Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 18

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 18

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 19 of 28 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Di antara mereka yang ditolak untuk masuk, ada tiga orang yang memaksa ingin masuk. Pazel, ibunya, dan selingkuhannya, Rima.

“Kenapa kami dilarang masuk? Apa kamu pikir kami ini orang miskin? Kami bukan orang miskin. Kami mampu membayar semua makanan di sini.”

Bu Rohana, benar-benar marah karena kedatangan mereka ditolak mentah-mentah. Dia merasa sangat terhina.

Sebelum datang ke tempat itu, dia sudah berkhayal akan memotret momen saat dia makan, saat makanan terhidang di meja, dan saat mereka tertawa bersama calon menantunya, lalu akan dia pos ting di media sosial miliknya. Sudah pasti Silvia mantan menantunya akan panas saat melihat postingan dia. Tapi ternyata, kenyataan tidak sesuai dengan yang dia harapkan.

“ Bukan begitu, Nyonya. Kami sedang ada tamu penting. Tempat ini sudah dipesan secara keseluruhan oleh keluarga Pak Hermansyah. Jadi kami harap Nyonya maklum.”

Tidak hanya pihak keamanan restoran yang menghalangi mereka. Sebagian dari pengawal pribadi Efendi Kusuma dan Herman juga ada di depan pintu masuk menghalangi mereka.

Pazel merasa risi melihat perdebatan ibunya dengan para bodyguard itu ditonton orang-orang. Akhirnya dia berinisiatif untuk membujuk ibunya agar mau meninggalkan restoran itu.

“Sudahlah, Ibu. Ayo kita pergi ke restoran lain saja. Jangan bikin malu di sini,” ucap Pazel.

“Tapi Ibu ingin makan di sini. Ibu juga ingin makan di restoran yang mahal,” Bu Rohana merengek, tak ubahnya seperti anak kecil.

“Masih banyak restoran lain, Bu.” Pazel yang malu dilihat oleh orang-orang akhirnya mengajak ibunya dengan paksa. Tapi ibunya memaksa agar ia tetap bisa makan di tempat itu.

“Tidak bisa, Nyonya. Jika Nyonya bersikeras terpaksa kami mengusir Nyonya secara kasar.”

Sepertinya para bodyguard itu juga kehabisan kesabaran menghadapi tingkah Bu Rohana yang ngeyel.

Melihat keadaan yang semakin memburuk, Pazel segera menengahi.

“Tidak, Pak. Maafkan, Ibu saya. Saya akan membawa beliau pergi.”

“Ayo, Ibu. Kita pergi dari sini. Besok saja kita datang kesini lagi.”

Dengan terpaksa, Pazel memberikan janji yang belum pasti kepada ibunya.

Mendengar anaknya akan mengajaknya besok, Bu Rohana pun jadi melunak. Dia sangat ingin makan di tempat itu, karena makanannya terkenal enak. Selain itu tempatnya juga terkenal sangat megah.

Hanya orang-orang kalangan atas yang mampu makan di tempat itu.

“Benar, Zel? Kamu janji akan mengajak Ibu ke tempat ini, besok? Tanya Bu Rohana

“Iya. Pazel janji, Bu!” ucap Pazel meyakinkan ibunya. Mereka bersiap untuk pergi dari restoran tersebut.

Di dalam restoran itu keluarga Herman dan Efendi sedang menikmati makan malam dengan bahagia. Sesekali canda dan tawa mewarnai kebersamaan mereka.

“Kita harus sering-sering makan malam seperti ini,” ucap Efendi.

Dia memang tidak kekurangan apa pun selain dari kebersamaan dengan orang-orang yang dia sayangi. Hidup bergelimang harta tidak membuat dia bisa tertawa dengan lepas. Setiap hari waktunya di habiskan dengan urusan bisnis.

Untunglah selama sepuluh tahun ini ada Pak Herman yang selalu membantunya dalam urusan bisnis. Sungguh di luar dugaannya, Pak Herman bisa sehebat itu dalam berbisnis. Orang yang sepuluh tahun lalu ia tabrak tanpa sengaja, kini menjadi mitranya dalam berbisnis. Dia tidak pernah merasa tersaingi sedikit pun.

“Tentu, Bang. Tapi Perdana Kusuma harus ikut makan malam bersama kita,” ujar Herman menimpali.

