Julidin dan Julidah sudah lama menjalin kasih. Bahkan, Julidin sudah ada niat untuk segera meminang kekasihnya itu tak lama lagi. Selama beberapa tahun, Julidin sudah menabung demi persiapan pernikahan mereka. Akan tetapi, kenyataan tak terduga justru membuat keduanya kian sulit untuk mewujudkan impian dan keinginan mereka membina mahligai rumah tangga mengarungi samudera kehidupan.
Suatu hari, Julidah mengajak bertemu Julidin di tempat biasa mereka merajut jalinan kasih mereka. Di pinggir empang milik Mak Ica. Wanita asal Sumedang yang membuka kedai seblak Judez Maendez. Suami Mak Ica adalah pengusaha tahu, yang jadi ikon kota Sumedang, tempat kelahirannya.
Julidin merasa heran, mengapa tiba-tiba Julidah mengajak ketemuan yang sedikit gawat darurat. Dia bertanya-tanya dalam hati, Apakah yang sebenarnya sudah terjadi pada Julidah? Mengapa tiba-tiba ia ingin ketemu denganku? Tanpa ada info sebelumnya.
“Maafkan Idah, Mas Din,” kata Julidah menundukkan wajahnya. Tak mampu menatap kedua tatapan mata Julidin yang tajam. Sosok di depannya kini jadi kembaran Aaron Kwak Kwak, salah seorang aktor kondang yang baru saja naik daun karena suatu kasus yang membuatnya viral di jagat dumay.
“Iya, Idah sayang. Mas Din akan selalu menjadi pendengar yang baik buat Idah. Menjadi teman terbaik dalam suka duka,” ucapnya, menyejukkan hati Julidah, “emangnya kenapa to ayang Idah?”tanya Julidin penuh tanda tanya. Ah! Aku mau investigasi dulu ah! Batinnya.
“Mas-Din,” ucap Julidah dengan bibir bergetar. Kedua matanya berkaca-kaca.
“Iya, Dah. Kenapa?”Julidin kian penasaran.
Julidah menggeleng lemah.
“Ngomong aja, Dah. Jangan disimpan sendiri. Ayo cerita!”tegasnya, memaksa.
“Mas–, aku …, aku …,” ucap Julidah menggantung. Membuat Julidin kian bingung.
“Kamu kenapa? Nggak jelas gitu! Ngomong gitu mbok ya yang jelas.”
Julidah memberanikan diri berkata jujur. Meski nanti dia akan tersakiti. Namun, itu lebih baik ia ungkapkan, agar Julidin bisa menerima dan memahami apa yang diinginkan oleh kedua orang tuanya.
“Aku sudah dijodohkan, Mas. Hiks. Padahal aku maunya hanya kamu seorang. “
“Apa? Dijodohkan?”ucap Julidin tak percaya. Air mata Julidin mengalir menganak sungai. Ditatapnya wajah Julidah yang juga tengah menatap ke arahnya.
“Iya, Mas.”
“Dengan siapa kamu dijodohkan, Idah …?” Kemarahan Julidin mulai memuncak. Julidah mulai ketakutan. “Katakan!”
“A-aku, di-dijodoh-kan sa-sama Ju-li-yan-to, Mas.”
Sontak Julidin terkejut. “Apa, Idah? Julianto? Kakaknya si Julianti itu? Mantanku yang kelima belas?”
Julidah mengangguk. Hancur sudah hati Julidin. Semua harapannya sia-sia dan sirna. Air mata Julidin luruh menetes masuk ke air empang. Menjadi saksi hatinya yang hancur berkeping-keping, tak terkendali. Tanpa Julidah sadari, tubuh Julidin limbung dan terkapar serta kejang-kejang.
Julidah yang melihatnya langsung panik. Ia segera mengguncang tubuh Julidin, sudah tak bergerak. “Astaghfirullah, Mas Din. Bangun!”
Beberapa kali, Julidah mengguncangkan tubuh Julidin yang sudah tak bergerak. Ia segera berteriak minta tolong, “Tolong …! Tolong …! Pacar saya nggak bergerak!”
Sontak, orang-orang yang berada di sana segera berlari mendekati Julidin.
“Tolong, Pak, Mas, Bang, A’a, pacar saya tiba-tiba kejang-kejang ini.”
“Ayo kita bawa ke rumah sakit!”perintah seseorang di antaranya menuju salah satu mobil pengunjung yang diparkir tidak jauh dari sana. Air mata Julidah membanjir, menganak sungai. Hatinya sangat sakit melihat keadaan Julidin.
