Langit pagi berwarna pucat ketika mobil melaju meninggalkan Magelang menuju Yogyakarta. Jalanan masih basah oleh sisa hujan malam, dan embun menggantung di pucuk-pucuk pohon seperti kenangan yang enggan jatuh. Di kursi belakang, Ayesha memandang keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi, dan deretan pegunungan Manoreh yang pernah disapa dalam tawa kini hanya siluet yang menjauh satu per satu, seperti halaman buku yang ditutup perlahan.
Bhaskoro menyetir dengan tenang. Sesekali ia melirik kaca spion, memastikan Ayesha baik-baik saja, meski ia tahu kata “baik” pagi itu terlalu berat untuk diucapkan. Aku duduk di sampingnya dengan tangan bertumpu di pangkuan, merasakan ada sesuatu yang tertinggal di setiap kilometer yang kami lewati. Perjalanan ke bandara YIA terasa lebih panjang dari biasanya, seolah jalan pun ikut menahan agar tak lekas sampai.
“Ayesha.” Aku memecah sunyi dengan suara lembut, hampir berbisik. “Kamu ingat pertama kali kita ke Pringapus?”
Ayesha mengangguk pelan. Bibirnya bergetar, lalu tersenyum tipis. “Aku ingat. Aku kira candi itu akan sunyi dan dingin. Tapi justru hangat. Seperti … seperti kita bertiga.”
Aku tersenyum. “Kamu yang paling berisik waktu itu. Terus bertanya ini-itu, sampai Mas Bhaskoro harus menjelaskan sambil tertawa.”
Bhaskoro ikut tersenyum, matanya tetap pada jalan. “Karena Ayesha selalu melihat detail yang sering kita lewatkan, retakan batu, arah cahaya, bahkan suara angin.”
Ayesha menelan ludah. “Aku belajar semua itu di sini. Di Magelang … bersama kalian. Bahwa sejarah bukan cuma angka tahun dan catatan yang harus dihapal, tapi rasa.”
“Rasa itu ada karena ketertarikan yang akhirnya membuat jatuh cinta ….” Aku menambahkan. Ayesha mengangguk setuju.
Mobil melaju melewati hamparan pemandangan yang memikat. Aku melanjutkan ceritanya, mengulang kenangan seperti merangkai manik-manik yang tercecer. “Umbul Jumprit dengan airnya yang dingin dan jernih, kera-kera yang mengintip dari balik pepohonan, dan kita tertawa saat salah satu kera mencuri makananku dan Kamu berteriak ketakutan …?”
“Ha ha ha, aku takut digigit,” ujar Ayesha sambil terkekeh mengingat kejadian itu.
“Candi Gondosuli yang menyambut dengan keheningan, lalu Ngadisari yang membuat terdiam lama, seakan mendengar bisik masa lalu.” Ayesha menerawang mengingat serpihan peristiwa yang baru dilewati.
“Dan Liyangan, Kamu berdiri lama di sana. Aku ingat kamu bilang, tempat itu seperti rumah yang lupa namanya.”
Ayesha mengangguk, tiba-tiba air mata jatuh tanpa ia tahan. “Aku merasa diterima. Padahal aku hanya tamu.”
“Kamu bukan tamu,” Bhaskoro berkata pelan. “Kamu bagian dari perjalanan.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Ayesha memejamkan mata, membiarkan mobil membawanya semakin dekat pada perpisahan yang tak bisa ditawar. Bayangan Zack sesekali menyelinap, janji-janji yang tertinggal di bandara sebelumnya, rencana-rencana yang kini harus menunggu waktu dan jarak.
Ketika bangunan bandara YIA mulai terlihat, Ayesha seperti gelisah. Papan penunjuk arah, deretan mobil, dan arsitektur modern yang megah terasa kontras dengan candi-candi sunyi yang baru saja mereka tinggalkan. Aku meraih tangan Ayesha dari kursi depan, menggenggamnya erat.
“Tidak apa-apa merasa sedih, Itu tanda kamu sungguh-sungguh mencintai apa yang kamu temui di sini … candi, perjalanan, dan …. kami.” Aku memeluknya, merasakan jantungnya yang berdegup lebih kencang.
Kami akhirnya turun dari mobil. Angin bandara bertiup kencang, membawa aroma laut yang samar. Pengumuman keberangkatan terdengar berulang, dingin dan formal. Ayesha menyeret koper kecilnya, langkahnya berat seolah lantai bandara terbuat dari kenangan.
