Saya udah lama banget sakit, kok udah berobat sana-sini, ke dokter yang kata orang terkenal dan pengalaman, belum juga sembuh? Mungkin itu pertanyaan Anda selama ini. Apalagi saat mendengar atau melihat/membaca kabar tentang kesembuhan orang lain dari penyakit yang sama seperti yang Anda derita, kok bisa? Sampai-sampai Anda menganggap; ah, itu hanya hoaks aja. Apalagi saat membaca kesaksian atau pengalaman ajaib mengenai mukjizat kesembuhan. Anda barangkali malah menganggap semua hanya mimpi belaka bagiku. Tuhan bukannya gak adil, pilih kasih, menunda-nunda atau malah ‘gak mau Anda sembuh’! Jadi, kira-kira mengapa, dong? Ini beberapa kemungkinan jawabannya.
- Tuhan ingin manusia sadar jika jiwa-raga manusia, sesehat-sekuat apapun, seberuntung apapun bibit atau ‘materi genetika’-nya, luar biasa cantik-tampan-atletis dan lain-lain semua gak ada yang abadi. Kita boleh bangga jika jarang sakit alias sehat walafiat, panjang usia dan awet muda. Atau jangan-jangan pernah iri hati kepada sesama karena kita kok dilahirkan, maaf, misalnya ‘dikit-dikit masuk angin’. Semua itu bukan takdir atau faktor hoki-keberuntungan semata-mata, melainkan karena Tuhan rindu kita sadar dan mau belajar dari kondisi masing-masing yang dikaruniakan-Nya.
- Kondisi dan keberadaan kita tergantung penuh pada kehendak Tuhan. Bukan pada makanan, obat, suplemen, latihan, diet ketat dan lain-lain. Bukan karena kita hebat atau disiplin menjaga kesehatan, juga sukses menjalankan diet/treatment/oplas, melainkan karena Tuhan yang jaga dan peliharakan!
- Sakit-penyakit ada (diizinkan Tuhan) bukan semata-mata karena kelalaian siapapun, hukuman dari Tuhan Allah, atau akibat dosa. Beberapa orang yakin jika penyakit adalah ‘penghapus/pembersih’ dosa, bagaimana dengan Anda? Terlepas dari setuju atau tidaknya pada hal itu, penulis berpendapat jika penyakit diizinkan-Nya ada karena alasan nan ‘misteri’ (bukan misterius ala fiksi atau bahan tebak-tebakan) sebagai bagian dari kisah-Nya yang belum mampu manusia ketahui atau Dia bersedia ungkapkan.
- Pernahkah terpikirkan oleh kita, mengapa … (anggota tubuh) saya ini sakit/kurang sempurna? Sebagai contoh, penulis sejak usia delapan tahun ‘dikaruniai’ mata miopia yang sekarang sudah -8 (minus delapan). Saat masih anak-anak, bahkan saat anak-anak lain yang juga berkacamata saja ‘baru’ minus seperempat atau setengah, penulis sudah ‘divonis’ minus dua (dan terus bertambah hingga mentok di angka delapan). Namun talenta yang Tuhan titipkan kepada penulis justru ada pada visual/mata yang lemah ini. Kira-kira, mengapa? Satu, Dia ingin agar penulis terutama mengandalkan-Nya, bukan hanya kacamata atau alat bantu. Dua, Dia ingin menunjukkan bahwa kelemahan saya bisa juga menjadi kekuatan saya.
- Perlu kita ingat jika penyakit lama sembuhnya atau gak sembuh hingga akhir hayat bukan sebuah kelemahan/kutukan, melainkan ada maksud-Nya nan pasti indah, sudah dalam ‘koridor’ rencana Tuhan. Dalam penantian itu, tetaplah bersyukur, berdoa dan memuji-Nya. Jawaban-Nya penuh kejutan, tak terduga, bahkan di luar nalar mampu pikirkan! Pernah penulis bahas mengenai ujian-ujian kehidupan, sakit-penyakit adalah satu dari beragam ujian kehidupan. Cara menghadapinya selain berobat (berusaha sembuh), mengakui ketidakberdayaan kita di hadapan Tuhan serta berserah. Berserah bukan berarti pasrah-menyerah alias diam saja, melainkan meletakkan segala beban di tangan-Nya. Apapun yang terjadi nanti-nanti, entah baik maupun sebaliknya, kita kelak bisa mengatakan dengan yakin; God is good.
Apakah kita masih mampu bersyukur walaupun belum (tentu) sembuh? Hidup dengan penyakit itu berat, namun apabila kita mau belajar dari apa yang dilakukan beberapa tokoh di Alkitab? (Misalnya Naaman, perempuan yang sakit pendarahan, hingga orang-orang lain yang bertemu Tuhan Yesus kemudian disembuhkan dari kelumpuhan, buta dan lain sebagainya), niscaya hidup akan jauh lebih tenang dan tetap bernilai. Badai belum berlalu, akan tetapi penyertaan Tuhan tak pernah usai.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 20 Januari 2026









