Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Merasa Diri Belum Sempurna? Tetap Berikan Pelayanan Terbaik!

Kehidupan Kristen: Merasa Diri Belum Sempurna? Tetap Berikan Pelayanan Terbaik!

Kehidupan Kristen 20251215 (LutheranBlog)
3

Kerap kita sebagai Orang-orang Percaya enggan melayani Tuhan (di gereja, persekutuan dan semacamnya) dengan berbagai alasan; saya gak bisa nyanyi, saya pemalu, saya gak punya cukup waktu, dan lain sebagainya. Entah sungguhan/benaran atau hanya sebuah excuse, sebenarnya pelayanan ada banyak sekali bentuknya, tidak harus lewat bicara atau dana.

Belum lama ini seorang kenalan penulis dari Jawa Timur mengabarkan jika cucu beliau, seorang anak usia sekolah dasar yang mengalami kanker mata tetap bersemangat mengikuti sebuah pertandingan olahraga di Surabaya. Berhasil keluar sebagai juara, penyakit tidak jadi halangan. Bukan karena tidak lagi merasa sakit, melainkan karena apapun yang terjadi, ia telah berusaha melakukan yang terbaik. Menang-kalah, sukses-gagal baginya tidak masalah, yang terpenting adalah berdoa dan berusaha.

Sebagai orang yang masih lebih beruntung dikaruniakan jiwa-raga sehat, patutlah masing-masing kita bertanya pada diri sendiri: Apakah saya bisa seperti anak kecil itu?

Kadang-kadang, sebagai orang yang masih dikaruniakan tubuh yang jauh lebih sehat, penulis merasa malu. Meskipun penulis juga memiliki kekurangan (mata minus delapan), rasanya masih belum maksimal memanfaatkan talenta, waktu dan kesempatan yang masih dikaruniakan Tuhan. Mata yang memang rabun namun masih bisa melihat cukup baik, mengapa lantas saya sia-siakan?

  1. Hendaklah apa yang ada pada kita, meskipun belum sempurna, kita coba persembahkan kepada Tuhan dengan segenap hati. Kekurangan-kelemahan kita biarkanlah Dia yang melengkapi-memampukan.
  2. Seringkali yang menghalangi kita bukan ketidakmampuan, bukan pula izin dari orang lain, melainkan rasa malas. “Ah, masih banyak yang bisa gantiin!” atau, “Capek ah, repot ah, lain kali aja!” sehingga kesempatan-kesempatan yang ada lagi-lagi terlewatkan. Jika dihitung-hitung, entah sudah berapa kali excuse kita katakan lagi dan lagi. Kemalasan seringkali kita pelihara dan empani ibarat bayi dalam diri. Padahal kemalasan itu tidak akan pernah membawa kita ke arah yang lebih baik.

    Seperti dalam Amsal 19:15 yang berbunyi:Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar.” Bukan hanya dalam melayani saja, bahkan dalam kehidupan sehari-hari malas akan mendatangkan konsekuensi.

    Ada juga sebuah ayat dalam Perjanjian Baru: Roma 12:11: “Janganlah malas dalam bergiat; biarlah rohmu menyala-nyala; layanilah Tuhan.” Roh yang menyala-nyala bukan saat awal-awal dipanggil Tuhan saja, kemudian lama-lama apinya mengecil dan padam seperti kompor gas kehabisan elpiji. Tetaplah jaga nyala apimu dengan mengingat kembali segala kebaikan dan pemeliharaan Tuhan dalam hidupmu.
  3. Seperti sebuah perjalanan, bukan tujuan belaka yang diinginkan (cepat sampai/tiba di destinasi) melainkan menikmati apa yang dilakukan sepanjang jalan. Penulis memiliki kegiatan pelayanan menyanyi bersama choir, bukan saat manggung saja menikmati persembahan pujian bersama-sama, melainkan juga saat berlatih. Dengan segala kemudahan-kesulitan proses latihan, waktu yang ‘dikorbankan’ bersama-sama demi mendapatkan hasil maksimal, semua akan terbayar lunas saat kita diizinkan tampil dengan kompak-lancar, penampilan kami dapat turut memuliakan nama Tuhan.

    Selama masih diberikan waktu dan kesempatan melayani Tuhan, pergunakanlah. Bukan dengan paksaan, lakukanlah dengan rasa syukur. Meluruhkan talenta untuk Tuhan bukan hanya akan mengasah kemampuan, melainkan akan ada ‘imbalan’ yang belum tentu berupa dana/uang; kesehatan, keselamatan, hingga hal-hal tak terduga lainnya.

Sebuah kesaksian nyata, penulis belum lama ini mendapatkan jawaban doa lagi; sesuatu yang luar biasa bahkan nyaris mustahil, hal yang saya kemukakan kepada Tuhan secara sangat pribadi, yang saya tujukan bagi kerabat jauh. Penulis tidak tahu bagaimana bisa, kapan dan mengapa, akan tetapi kejadian itu semakin membukakan mata saya jika Tuhan kita ada dan nyata.

Rindukah Anda mengalami hal yang sama? Pelayanan kita, sekecil-seremeh apapun, lakukanlah dengan setia. Tuhan Maha Melihat dan menjawab doa. Mazmur 121 berkisah tentang Tuhan yang selalu berjaga bagi kita. Mari melayani-Nya dengan penuh ketulusan, kasih dan sukacita, upahmu besar di Sorga.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.


Tangerang, 15 Desember 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image