Tubuh Julidin sudah berada di mobil. Julidah pun ikut bersamanya dengan Mak Ica. Bagaimanapun, Mak Ica merasa bertanggung jawab karena ia adalah pemilik empang tempat mereka bertemu.
“Neng, si A’a teh, kumaha ieu? Kenapa bisa kejang-kejang begitu?”tanya Mak Ica. Julidah masih terisak, khawatir jika Julidin mengalami hal-hal yang membahayakan dan mengancam jiwanya. Ia tak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika hidupnya tanpa Julidin. Pasti HAMPA, seperti lagunya Bang ALASS. Lebih parah lagi mungkin seperti PUISInya Mas Pongki dan kawan-kawan.
“Saya juga nggak tahu, Mak,”jawab Julidah dengan nada penuh kekhawatiran. Air matanya merayap perlahan menuju muara tak bertuan.
“Aih … Kumaha si Eneng. Masa A’a-nya kejang-kejang, Eneng nya nggak tahu.”
Julidah hanya mengangguk. Dalam hati terus berdoa agar nyawa Julidin tertolong.
Sementara itu, Julidin ternyata mendengar pembicaraan Julidah dan Mak Ica. Dia memang pura-pura kejang agar bisa dibawa lari bersama Julidah oleh pihak asing.Waktu berlalu. Julidin tersenyum, matanya terbuka.
Untung nggak ada yang lihat kalau aku cuma kejang pura-pura. Pinter akting juga aku ternyata. Haha. Batinnya.
Sopir mobil juga tidak menyadari jika Julidin baik-baik saja. Mendengarkan percakapan antara Julidah dan Mak Ica.
Julidin seakan menyadari jika jalan menuuu rumah sakit kian dekat. Spontan dia terbangun dan berteriak kepada sopir, “Berhenti …!”
Semuanya terkejut. Di tengah-tengah kepanikan dan kecemasan melanda, tiba-tiba Julidin sudah duduk tegap dengan sikap sempurna tak kurang suatu apapun. Sontak semuanya merasa takut. Apalagi Julidah. Meski sebenarnya dalam hati ia bersyukur bahwa Julidin tternyata hanya pura-pura sakit kejang, tetapi setidaknya kini ia tengah menghadapi masalah baru, Julidin yang kemarin, bukan Julidin yang sekarang.
Mobil berhenti. Mang Jajang, sang sopir begidik melihat Julidin yang tampak beda. Bukan karena dia serem, tetapi keterkejutannya yang sempat mengira Julidin benar-benar dalam kondisi kritis.
“Ju-Juli-din, i-ini be-be-beneran kamu, Din?”tanya Mak Ica tak percaya. Dikucek-kucek matanya berulang kali seolah tak percaya. Tatapan mata Julidin tajam bak menusuk jantung Mak Ica, Mang Jajang dan Julidah.
“Mas- Din. Ka-kamu ….”
“Iya, Idah. Ini aku. Aku masih hidup. Kalau kamu nggak percaya, belahlah dadaku, Idah. Cubitlah tanganku. Maka, jika kamu merasakan aku bergerak-gerak, pastikan bahwa itu aku yang sebenarnya. Bukan aku yang robot. Aku manusia asli, Idahku sayang. Bukan robot kecerdasan buatan.”
Julidah dan Mak Ica melongo tak mengerti dengan bahasa yang dugunakan Julidin. Mak Ica berbisik, “Jul, si Din kumaha nyak bahasana kitu pisan euy.”
“Saya juga ndak tahu to, Mak. Apa mungkin efeknya kesambet dan kejang-kejang ya?”Mak Ica sebenarnya takut dengan perubahan yang terjadi pada Julidin.
“Bisa jadi.” Mak Ica terdiam sebentar, sebelum akhirnya bertanya pada Julidin yang aneh.
Suara Julidin yang sedikit aneh, membuat bulu kuduk Julidah dan Mak Ica meremang. Mereka justru berpikir buruk lagi tentang Julidin yang agak aneh.
Mas Din kok aneh setelah bangun dari pingsan bohongannya. Hmm, pasti ada sesuatu dibalik sesuatu. Akan aku selidiki apa sebenarnya yang tengah terjadi.
“Mas Din, aku tahu kok Mas Din bukan robot, bukan kecerdasan buatan. Karena Mas Din punya rasa dan perasaan. Sedangkan robot, dia …, tidak sepertimu, Mas. Perasaanmu lebih nyata. “
“Bagaimana jika ternyata aku sekarang setengah robot?”












Satu Komentar
Kayaknya kenal, hehehe