Beranda / Fiksi / Cerbung / 12. Kasih Sayang Youssef

12. Kasih Sayang Youssef

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 13 of 32 in the series Sebiru Langit Casablanca

Sore harinya, Youssef mengajak Lamyya dan Karima ke suatu tempat. Ternyata, Youssef mengajak ke sebuah rumah singgah dan panti asuhan tempat anak-anak yatim piatu dan penyandang disabilitas berada. Kedatangan Youssef disambut gembira oleh beberapa orang yang bertugas menjaga mereka di sana. Salah seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun berlari ke arahnya.

“Kak Youssef…aku merindukanmu.”  Youssef membentangkan tangannya lebar-lebar. Beberapa anak pun turut menghambur ke pelukannya.

Karima yang melihat ikut terharu, hatinya berdesir melihat pemandangan di hadapannya. Sungguh tak pernah diduga,jika dibalik sifat keras Youssef dia memiliki hati yang sensitif. Tanpa terasa dia ikut menitikkan air mata. Ternyata  Youssef memiliki sisi kemanusiaan dan  empati yang sangat tinggi.

Gadis kecil itu pun mendekati Lamyya  lalu mencium tangannya,”Selamat datang Ibu. Kami selalu merindukan Ibu dan Kak Youssef.”

Lamyya memeluk dan mencium keningnya.” Ibu dan

kakakmu sudah ada di sini. Kalian tidak usah khawatir,jika kakakmu belum bisa datang kemungkinan dia sibuk,” Lamyya menerangkan.

“Iya,Ibu. Kami mengerti.”

Dengan dibantu beberapa anak, Youssef membawakan barang-barang dari dalam bagasi. Mereka kemudian masuk ke ruangan besar dan bercengkerama di sana. Karima sungguh tidak habis pikir, ternyata  polesan Youssef yang kasar hanyalah menipu. Dia melihat sosok lain dari Youssef yang baru diketahuinya.

Beberapa anak laki-laki bermain sepakbola di halaman, wajah-wajah mereka tampak riang, tiada beban. Hanyalah keceriaan dan kebahagiaan yang terpancar di wajah-wajah polos itu.

“Tempat ini titipan orang tua angkat ibuku.” Seperti biasa, Youssef selalu mengagetkannya.

“Ah,kau di sini rupanya.”

“Setiap minggu aku pasti ke sini bersama ibuku. Amanah dari orang tua angkatnya agar kami berdua bisa mengasuh dan merawat anak-anak yang kurang beruntung sepertiku.”

Karima menoleh ke arah pemuda itu, dia berkata,”Apakah dalam hatimu tidak pernah ada rasa syukur sedikitpun,Youssef? Mengapa kau selalu berkata kurang beruntung?”

“Itulah kenyataannya,Karima,aku-“

“Youssef, hentikan! Tidak selayaknya kau menyalahi takdir. Tidakkah dirimu berpikir bahwa sesungguhnya kau lah orang yang beruntung itu?”

“Mengapa? Apakah kau tahu tentang suka dukaku?”

“Aku tidak perlu tahu semua tentang masa lalumu, ataupun suka-dukamu. Karena yang kuhadapi sekarang adalah kenyataan.”

“Yang kau hadapi? Apa yang kau hadapi?”

“Beberapa curahan hatimu dan juga anak-anak di sini. Itulah yang kuhadapi. Kasih sayang yang begitu besar, juga ketulusan. “

“Sudah kukatakan, aku tidak memiliki sesuatu untuk dibanggakan.”

Karima menatap tajam ke arah Youssef. Ada berkas kasih sayang dan ketulusan yang selama ini tersimpan di mata coklat terangnya yang bening.

“Ibumu dan anak-anak sangat bangga padamu. Dengan semua pengorbanan yang kau lakukan untuk mereka.”

Pembicaraan mereka terjeda ketika seorang anak laki-laki mengajak Youssef bermain bersama mereka.

Pandangan mata Karima tidak pernah berhenti melihat keseruan-keseruan mereka. Binar-binar kebahagiaan terpancar di wajah-wajah polos itu. Youssef  seperti ayah bagi mereka yang berusaha untuk membuat mereka senang.

“Tendang ke arahku bolanya… ” seorang anak laki-laki berambut ikal pendek meminta Youssef memberikan umpan bola kepadanya. Permainan  pun semakin seru.

 Karima berjalan berkeliling tempat itu. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Seorang anak perempuan penyandang disabilitas sedang melukis di ujung sana. Dia mendekatinya, dan kagum dengan kepandaiannya melukis yang terkesan hidup.

“Lukisanmu sangat bagus.” Puji Karima.

