Duncan membuka pintu restoran kecil yang berderit dan membiarkan kipas angin meniup helaian anak rambutnya yang hitam legam di wajahnya. Butiran-butiran keringat mendingin menjadi serpihan es saat mengalir di tulang punggungnya.
Dia tidak mengira perjalanan singkat dari stasiun kereta ke restoran akan begitu tidak nyaman. Lagi pula, ia baru saja bertahan hidup selama dua tahun di Korea di bawah ancaman bom dan tembakan terus-menerus. Cuaca panas di Alabama seharusnya menjadi keluhan yang sepele.
“Baiklah, Sayang, apakah kau akan duduk atau hanya berdiri di sana membiarkan semua udara segar keluar?”
Duncan mendongak dan menatap tajam ke arah pelayan berambut cokelat yang tinggi dan ramping yang bersandar di mesin kasir. Pipinya terasa panas, dan kali ini kehangatan itu berasal dari dalam ke luar.
Dia belum pernah melihat mata sewarna itu—seperti ukiran giok yang dijual di pasar tradisional Korea. Dia seharusnya berada di layar besar di pameran lukisan, bukan di kota terpencil yang satu-satunya harapan untuk bertahan hidup bergantung pada kedekatannya dengan jalur kereta api antara Atlanta dan Birmingham.
Menundukkan kepala, Duncan berjalan ke meja kasir dan duduk di salah satu bangku restoran.
“Apa yang bisa kuambilkan untukmu?” Suaranya manis, merdu. Aksennya yang longgar terdengar malas, seperti di rumah.
Perutnya bergejolak karena kerinduan akan kota terpencil lainnya. Kota tempat mamanya dulu duduk menunggunya kembali dari perang, tetapi sekarang hanya ada ayunan teras tua bergoyang sendirian.
Apa yang diinginkannya tidak bisa didapatkannya di sini. Tidak ada teh restoran yang bisa dibandingkan dengan teh Mama. Sejak mendarat kembali di tanah kelahirannya, dia telah mencoba hampir setiap tempat di sepanjang rel untuk mencoba menemukan satu rasa rumah.
Dia melipat tangan di depannya sambil menatap tanda nama gadis itu, “Tootsie.” Itu tidak mungkin nama aslinya, tetapi entah bagaimana itu sangat cocok untuknya. “Es teh, please.”
“Kamu beruntung,” kata Tootsie sambil berbalik untuk mengambil gelas. “Kami punya teh manis terbaik di sini.”
Duncan terkekeh pelan saat mengambil cangkir yang baru diisi. “Semua bilang begitu.”
Tootsie mencondongkan tubuh ke depan, meletakkan sikunya di meja dan menantangnya dengan tatapan menggoda. “Coba saja dulu.”
Duncan mengangkat gelas dengan ragu, tetapi saat cairan itu menyentuh bibirnya, setetes air mata mengalir di pipinya.
Persis seperti bikinan Mama.
Dia menatap pelayan itu dengan kagum. “Kok bisa?”
Tootsie mencondongkan tubuh ke meja, mendekatkan mulutnya ke telinga Duncan sehingga napasnya menggelitik leher Duncan.
“Rahasia tidak gratis, Sayang.”
Senyum mengembang di wajah Duncan melihat keangkuhannya.
Duncan melihat arlojinya. Dia akan ketinggalan kereta berikutnya, kereta terakhir yang harus dia tumpangi sebelum pulang ke Mississippi. Tetapi ia tidak peduli.
Tootsie terlalu sempurna untuknya saat itu, dan tidak ada yang menunggunya di ujung sana selain sebuah batu nisan.
“Aku akan mengajakmu kencan untuk resepnya.”
Tootsie berpura-pura memikirkannya. Jari-jarinya memainkan ujung celemeknya yang usang, tetapi senyum di matanya memberitahunya bahwa jawabannya adalah ‘ya’.
“Aku tidak akan pergi sampai dua jam lagi.”
Duncan menatap es yang mengambang di dalam minumannya, embunnya menggenang di meja.
“Aku bisa menunggu kalau kamu terus membuatkan teh manis.”
Tootsie mengisap bibir bawahnya dan menggigit ujungnya.
“Aku akan menyeduh lagi.”
Bekasi, 5 Juli 2025











