Langit seperti biasa tak pernah berubah
Pagi membawa nasib menuju semestinya
Lantas apa kabar hari ini wahai malam
Masih kau simpan selimut penuh cinta.
Kesetiaan apakah seperti sore
Atau kesetiaan barangkali serupa malam
Malam senantiasa merujuk pada pagi
Esoknya hidup seperti bias selintas.
Kalaulah mungkin apakah cinta bisa berubah-ubah seperti cuaca
Kalau mungkin berubah apakah
bisa terduga sebelumnya.
Entahlah…
Ketidak tahuan terkadang membuat terperangah, bisa jadi terheran-heran
Mungkin serupa bara berangin-angin
Lantas menjadi api seketika.
Oh bianglala sepi apakah teman setia tak mungkin berkhianat sebab waktu memilih kesempatan ke lain cuaca sesuka maunya
Lantas? Apakah waktu bersalah.
Kalaulah begitu tentu bukan sebab waktu
Mungkin karena pesan pada kasih tak sampai, sebab matahari enggan terbit
Apakah rembulan mau berperan matahari.
Kalaulah rembulan mau menjadi matahari barangkali bumi bakal ngambek
Waduh! Gawat dong kalau bumi ngambek
Siapa akan menjadi peran pengganti.
Tentu menunggu ramalan cuaca itupun kalau waktu mau berdamai dengan cuaca
Wah gawat. Banyak nasib terbengkalai
Kalaulah waktu ogah menulis cuaca terpisahkan.
Siapa menanggung akibat jika
hal macam itu sungguh terjadi
Kehidupan pun mungkin berkelit
Menghindari konflik kepentingan
Apakah mungkin hal macam itu terjadi
Mungkin bisa. Mungkin tidak. Kalaulah
konflik kepentingan menjadi keutamaan
Kehidupan tentu memilih tetap patuh pada fitrah awalnya sebagaimana tertulis.
Maka nasib telah terbatas oleh waktu
Tak ada tawar menawar kepentingan
Jakarta KompaK’O, December 16, 2025.











