Seperti Melisa, aku ingin bibir merah muda tipis yang tidak merepotkan. Saat tersenyum melengkung sempurna, ketika tertawa tak perlu susah menyembunyikan geligi yang bergerak terlampau maju.
Kelak saat aku memiliki anak, bisa jadi aku memberinya nama Melisa. Dia anak yang cantik pasti. Rambut Melisaku legam lurus menutup punggung. Sesekali saat turut serta bersamaku ke pasar, ia boleh mengenakan topi bundar berwarna pelangi. Ia akan membantuku membawa keranjang buah. Tidak, ia bukan anak yang pemalu, terutama jika melakukan hal-hal baik.
Nanti Melisaku akan menjadi remaja yang ramah pada semua orang. Suaranya jatuh pada siapapun yang dijumpa. Merdu, serasi dengan parasnya yang ayu. Orang-orang memuji kecantikan dan kelembutan perangainya. Melisaku tak pernah berkata lumpur. Ia bidadari, ia lembar putih yang suci.
Jika tiba saat pangeran datang? Oh, sejak umurnya belum tujuh belas Melisaku adalah kuntum yang semerbaknya tersebar harum. Maka ia juga akan melakukan pemilihan dengan sangat ketat. Yang berhasil mempersuntingnya tentulah titisan para Kresna. Bukan sembarangan.
Semua demi Melisaku dengan masa depan di luar batas rata-rata.
TIDAK. SEMUA DEMI AKU.
“Kapan kau mau aku melakukannya?” tanya laki-laki itu dan aku hampir terlonjak, buyar pikir.
“Setengah jam lagi, setibanya aku di rumah. Aku ingin melihat sendiri dengan mata kepalaku.”
Lelaki itu mengangguk, perkara mudah baginya setelah semua mencapai mufakat terbaik.
“Dan, jangan lupa. Aku ingin Melisaku!”
Di rumah, Melisa berkelojotan. Rasa sakit bukan main menyerang kepala dan seluruh tubuhnya. Ia kejang, seperti ombak yang bergulung tak beraturan. Ibu dan ayahnya meraung hebat, padahal sore tadi Melisa masih gadis manis di meja makan.
Tak berapa lama Melisa mereda, kemudian diam. Dalam kelelahannya Melisa sempat melihat ke arahku yang berdiri di antara keluarga besar lain yang mengerubunginya, sebelum ia tiba-tiba menjerit panjang dan menyayat, lalu diam kembali tanpa pernah bangun lagi.
***
“Ini yang kau pesan tempo hari.” kata lelaki itu memberiku sebuah botol kaca kecil.
“Jadi aku bisa hamil?”
“Tentu saja. Kau sudah memberi penukar sukmanya. Aku sudah janji akan itu.”
Aku tak kuasa menyembunyikan senyum, dengan tanpa sadar tangan meraba perut. Saat ini yang kuingat hanya dua hal.
Bang Darma akan memujiku di hadapan semua orang karena aku segera memberinya anak.
Dan gadis yang selalu menghinaku dengan mulutnya yang pedas—bahwa aku ini perempuan mandul yang buruk rupa—sudah tidak ada lagi.
Gadis itu sudah mati kini. Melisa namanya.









