Menjelang sore di Tuksongo datang dengan udara yang sedikit basah. Hujan tipis menyisakan genangan di antara perkampungan dan pepohonan yang menjadi pembatas jalan, seolah enggan beringsut pergi. Di tengah lapangan kecil desa itu, dulu pernah berdiri sebuah pohon randu alas, tinggi, besar, dan sunyi. Batangnya berlapis usia, menimbulkan kesan purba, akarnya menembus tanah seperti urat nadi bumi. Namun, kini pohon itu sudah ditebang.
Nadia dan Kyoto, berdiri tak jauh dari sisa randu alas. Menatap nanar pada patahan kayu yang meranggas dan berserak dalam pelukan bumi, meski sesungguhnya jantung pohon masih berdegup. Nadia mendengus kesal. Mereka datang ingin belajar dari pohon yang menjadi ikon desa tersebut, pohon yang disebut sudah berumur lebih dari dua setengah abad. Namun, hari itu mereka harus menjadi saksi proses, euthanasia, kematian yang dipaksakan.
“Rasanya aneh,” bisik Nadia, matanya tak lepas dari pohon itu. “Kita datang untuk melukis sejarah, menghidupkan jejak peradaban yang tak dikenal, tapi justru dihadapkan pada perpisahan.”
Kyoto mengangguk pelan. “Kepala desa bilang akarnya sudah rapuh. Takut tumbang ke rumah warga. Secara logika, masuk akal.”
“Ya, secara logika,” ulang Nadia lirih.
Beberapa warga desa masih duduk melingkar di bawah sisa kemegahan pohon raksasa tersebut, membawa bunga, kemenyan, dan air dalam kendi tanah. Bau tanah basah bercampur asap tipis kemenyan menyusup ke dada, membuat suasana terasa lebih dalam dari sekadar kesaksian sebuah proses
Seorang lelaki tua, warga atau mungkin sesepuh desa, membuka suara. “Pohon ini bukan sekadar kayu. Ia saksi. Banyak doa digantungkan di sini, banyak orang berteduh dari panas dan takut.”
Kyoto mencondongkan tubuhnya ke Sekar. “Ini yang jarang kita temui,” katanya pelan. “Relasi manusia dengan alam, bukan cuma fungsi, tapi makna.”
Nadia menatap tanah. “Mungkin kita terlalu sering bertanya ‘apa gunanya’, tapi jarang bertanya ‘apa artinya’.”
Doa dibacakan lagil, seperti rapalan mantra yang dilagukan. Tidak keras, tidak juga panjang. Namun, setiap kata seolah jatuh ke tanah, meresap ke akar randu alas yang tak lagi perkasa. Angin berhembus pelan, sisa pohon yang tak lagi menjulang itu berdesir seperti menjawab. Nadia merinding.
“Kyoto,” bisiknya sambil merapatkan tubuhnya pada laki-laki di sampingnya.
“Aku merasa seperti … pohon ini sedang mendengar.”
Kyoto menarik napas dalam-dalam. “Atau mungkin kita yang baru belajar mendengar.”
“Butuh waktu kurang lebih lima hari untuk proses penebangan randu alas,” ucap seorang warga yang masih duduk di sana, seolah mengenang sesuatu yang sulit dilepaskan dari ingatan.
“Pelahan tambang mulai dinaikkan melingkari dahan-dahan berukuran besar. Suara mesin gergaji atau senso mulai berdengung. Sebagian warga yang menyaksikan menahan napas tegang saat baja tipis mulai melukai badan pohon,” paparnya lagi. Kyoto mendengar dengan saksama, sementara Nadia menatap nanar, di dalam diam itu, Nadia menutup mata, membayangkan usia randu alas yang lebih panjang dari cerita siapa pun di desa ini.
Warga bernama Ngatno itu bercerita bagaimana cabang-cabang rapuh dipotong menggunakan bantuan crane mengingat lokasi berdirinya randu alas tersebut dekat dengan pemukiman warga, memakan waktu dua hari.
Kemudian mulai hari ketiga pemotongan dilakukan secara manual, sampai pada hari kelima berhasil memotong batang hingga disisakan sekitar 8 meter. Pohon randu alas ditarik dalam posisi miring dan ambruk menuju arah lapangan. Setelah ambruk, spontan warga pun bersorak sorai.
“Apa yang akan kita tulis?” tanya Nadia akhirnya.
Kyoto tersenyum kecil. “Bahwa kehidupan tidak selalu tentang membangun sesuatu yang baru. Kadang kehidupan tentang mengakhiri dengan hormat.”
Nadia dan Kyoto melangkah pergi dengan langkah berbeda dari saat mereka datang … lebih pelan, lebih sadar.
Di bawah randu alas Tuksongo, mereka belajar satu hal penting, bahwa alam bukanlah benda mati. Ia adalah guru yang berbicara pelan, dan hanya bisa didengar oleh mereka yang bersedia diam.