“Terima kasih, Kak. Kak Youssef yang mengajarkanku melukis seperti ini. Dia juga membelikanku beberapa alat untu melukis.”

“Youssef yang mengajarkanmu?”

“Iya, Kak. Ayo ikut aku.”

Karima mengikuti gadis kecil yang berjalan dengan kursi rodanya itu menuju salah satu ruangan.

“Ini adalah ruang seni, begitulah Kak Youssef menamakannya. Di sini dia mengajari kami banyak hal.”

Karima bertanya padanya dari dekat,” Siapa sebenarnya Youssef itu?” selidiknya, ingin tahu lebih jauh kehidupan Youssef.

“Aku tidak tahu, Kak. Setahuku tempat ini adalah milik kakek dan neneknya yang sudah meninggal. Kak Youssef dan ibunya dulu merawat kami di sini. Mereka seperti orang tua kami.” Gadis kecil itu berkata dengan muka tertunduk. Karima bisa merasakan kesedihannya. Dipeluknya gadis kecil itu seraya memberikannya semangat.

“Jangan bersedih, aku pun sudah tidak memiliki seorang ibu. Ibuku sudah meninggal.”

Gadis kecil itu melepas pelukan Karima, dipandanginya wajah gadis cantik kan lembut di depannya itu. Karima tersenyum.

“Kau anak yang hebat, ingatlah itu.”

***

Malam menyapa bumi dengan tenang. Memeluk jiwa-jiwa setiap insan untuk mencari ketenangan. Hicham masih meminta bantuan dari Yazid dan juga pihak berwajib untuk segera menemukan Karima. Dari informasi beberapa anak buahnya yang menyebar, posisi Karima berada tak jauh dari Avignon. Hicham yang diberitahu oleh Yazid segera  ingin bertemu putrinya. Dia sangat ingin membuat perhitungan dengan Youssef yang sudah melarikan putrinya.

“Sudah ada kabar tentang putriku?” tanyanya cemas.

“Kami masih menyelidiki, Paman. Dari beberapa informasi yang didapat, mereka tidak jauh dari sini.”

“Semoga putriku segera pulang, aku akan habisi pria itu!” geramnya.

“Aku akan memastikan jika Karima selamat.”

“Kau yakin pria itu tidak akan mencelakai putriku?”

“Insya Allah, tidak akan, Paman. Kita sebaiknya berpikir yang baik-baik saja, Paman.”

***

Di kamar, Karima merenungi kejadian-kejadian yang dialaminya selama beberapa hari ini. Banyak sekali pelajaran kehidupan tak terduga yang membuatnya kian sadar betapa hidup itu penuh dengan misteri. Salah satunya adalah tentang Lamyya dan Youssef.

Dari cerita seorang penjaga di rumah singgah, Lamyya  menggunakan harta peninggalan orang tua angkatnya untuk membantu orang-orang tidak mampu dan juga anak-anak yang memang terlahir beda.

“Almarhum orang tua Nyonya Lamyya memiliki beberapa usaha yang rata-rata pekerjanya adalah anak-anak yatim piatu dan juga para disabilitas yang kini sudah beranjak dewasa.”

“Anda tahu banyak tentang keluarga mereka?”

“Tidak juga, Nona. Setahu saya, suami Nyonya Lamyya meninggal ketika Youssef masih dalam kandungan. Dia sudah yatim sejak kecil. Untuk itulah dia sangat menyayangi adik-adiknya di sini.”

Hati Karima tersentak, karena dia tahu cerita tentang Lamyya yang ditinggalkan oleh seseorang dalam keadaan berbadan dua. Pria itu tidak menikahinya, bahkan dia lari dari tanggung jawab.

Semilir angin malam yanng dingin membuai Karima, harapan untuk bertemu dengan ayah dan neneknya pun semakin besar. Dia teringat percakapannya tadi sore bersama Youssef.

“Besok aku akan mengantarkanmu pulang dan minta maaf kepada ayah dan juga nenekmu. Seandainya pihak berwajib memasukkanku ke bui aku sudah siap atas semua risiko itu. Jika pun harus menjalaninya seumur hidup, akan aku  terima dengan lapang dada.”

Ya, Youssef memang pantas mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Bisik hati Karima.

Akhirnya Karima akan menjadi manusia bebas lagi. Dia akan kembali kepada ayah dan neneknya. Tahun ini dia akan kembali ke Casablanca untuk merayakan Yannayer lagi, serta mengunjungi Ifrane bersama Hicham.

Sebiru Langit Casablanca

1. Wanita Terbaik 3. Kuingin Bersamamu

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *