Tidak hanya terlihat manis,
Akan tetapi suara yang sepi dan riuh terdengar pelan di gendang telinga
Bahkan nyanyian tonggeret yang ramai sedikit merdu di tengah-tengah pohon bambu
Sesekali bangbung berkelompok di pinggiran jalan
Menemani dinamika hiruk pikuk kehidupan perkampungan
Aroma tanah yang khas mengingatkan bahwa jiwa yang murni berasal dari intisarinya
Rumah-rumah sederhana masih banyak tersusun kala hendak menemukan kedamaian
Tak banyak polusi dan kemacetan, seperti kota yang tertutup asap
Hanya saja masih banyak kebimbangan dalam akar hati
Tentang keadaan dan juga nasib yang bersembunyi pada daun-daun ilalang
Menjelang malam, hampir semua kesibukan t’lah dirapikan
Selepas murad berserakan mengawan mengikuti cahaya mentari
Segala lelah direfleksikan dengan menatap harap hari esok
Kadangkala pada bayangan gelap,
Beberapa daun yang bermadu mengintip ombak
Sedikit liar namun membuat nyaman beraksara rindu
Tentunya duka selalu ada,
Menjadi sisi lain dari senyuman yang khas
Tak perlu berpayung keluh kesah,
Sebab dalam duka ada penawarnya di sela-sela rerumputan
Bukan pada gemerlapnya lampu-lampu mewah, melainkan dari embun yang bersahaja
Kala pagi berwarna senja,
Tak sedikit jiwa menerabas dingin paling gigil
Menahan beratnya kantuk, namun tetap saja bergegas
Karena mereka mengerti, raganya sedang berlomba dengan kokokan ayam
Agar segala berkah tak dicuri oleh si jago yang t’lah bertengger diatas pagar
Pada setiap gerak,
Orang-orang menembus labirin kabut yang kini hilang di kota metropolitan
Melawan sulitnya medan terjal jalanan dan dipenuhi belukar
Akhirnya aku mengerti,
Kehidupan di bawah pohon rindang lebih damai daripada di dalam gedung pencakar langit











