Home / Genre / Misteri / 4. Malam Laknat

4. Malam Laknat

Musim Semi di Tarburg
This entry is part 5 of 7 in the series Musim Semi di Tarburg

Keluarga Lilac panik! Anak gadis mereka saat ini sedang dalam pemeriksaan di kantor polisi Tarburg Selatan, atas dugaan pembunuhan.

Alfred Lilac—sang ayah—alih-alih bersedih, dia justru terlihat lebih kesal. Berbeda dengan sang ibu—Lily. Wanita itu tampak histeris dan berkali-kali mengelus dadanya yang terasa sesak.

Lily sangat prihatin dengan keadaan anaknya sejak Lyra masih di kelas dua sekolah menengah pertama. Pernah suatu kali Lyra mengamuk di kelas karena seorang teman tidak sengaja menumpahkan susu coklat di atas sepatu barunya. Lyra tidak hanya marah, dia berteriak-teriak dengan histeris seraya membalas dengan menumpahkan seluruh isi tas kawannya itu ke jendela, dari lantai dua. Tidak hanya itu, para guru masih harus melerai mereka yang ternyata saling menjambak hingga keluar kelas.

Lily berusaha memahami apa yang terjadi pada anak gadisnya. Semasa kecil, Lyra tergolong anak yang manis, sedikit egois memang, tetapi itu tidak terlalu mengganggu–pikirnya. Wanita berusia 60 tahun itu hanya bisa menduga, jika perubahan sikap Lyra dikarenakan pengaruh dari luar, semua karena pergaulan yang salah. Kesibukan mereka untuk membangun image sempurna di antara kolega membuatnya sering melewatkan waktu bersama anak semata wayangnya. Kenyataan buruk ini menjadi pengingat diri sebagai orang tua yang kurang peduli.

Pasangan Lilac memasuki kantor polisi dengan langkah cepat, seperti tidak sabar untuk segera mencecar sang putri dengan pertanyaan yang sedari tadi sudah disusun di kepala masing-masing. Tetapi semua itu lenyap begitu saja, saat melihat permata hati mereka sedang terduduk lesu di meja interogasi. Wajahnya yang cantik terlihat kusam dengan lingkaran hitam di sekitar mata karena interogasi semalaman. Lily seketika menangis, matanya terpaku pada borgol yang melingkar di pergelangan tangan putrinya.

“Seharusnya Anda tidak boleh masuk ke sini, Tuan, Madam, hanya saja–” Kepala Polisi Harlan sengaja menggantung kalimatnya.

“Ya, ya, aku tahu. Aku yang memohon padamu untuk bisa masuk. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu.” Alfred Lilac memotong dengan suara bergetar. Setegar apa pun yang terlihat, dia hanyalah seorang ayah. Hatinya sudah cukup hancur melihat putrinya seperti itu.

“Ada apa denganmu, Nak? Apa yang telah kau lakukan?” Llily meratap dari balik kaca satu arah. Mau tidak mau, mereka hanya diizinkan melihat dari sana, karena belum ada izin untuk bertemu dengan tersangka pembunuhan selama interogasi berjalan.

Di dalam ruangan persegi itu Detektif Scout duduk menatap berkas di depannya, lalu beralih pada gadis di seberangnya yang masih menunduk.

“Kenapa kau membunuhnya? Ah, tidak … tidak …. Kita mulai dari awal. Kenapa kau berada di sana?” Detektif Scout melihat sosok di depannya dengan tatapan menyelidik. Seorang gadis yang dia kenal sejak baru belajar berjalan, yang lahir dengan latar belakang keluarga terpandang, harus berakhir dengan keadaan yang tidak terbayangkan. Seperti gambaran tentang seseorang yang sedang berada di tempat yang tidak seharusnya.

Wajah Scout mengeras, saat tidak ada jawaban yang keluar dari tersangka. “Kau mau diam seperti ini sampai sore?” tanya Scout mulai tidak sabar.

“Aku melakukannya. Apa lagi?” Lyra akhirnya bersuara.

“Dari apa yang kami lihat di TKP memang seperti itu. Bahkan ada Nyonya Lambert yang jadi satu-satunya saksi. Aku tanya, kenapa kau melakukannya?” Scout menahan suaranya serendah mungkin, agar semua cepat selesai dan dia bisa pulang sebelum waktu makan malam. Meskipun itu mustahil.

“Apa lagi? Karena dia sampah!” Lyra berteriak sambil menutup telinga dengan kedua tangan. Scout terhenyak, lalu menyuruh gadis itu untuk tenang. Lyra menurut.

“Ceritakan padaku … semuanya.” Scout menarik napas panjang.

Sesaat Lyra terdiam, bukan untuk menolak bicara, tetapi menahan diri agar tidak meledak. Karena apa yang akan dikatakannya tidak hanya akan mengungkapkan betapa buruk sikapnya selama ini, tetapi lebih kepada pengakuan kelam tentang sisi buruk manusia saat mulai serakah. Itulah yang Lyra rasakan sekarang. Keinginan memiliki Basha adalah keserakahan yang harus dibayar mahal.

“Bersiaplah untuk bosan, Coach.” Lyra bersandar di kursi.

“Jangan khawatirkan itu.” Scout bersandar dan bersiap mendengarkan.

Sesaat kemudian mengalirlah semua kronologi dan adegan yang dialami Lyra, dari awal penyebab dia mendatangi tempat itu sampai kejadian di malam celaka.

Sekali lagi Scout menarik napas panjang, saat Lyra mengakhiri ceritanya. “Baiklah. Aku mengerti.”

“Tidak. Kau tidak mengerti.” Seketika wajah Lyra mengeras. Kemarahan bercampur dengan penyesalan yang tak bisa disembunyikan.

“Kau menyesal? Sudah semestinya,” kata Scout sambil menambahkan catatan.

“Kau tahu apa yang membuatku menyesal, Coach?” tanya Lyra tiba-tiba.

“Membunuhnya?” tebak Scout.

“Adakah yang menyesal sudah membunuh kecoa?” Lyra balik bertanya.

“Entahlah. Lalu apa?” Scout menyerah.

“Aku menyesal menolak Basha. Jika diizinkan kembali ke masa lalu, aku ingin menerimanya, dan memberi kesempatan untuk kami bersama.” Suara Lyra terdengar lesu.

“Meski saat itu kau tidak mencintainya?” tanya Scout hati-hati.

“Bisa aja—iya. Lebih baik menyesal karena menerima. Paling tidak, aku tidak akan penasaran karena pernah menolaknya.”

Musim Semi di Tarburg

. Kunjungan di Saat Minum Teh . Kunjungan Penuh Harapan

Penulis

  • Zavny

    Hanya seseorang yang senang menulis.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image