Matahari makin tinggi, sebenarnya perutku sudah mengirim sinyal minta diisi. Tapi Zack dan Ayesha seperti lupa kalaku belum ada sebutir nasi pun yang mampir. Hanya segelas susu yang melewati tenggorokan pagi tadi. Apa karena mereka orang bule, ya? Yang tidak terbiasa sarapan berat di pagi hari. Bhaskoro sepertinya juga merasakan laper, laki-laki beberapa kali meneguk air mineral dalam botol yang dibawanya, padahal cuaca sedang mendung. l
“Mau kemana?” tanyaku
“Candi Pendem, hanya beberapa meter dari sini? Kita sudah pernah ke sana, kan?” jawabnya sambil menyampirkan tangan kanannya di pundakku. Duhai … dada ini spontan berdegup bak genderang perang, bahkan aku sampai takut jika degubnya terdengar keluar.
Zack yang selalu antusias terlihat begitu excited menikmati setiap perjalanan eksplorasinya. Padahal rombongan yang diikuti sudah kembali Belanda, tapi sepertinya dia tidak peduli. Apalagi sedang jatuh cinta … bahkan ia mengemukakan keinginan untuk tinggal di Indonesia. Efek jatuh cinta ternyata sekuat itu mengubah pemikiran dalam sekejap.
Di tengah perjalanan kami melewati beberapa orang yang beriringan mengayuh sepeda melintasi jalan yang terus menanjak. Di kiri kanan pemandangan benar-benar memanjakan mata, benar-benar karya seni Sang Maestro yang luar biasa. Hamparan sawah dan tegalan yang menghijau dikelilingi gunung-gunung yang bertengger pongah memamerkan kemegahannya.
“Jadi inget waktu kita gowes ke sini,” ujar Bhaskoro dengan kerling menggoda. Aku hanya menanggapi dengan senyum. Tak ingin membahas, karena diam-diam ingatan tentang awal tumbuhnya perasaanku terhadap Bhaskoro menguar kuat, membangkitkan semua rasa yang justru ingin kumatikan.
Bhaskoro melajukan mobil pelahan, sepertinya ia justru menikmati setiap kenangan lalu. Aku mengembuskan napas kesal, seandainya perasaan itu tak pernah tumbuh pasti perjalanan akan lebih menyenangkan, karena setiap titik yang kulewati bersamanya membuat dadaku terasa perih, kadang perasaan memang tak bisa kompromi, datang sesuka hati bahkan pada tempat yang salah.
Jarak ke Candi Pendek hanya sekitar 500 meter dari sebelah timur Candi Asu dan tak jauh dari Sungai Pabelan. Bhaskoro menghentikan mobil. Menatap bangunan candi yang menghadap ke arah barat. Aku melirik Zack, agar pikiran absurdku teralihkan. Laki-laki bule itu menatap takjub pada bangunan yang lebih mirip reruntuhan batu di tengah-tengah kebun cabe tersebut.
“Nah, ini namanya Candi Pendem,” Bhaskoro menjelaskan saat turun dari mobil, lalu berjalan kaki sekitar 5 menit menuju lokasi karena Candi berada di tengah kebun atau tegalan.
“Berarti ini satu lokasi dengan Candi Lumbung dan Candi Asu, ya,” ujar Zack memastikan. Meski sudah beberapa kali ke tempat ini, tapi tetap takjub saat memandang candi yang terletak di tengah persawahan penduduk dengan posisi yang lebih rendah sekiar 3 meter dari permukaan tanah lainnya. Hal ini lah yang menjadikan candi ini disebut Candi Pendem yang artinya candi yang tertimbun. Candi Pemdem memiliki bentuk bujur sangkar berukuran 10,9 x 10,9 meter, dan terbuat dari batu adesit.
“Benar, karena berada satu lokasi dengan Candi Lumbung dan Candi Asu, dimana ketiga candi ini akhirnya disebut candi-candi Sengi,” jawab Bhaskoro
“Sepertinya Candi ini nggak utuh, ya?” Ayesha mengamati dengan rasa ingin tahu.
“Yup, Saat ditemukan Candi Pendem ini tertutup tanah hasil erupsi Gunung Merapi. Kemudian digali oleh seorang warga Belanda benama de Plink bersama warga sekitar. Meski bangunan yang ditemukan tidak utuh dan hanya menyisakan bagian pondasi dan sebagian tubuh candi bagian bawah, tapi kita masih bisa melihat salah satu kehebatan karya arsitektur nenek moyang bangsa Indonesia. Ada motif hiasan berupa sulur gelung keluar dari jambangan. Di bagian tengah ikal sulur ada burung bangau membuka sayap, yang diapit pilaster dan bersebelahan dengan relief Ghana.” papar Bhaskoro sambil menunjuk setiap detail relief pada dinding candi.