“Iya, dong. Harus itu.” Gelak tawa kembali terdengar di ruangan itu.

“O ya, Bang. Rencanaku, aku ingin menyerahkan perusahaanku kepada penerusku. Bagaimana menurut Abang?”

“Kalau menurutku memang sudah sepantasnya urusan perusahaan kita serahkan kepada yang muda, kita tinggal santai dan menikmati hari tua dengan gembira. Benar gak?”

“Iya, Bang. Itulah maksudku.”

“Lalu, kapan rencananya kamu akan meresmikan kepemimpinan yang baru, dan siapa di antara kedua putrimu yang akan kamu pilih?”

“Aku akan bagi rata dengan mereka berdua, Bang. Aku yakin mereka anak-anak hebat. Mereka pasti mampu untuk memimpin perusahaan itu nanti.”

“Aku tidak mau di bebankan dengan perusahaan, Yah. Biar kak Silvia saja deh.”

“Baiklah. Karena Tiara menolak, maka perusahaan ayah akan dipimpin oleh Silvia.”

“Wah, selamat ya, kakakku sayang. Sekarang kamu adalah Presiden Direktur Agung Perkasa Group. Kakak harus balas kelakuan mantan suami kakak. Sekarang dia bawahan kakak. Jadi kakak harus berani sama dia. Ok?” bisik Tiara di telinga Silvia.

“Kamu apa-apaan sih, Dek.” Silvia mencubit lengan Tiara.

“Aduh, apaan sih Kakak ini, main cubit saja.”

“ Wah, kalian ini memang kakak adik yang hebat. Kasih sayang kalian luar biasa. Jarang lho, ada saudara yang bisa akur seperti kalian ini. Apalagi kalian ini satu ayah lain ibu,” Efendi sangat kagum dengan kedekatan Tiara dan Silvia.

“Iya, Bang. Aku juga bersyukur mendapatkan dua putri seperti mereka. Bagiku mereka berdua adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan untukku,” ucap Pak Herman.

Sedangkan Bu Iyes hanya tersenyum bahagia.

Baginya, tiada hal yang paling membahagiakan selain melihat keluarganya bisa berkumpul dengan lengkap menikmati suka dan duka bersama-sama. Dia bukan tipe wanita yang gila harta.

“Kami juga bersyukur punya ayah yang hebat seperti Ayah dan juga om yang baik seperti Om Efendi yang sudah menolong Ayah sampai di titik ini,” ujar Silvia. Kata-kata Silvia segera disahuti oleh Tiara.

“Maksud kakak calon mertua?”

Rona merah di wajah Silvia terlihat dengan jelas. Dia merasa malu di isengi adiknya seperti itu. Entah kenapa dia menjadi salah tingkah. Seolah itu pertama kali dia akan menjadi menantu seseorang.

Dia membayangkan akan seperti apa wajah calon suaminya nanti.

Tapi bagaimana dengan perasaan yang sudah terlanjur tumbuh terhadap Dokter Dana? Lalu apakah perasaan cintanya yang sudah dihancurkan oleh mantan suaminya benar-benar sudah hilang? Hingga secepat itu dia melupakannya?

Silvia merasa dirinya benar-benar buruk.

Hatinya tidak ingin menolak perjodohan itu. Bukan untuk utang budi karena orang itu adalah anak dari orang yang telah menyelamatkan ayahnya, bukan juga karena harta. Tapi entah kenapa, dia merasa nyaman dengan kasih sayang yang tulus dari Efendi. Dia yakin ayah yang baik pasti akan memiliki anak yang baik juga.

Sedangkan Efendi, Herman dan Bu Iyes tertawa mendengar ledekan yang keluar dari mulut Tiara. Bu Iyes sampai menutup mulutnya dengan telapak tangannya untuk menahan tawa.

Setelah makan malam selesai. Efendi Kusuma berpamitan dengan keluarga Hermansyah. Dia memastikan besok malam akan kembali kesini dengan putra satu-satunya. Dia ingin sekali mempertemukan putranya dengan Silvia.

Dia tidak pernah ingkar dengan kata-katanya. Dia pasti akan menepatinya. Baginya, janji adalah hutang yang harus segera dia bayar. Dia tidak akan mengucapkan janji jika dia merasa tidak sanggup untuk menepatinya.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 17 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 19

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image