Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 21

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 21

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 22 of 28 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Di sana Ayah bertemu dengan…”

Hermansyah tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena takut akan melukai perasaan anaknya. Dia ingin menjaga perasaan Silvia.

Mulai sekarang dia bertekad akan membahagiakan anaknya. Dia ingin membuat anaknya bahagia. Jika bisa dia akan membeli kebahagiaan untuk anaknya. Namun tidak semua bisa dia beli dengan uang, seperti halnya kebahagiaan.

Pandangannya begitu penuh dengan penyesalan dan rasa iba terhadap putrinya. Dia merasa selama ini telah menelantarkan anak dan istrinya.

Selama ini Silvia sudah banyak menanggung penderitaan. Sebenarnya dia sudah mencari tahu sejak lama tentang anak dan istrinya.

Dia sengaja belum menampakkan diri karena dia ingin tahu siapa saja orang yang baik dan yang jahat kepada anak dan istrinya.

Pazel mendapatkan pekerjaan juga karena dirinya sendiri yang menerimanya di perusahaannya. Dan itu demi putri tercintanya.

Jika bukan karena putrinya, dia tidak akan menerima Pazel yang tidak punya kemampuan bekerja dan hanya mempunyai ijazah SMA. Pazel hanya akan diterima menjadi tukang bersih-bersih jika saja Hermansyah tidak memintanya langsung untuk menjadi salah satu staf keuangan.

Tapi, Silvia tidak sedikit pun menunjukkan keterkejutannya, dia tidak bersedih sedikit pun. Semua kesedihannya telah dia buang sejauh mungkin. Kini yang tersisa hanyalah kebencian.

Kebencian yang ditanam oleh suaminya. Kebencian yang selama ini selalu dia coba untuk mengolahnya menjadi sebuah pengabdian. Dia tidak berhasil.

Semua yang terjadi sangat membuat hatinya menjadi beku. Dia tidak lagi menangisi luka batinnya. Dia berusaha mengobati dan membalut luka itu serapi mungkin.

Dari luka itu dia belajar untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi.

“Dengan selingkuhannya, maksud Ayah?” Silvia menyambung kata-kata ayahnya tanpa beban. Senyum bahagia dia perlihatkan di depan keluarganya. Baginya kebahagiaan keluarganya adalah yang utama. Dan keluarganya akan bahagia bila melihat dia bahagia.

Semua terdiam. Hanya Silvia yang masih memakan nasi goreng dengan sangat lahap. Dia sadar keluarganya pasti berpikir bahwa dia sedang menyembunyikan luka di hati yang paling dalam. Untuk itu dia harus meyakinkan keluarganya, agar keluarganya percaya bahwa dia benar-benar sudah melupakan segala permasalahan dalam hidupnya.

“Ayah tidak usah khawatir, Yah. Aku baik-baik saja. Aku sudah berdamai dengan keadaan. Bukankah semua yang kita punya di dunia ini adalah titipan dari Allah?”

Setelah bicara, dia agak terdiam sebentar. Lalu dengan cepat dia mencairkan suasana lagi. Dia harus bisa menghibur dirinya dan keluarganya yang masih tidak percaya kalau dia sudah berdamai dengan keadaan.

“Tapi aku pastikan mereka akan mendapatkan balasan dariku, seperti yang dikatakan adikku tersayang.”

Kata-kata itu berhasil membuat Tiara bersemangat lagi.

“Itu baru kakakku tersayang. Kalau begitu kan selera makanku jadi naik delapan puluh derajat.”

“Seperti demam saja selera makanmu, Dek.”

Mereka kembali tertawa gembira.

Hermansyah kembali bertanya kepada putrinya.

“Apa sekarang kamu sudah siap untuk bekerja di perusahaan kita, Nak?”

“Jangan sekarang, Yah. Aku harus pamit dulu dari tempat kerjaku. Pekerjaanku juga masih terbengkalai di sana. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu sebelum aku berhenti dari butik itu. Mungkin Minggu depan aku baru bisa bekerja di perusahaan Ayah.”

“Bagus, Nak. Ayah bangga mempunyai anak yang bertanggung jawab atas pekerjaannya. Itu adalah jiwa seorang pemimpin. Kalau begitu Ayah akan umumkan di kantor bahwa Minggu depan adalah acara pelantikan presiden direktur perusahaan yang baru.

”Ya, Ayah. Kalau begitu aku berangkat dulu. Aku mau ke butik dulu.”

Silvia bersalaman dengan Ayah, Ibu dan adiknya. Di depan pintu sudah menunggu sebuah mobil yang langsung dibukakan pintunya oleh sopir yang baru diterima bekerja oleh ayahnya.

Ayahnya tidak mau anaknya kenapa-kenapa lagi jika memakai kendaraan umum. Apalagi sekarang dia sedang mempersiapkan anaknya untuk menjadi seorang Direktur Utama di perusahaannya.

Silvia tercengang melihat pemandangan di depan matanya. Serasa mimpi yang jadi kenyataan. Jika memang ini mimpi, dia tidak ingin terbangun lagi. Karena ini adalah mimpi yang diinginkan semua orang. Tapi sayang sekali dia merasa belum pantas untuk mendapatkan semua itu.

Dia bukannya langsung masuk ke dalam mobil itu, tapi malah kembali ke ruang makan menemui ayahnya.

“Ayah. Itu di luar…”

Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Rasanya seperti mimpi saja, saat dia keluar di sambut oleh mobil baru dan sopir baru. Hanya telunjuknya yang masih menunjuk ke arah pintu.

Melihat itu, Hermansyah, istrinya dan si bungsu berlari ke arahnya untuk melihat apa yang sudah membuat dia jadi tegang seperti itu.

Sebetulnya dia sudah menduga penyebab yang membuat anaknya histeris, tapi tetap saja dia penasaran dan ingin melihat langsung hal apa yang membuat anaknya begitu. Siapa tahu saja dugaannya salah, apalagi dia juga punya beberapa saingan bisnis. Siapa tahu ada hal buruk yang dilakukan salah satu dari mereka.

Saat dia melihat arah telunjuk Silvia, dia baru merasa lega

“Oh, itu? Iya, itu mobil buat kamu. Sekaligus sopir baru untuk mengantarmu ke mana pun. Karena ayah pikir mungkin kamu belum bisa menyetir sendiri.”

“Terima kasih, Yah. Tapi lain kali saja, Yah. Sekarang aku berangkat pakai ojek saja, Yah. Aku sudah terlanjur pesan ojek. Sebentar lagi datang. Nah itu ojeknya datang.”

Di depan pagar terlihat tukang ojek yang sedang mencoba menghubunginya melalui ponselnya.

“Baiklah kalau begitu. Tapi hati-hati ya, Nak. Kaki kamu masih sakit tu. Jangan sampai jatuh lagi.”

“Iya, Ayah. Aku pergi dulu. Assalamu’alaikum, Ayah, Ibu, Tiara. Ayo, Bang. Berangkat,” ucap Silvia setelah duduk manis di belakang tukang ojek itu.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 20 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 22

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image