Aku mengamati saksama bangunan yang dibangun pada abad ke 9 tersebut. Konon saat itu masih berada di bawah pemerintahan Kerjaam Mataram Kuno di bawah pimpinan seorang Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala yang merupakan Raja Ke 8 memerintah Kerjaan Mataram Kuno pada tahun 855 – 885 M.
“Dari segi arsitekturnya, Candi-candi Sengi termasuk Candi Hindu, ya?” tanya Zack memastikan.
“Precies goed,” jawabku sambil mengacungkan jempol.
“Di sekitar Candi-candi Sengi ditemukan beberapa prasasti, yaitu Sri Manggala II, Kurambitan I dan Kurambitan II. Dan ketiga prasasti tersebut menyebutkan adanya keberadaan Dharma di Salingsingan.” Bhaskoro menjelaskan dengan detail karena tahu Ayesha dan Zack masih sangat awam tentang percandian.
“Pada Prasasti Salingsingan terdapat angka tahun 802 saka atau 880 masehi, dan berisi berisi tentang danan Kebaktian Sri Maharaja Rakai Kayuwangi kepada Bhatara di Salingsingan,” lanjut Bhaskoro.
“Apa isi ketiga prasasti tersebut?” tanya Zack.
“Ketiga prasasti itu berisi tentang Sang Pamgat Hino Pu Apus menetapkan Dharmmanya di Salingsingan. Sedangkan menurut Prasarti Wanua Tengah III, pada tahun 880 M berada di bawah pimpinan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala.”
“Duh, apalagi itu prasasti Prasati Wanua Tengah III,” gerutu Ayesha saat tak mampu mengingat penjelasan Bhaskoro. Laki-laki itu justru terkekeh melihat keponakannya mengerutkan alis tanda berpikir keras
“Prasati Wanua Tengah III berisikan urutan raja-raja pemimpin Kerajaan Mataram Kuno sebagai penguasa daerah Jawa Tengah pasa masanya. Dengan menggunakan dasar dari prasasti ini dan dihubungkan dengan prasarti Salingsingan, maka dipastikan bahwa Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala merupakan pemimpin kerjaan saat dibangunnya ketiga Candi-candi Sengi ini,” pungkas Bintoro.
Bhaskoro menyerahkan ponselnya minta diambil gambar dengan pose di tangga Candi Pendem. Aku tersenyum geli … ternyata di usianya yang tak lagi muda masih suka eksis juga.
“Hmmm … dasar narsis,” ejekku sambil menyerahkan kembali ponselnya, laki-laki itu nyengir.
“Boleh, dong, seperti anak muda.”
“Ingat umur kaleee.” Aku menepuk dahi dengan mulut mengerucut.
“Bukannya Dek Tantri sendiri yang pernah bilang, umur hanyalah angka. Usia tidak membatasi untuk terus berkarya.” Jawaban telak Bhaskoro membuatku mencebik.
“Apalagi untuk jatuh cinta.” Kali ini ia membisikkan di telinga, membuatku geram tapi juga ada perasaan yang nano-nano.
“Pasti Dek Tantri laper, makanya bawaannya baper,” goda Bhaskoro.
“Eh, ternyata tahu baper juga, ya? Cieee nggak mau kalah sama yang muda, nih … pake bahasa-bahasa gaul juga.” Aku membalas sedikit ketus.
“Habisnya, Dek Tantri dari tadi cemberut melulu, nggak biasanya … pasti gara-gara laper,” kilah Bintoro menowel ujung hidungku.
“Iya … iya, emang laper,” ujarku mengakui.
“Kenapa nggak bilang dari tadi, sih? Kayak cinta aja dipendam, laper jangan dipendam juga, dong!” Laki-laki berwajah tirus itu tergelak.
“Ishhh, emang cinta siapa yang dipendam?” kilahku sewot.
“Mas tahu, kok. Dek Tantri masih memendam cinta buat Mas, kan?” ujarnya menjauh, kembali ke mobil. Meninggalkan aku yang masih bergeming, kesal sekaligus malu karena ia bisa membaca pikiranku. Eh, tapi kenapa aku merasakan sensasi ‘Butterfy in tummy’ yang membuatku serasa melayang dan hilang kewarasan. Ah, jatuh cinta di usia yang tak lagi muda ternyata masih juga terasa indah meski cukup rumit jika jatuh pada orang yang salah.