Di depan pintu keberangkatan internasional, waktu seakan menyempit. Ayesha menoleh padaku, lalu pada Bhaskoro. Aku lebih dulu memeluknya, erat, tanpa kata. Pelukan itu lama, seakan ia ingin menyimpan seluruh perjalanan di dalam dekapan itu, debu candi, tawa, kelelahan, dan harapan.
“Aku tidak ingin pergi,” Ayesha berbisik, suaranya pecah.
“Pergi bukan berarti selesai,” Aku menjawab, mengusap punggung Ayesha. “Ini jeda.”
Ayesha mundur sedikit, menatap wajahku yang basah oleh air mata. “Aku akan kembali,” katanya, seperti sumpah.
“Janji?” ulangku. Ayesha mengangguk.
“Aku akan kembali bersama Zack. Kita lanjutkan eksplorasi yang tertunda.”
Aku memaksa tersenyum di antara tangis. “Aku menunggu. Aku … dan Mas Bhaskoro menunggu.”
“Magelang tidak ke mana-mana. Candi-candi itu akan tetap di sana, menunggu langkahmu,” timpal Bhaskoro sambil mendekat, “Jangan biarkan jarak membuatmu lupa. Bawa pulang cerita-cerita ini. Ceritakan pada dunia tentang keindahan yang pernah Kamu lihat. Bawa semua kisah di sini agar dunia tahu … Negeri ini punya keajaiban yang tidak dimiliki negara lain.”
Ayesha memeluk Bhaskoro singkat, penuh hormat dan rasa terima kasih. Lalu ia kembali padaku, memeluk sekali lagi, lebih erat dari sebelumnya, seakan ingin menghentikan waktu. Tangannya gemetar ketika akhirnya ia melepaskan pelukan itu.
Langkah Ayesha menuju pintu pemeriksaan terasa seperti langkah pertama menjauh dari rumah kedua. Ia menoleh sekali lagi. Aku mengangkat tangan, tersenyum sambil menangis. Bhaskoro berdiri di sampingnya, diam tapi penuh makna.
Ketika Ayesha menghilang di balik pintu masuk keberangkatan, Aku menghela napas panjang. Ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa, tapi di dalamnya tersimpan keyakinan. Bhaskoro meraih tanganku, berjalan kembali ke parkiran dengan langkah pelan. Jalan pulang terasa sunyi, sebuah kehilangan tapi sekaligus harapan.
Di dalam mobil, Aku memandang ke depan. “Dia akan kembali,” gumamku menenangkan perasaan yang seperti tercerabut paksa.
Bhaskoro menoleh, lalu mengangguk. “Perjalanan yang baik selalu punya jalan pulang.”
[Aku menyimpan Magelang … candi-candi, tawa, kenangan, dan pelukan terakhir … sebagai bekal menembus jarak. Aku janji bahwa perpisahan kali ini hanyalah cara lain bagi cerita untuk menemukan kelanjutannya. Tunggu aku bersama Zack]
Sebuah pesan masuk di ponselku, pesan dari Ayesha sebelum pesawat Singapore Airline meninggalkan bandara YIA, menembus batas cakrawala hingga lenyap dari pandangan.
“Mau kemana?” tanyaku saat menyadari mobil bukan mengarah ke jalan pulang.
“Ke suatu tempat … yang mengingatkan awal cerita kita,” jawab Bhaskoro kalem.
“Hah …?” Aku spontan menganga kaget, tapi laki-laki berkacamata itu tetap fokus mengemudi, meski sesekali aku bisa melihat ia tersenyum-senyum penuh misteri.
Senja mulai turun membawa sisa-sisa rasa kehilangan yang belum sempat terucap. Di hadapan membentang lautan luas dengan ombak memecah seakan menjadi jeda dari perjalanan panjang hari itu.
Angin pantai menyapu wajah, memainkan ujung jilbabku, dan membawa suara camar yang berputar di kejauhan. Garis cakrawala tampak tegas tapi memikat, seakan menyimpan rahasia panjang tentang waktu dan keteguhan alam. Di kejauhan, siluet bukit pasir dan tebing karang berdiri kokoh, memberi kesan bahwa pantai ini bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang kontemplasi.
Pantai yang terletak di Kabupaten bantul, Yogyakarta, ini adalah salah satu pantai yang paling terkenal dan populer, dikenal dengan pasir hitamnya yang khas dan ombak yang besar, menciptakan suasana yang dramatis dan indah di antara tebing-tebing di pinggir pantai yang menambah keindahan panorama.