Di mobil, Leon menunggu dengan pertanyaan yang tidak sempat ia ucapkan. Nadia memasuki mobil dari pintu penumpang di belakang kursi pengemudi. Kyoto menatap heran, tapi Nadia justru menyodorkan kunci mobilnya. Sebuah isyarat bahwa ia sedang tidak ingin mengemudi.
“Bagaimana perutmu?” tanya Nadia pada Leon, laki-laki bule itu tadi mengeluh sakit perut setelah menghabiskan sepiring nasi gudeg. Mungkin perutnya belum beradaptasi dengan makanan Indonesia hingga berontak minta perhatian. Akhirnya Leon memutuskan menunggu di mobil, tidak ikut turun.
“Itu … pohon raksasa benar-benar sudah ditebang?” Leon balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Nadia.
“Rencana penebangan pohon randu sempat ditunda,” jawab Nadia.
“Kenapa?” tanya Leon.
“Alasannya tim Pemkab Magelang meminta waktu untuk mempelajari kondisi pohon secara lebih mendalam untuk memastikan apakah randu alas tersebut masih dapat diselamatkan,” jawab Nadia.
“Padahal sudah dilakukan selamatan sebelum penebangan,” gurau Kyoto, ada kelegaan.
“Kalau masih bisa diselamatkan, kemungkinan tidak jadi ditebang, hanya ranting-ranting rapuh yang dibersihkan,” ucapn Nadia lagi.
“Namun …,” desah Nadia menjeda Kalimatnya, matanya meredup.
“Akhirnya harus ditebang juga, demi keamanan warga katanya.”
“Tadi aku sempat melihat, perakaran, cabang, dan bekas potongan, sepertinya pohon masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan meski sangat terbatas,” ujar Kyoto.
“Memang benar, tapi sebaiknya cabang-cabang pohon yang rapuh tetap dilakukan perabasan,” sela Leon, sejak tadi matanya awas mengamati pohon dengan diameter lebih dari 20 meter tersebut.
“Pohon ini merupakan saksi bisu yang mungkin telah ada sejak zaman pembangunan kembali Candi Borobudur oleh Raffles. Karena itu tetap menyisakan batang bawah setinggi sekitar 8 meter untuk dijadikan fosil hidup atau monumen, agar ingatan kolektif warga terhadap sang “penjaga” desa ini tetap terjaga.” Nadia berharap, sebagai pelaku sejarah yang kerap melukis jejak yang tidak diketahui orang banyak, ia merasa sayang jika manfaat terbesar pohon adalah sebagai penyimpan cadangan air tanah yang sangat baik itu hilang. Selain itu pohon raksasa tersebut juga menjadi tempat bersarangnya berbagai jenis burung predator.
“Tapi apa benar pohon ini wingit?” tanya Kyoto.
“Bagi masyarakat lokal, pohon besar seperti Randu Alas sering dianggap memiliki nilai “wingit” atau keramat. Hal ini sebenarnya merupakan bentuk kearifan lokal untuk menjaga agar pohon-pohon raksasa tidak ditebang sembarangan, sehingga ekosistem lingkungan tetap terjaga.” pungkas Nadia.
“Satu pelajaran berharga hari ini,” potong Kyoto sebelum meninggalkan lokasi. Leon dan Nadia menatap Kyoto bersamaan.
“Fosil yang tersisa nantinya diharapkan menjadi pengingat bahwa alam pun memiliki batas usia, tapi kenangan atas pengabdian sang pohon kepada desa akan tetap abadi.”
“Aku setuju dengan Kyoto,” tandas Leon.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan Randu Alas Tuk Songo, menyusuri jalur pulang dengan hati yang lebih penuh daripada saat datang. Masing-masing sibuk mengurai isi kepala yang riuh mencari jawaban.
Bukan hanya soal randu alas, tapi pohon yang sebagian cabang dan rantingnya telah ditebang, dia akan berdiri sebagai saksi bisu perubahan. Ada yang hilang, ada yang tersisa, dan ada yang menunggu waktu untuk tumbuh kembali. Ada pelajaran berharga yang bisa diambil, seperti yang dikatakan Kyoto. Bahwa menebang bukan sekadar soal menghilangkan, tetapi tentang tanggung jawab atas apa yang ditinggalkan.
Penebangan mengajarkan arti keseimbangan, bahwa alam boleh dimanfaatkan, tapi tidak untuk dilupakan. Setiap batang yang tumbang membawa pesan tentang pentingnya kebijaksanaan, perhitungan, dan keberlanjutan. Randu Alas Tuk Songo menutup perjalanan hari itu dengan sunyi yang berbicara, bahwa manusia dan alam hanya akan berjalan jauh bila saling menjaga, bukan saling menghabiskan.










