarahan kedua orang tuanya.
“Kau seharusnya minta maaf pada kakakmu! Bukan malah minta ijin menikah!” bentak ayahnya muak. Pria tua itu tak bisa mengerti bagaimana putri bungsu dan menantunya bisa bermuka tembok seperti ini.
“Mbak Danisha enggak mau angkat telepon Sheyla,” jawab wanita itu lagi.
“Ya sudah jelas. Untuk apa dia buang-buang energi meladeni kamu yang tidak tahu diri!” Mamanya menambahkan dengan jeritan melengking.
Melihat papa dan mamanya tak ada yang membelanya, akhirnya Sheyla marah. “Kenapa Papa dan Mama terus saja membela Mbak Danisha? Mereka sudah menuju perceraian!” ujarnya kesal.
“Apa katamu?” Sebuah tamparan lain mendarat di pipi wanita muda itu lagi. Begitu keras, hingga dia memekik kecil.
“Aahh …!”