Ada getaran yang menyeruak hadir, Pantai Parangtritis … lima tahun lalu, untuk pertama kalinya tumbuh rasa rindu setelah sebelumnya aku memutuskan tidak akan menginjakkan kaki lagi di Yogyakarta, luka yang membuatku membenci segala yang berhubungan dengan kota budaya ini. Namun, saat menyaksikan keindahan matahari tenggelam di batas langit, aku jatuh cinta lagi, pada kotanya, pada pemandangannya, dan pada Bhaskoro … laki-laki yang menyembuhkan luka di saat aku memutuskan untuk tidak jatuh cinta lagi.
“Melamun?” tanya Bhaskoro tiba-tiba duduk disampingku, ikut mengubur kaki di pasir seperti yang kulakukan. Aku menggeleng pelan.
“Ingat saat jatuh cinta lagi?” tebaknya. Aku mengembuskan napas … mengangguk pelan, nyaris tak kentara.
“Ingat Yogya I’m In Love?” cecar Bhaskoro memancing.
“Yah, perkenalan pertama di kota Yogyakarta yang membuatku kembali jatuh cinta.” Aku mengenang … entah kenapa tiba-tiba bisa lancar mengucapkan kalimat itu.
Di antara sunyi dan cahaya jingga, Aku dan Bhaskoro seakan belajar kembali menerima perpisahan … bahwa setiap kepergian selalu meninggalkan ruang, tapi juga harapan untuk pertemuan yang lain.
Setahun kemudian setelah pertemuan di Yogyakarta, semesta kembali mepertemukan kami secara tak sengaja di kota Magelang, membuatku mengukir kedekatan yang lebih dalam. Aku benar-benar jatuh cinta, pada setiap jejak kesederhanaan yang mengikuti eksplorasi bersama komunitas gowes kota Magelang. Kekaguman yang membuat jatuh cinta akhirnya melahirkan sebuah karya bertajuk Gowea Cinta.
Namun, cinta tak selamanya indah, fakta bahwa rasa yang tumbuh harus kembali pupus saat dihadapkan pada kenyataan Bhaskoro bukanlah pria single yang bisa kumiliki cintanya secara utuh. Kekuatan cinta yang tak terkatakan memang menjadi misteri. Aku kembali ke Jawa Timur, tapi semesta seakan kembali mengajak bercanda. Tiga tahun lalu di sebuah perjalanan eksplorasi peninggalan sejarah Majapahit … laki-laki itu muncul kembali, entah kebetulan atau kesengajaan, tapi cukup untuk membangkitkan kembali semua getaran rasa yang lama tertidur. Sebuah Adyatma … yang tidak pernah ada dalam angan, menegaskan bahwa cinta adalah anugrah terindah. Bhaskoro menjadi rindu yang kurahasiakan. Meskipun bukan takdirku, tapi namanya abadi dalam ceritaku
Cinta memang misteri, seberapa kuat aku berusaha mematikan perasaan, semesta justru menyiapkan skenario yang berbeda. Rasa yang tersimpan sebagai rahasia, tersembunyi dalam sisi yang hanya diri sendiri yang tahu, seperti sisi tersembunyi dari taman Jawa, sebutan lain dari kota Magelang, hingga melahirkan The Hidden Site of Tuin Van Java, dalam balut petualangan, eksplorasi, dan semua debar yang tersembunyi dari setiap sudut tempat yang didatangi. Rasa yang kusembunyikan tak pernah bisa dilengserkan oleh apapun, seperti cerita yang tak pernah memiliki akhir.
Kupikir waktu akan membuatku menjauh, nyatanya setahun berlalu sejak kami kembali terhubung, takdir mempertemukan kembali. Meski ada batas tak kasat mata yang tak bisa dilanggar, tapi membuktikan bahwa cinta yang indah bukan hanya sekadar kebersamaan, ada cerita yang tak pernah usai meski lembaran terakhirnya sudah ditutup. Sebuah Ananta Kama … seperti cinta, ketulusan, dan kekuatan yang melatari berdirinya candi-candi kuno dengan segala cerita yang menyisakan misteri.
“Melamun?” teguran Bhaskoro membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum kecut, menggeleng, tapi ada rasa yang bergerak … membuka babak baru yang entah akan bermuara di mana. Ada sesak bila mengingat, mungkin terkesan bodoh karena hanya aku yang tetap mencintai meski yang mencintainya mungkin bukan hanya aku.
Bhaskoro menuntunku melangkah perlahan menyusuri pasir yang dingin, membiarkan kaki disentuh ombak yang mulai pasang. Langit telah berubah warna, jingga pelahan berganti abu-abu. Di tengah keindahan Parangtritis yang megah dan purba, pantai ini seakan mengajarkan bahwa seperti ombak yang tak pernah lelah kembali ke pantai, setiap cinta akan menemukan caranya sendiri untuk melanjutkan cerita … seperti Ananta Kama.
TAMAT








