Beranda / Genre / Romansa / Cinta Kedua &Terakhir: Bab 26

Cinta Kedua &Terakhir: Bab 26

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 27 of 68 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Sesampainya di rumah, Silvia langsung menuju kamarnya di lantai atas. Dia berusaha memejamkan mata dengan berbaring di tempat tidur. Meski begitu, dia tidak bisa tidur, karena bayangan saat Pazel mencoba untuk menciumnya secara paksa masih terpampang di pelupuk matanya.

Dadanya sesak, bulir bening keluar dari matanya. Hatinya terasa panas, sepanas saat bulir matanya memaksa untuk keluar. Sedikit pun dia tidak menyangka kalau ternyata orang yang pernah sangat dia cintai adalah orang yang berperilaku buruk. Bahkan dia tidak merasa segan untuk melecehkan mantan istrinya sendiri.

Setelah menyeka air matanya dia duduk dan melihat tas kecil yang dia buang sembarang tempat tadi. Dia mengatur napasnya, karena dia mau menelepon seseorang. Dia tidak mau suaranya ketahuan habis menangis. Dia berjalan dan mengambil tas kecil yang tergeletak di atas meja riasnya

Ponsel dikeluarkan dari dalam tas. Matanya berkerut melihat ada tiga puluh panggilan tidak terjawab di ponselnya. Di sana tertulis nama Dr. Dana. Dia mencoba menghubungi nomor itu kembali.

Akhirnya ada jawaban dari seberang sana setelah mengulang panggilan sebanyak empat kali.

“Halo Silvia? Kamu baik-baik saja?” tanya suara dari seberang sana. Suara yang membuat hatinya menjadi tenang namun juga membuatnya gugup.

“I-iya, Dokter. Aku baik-baik saja. Maaf aku mengganggu Dokter tengah malam.”

“Gak apa-apa Silvia. Aku sudah menunggu kamu menghubungiku sampai ketiduran. Untung kamu gigih meneleponku, jika tidak aku akan sangat kecewa.”

“Iya, Dokter. Aku melihat panggilan tidak terjawab dari nomor Dokter sebanyak tiga puluh kali. Maaf tadi aku ada acara dengan rekan kerjaku, Dok. Jadi gak dengar ada suara panggilan dari ponsel. Memangnya ada apa ya, Dok?”

Sekarang giliran Dokter Dana yang gugup. Dia mencari alasan yang tepat untuk dia sampaikan kepada Silvia. Tentunya alasan yang bisa membuat dia percaya.

“Oo, itu. A-anu. Kaila. Ya. Kaila kangen sama kamu katanya. Dia sampai gak bisa tidur. Makanya aku hubungi kamu, siapa tahu kamu lagi gak sibuk, mau aku jemput untuk main ke sini.”

Terdengar hembusan napas lega setelah Dokter itu selesai mengucapkan kalimatnya yang sepotong-sepotong itu.

“Ha, ha, ha,… Boleh Dokter. Aku juga kangen sama Kaila.”

“Benarkah? Besok kamu ada acara, gak?”

“Kalau siang aku ada undangan, Dok. Ke pernikahan mantanku. Kalau Dokter tidak keberatan, aku juga mau mengajak Dokter.”

“Kalu begitu siangnya kita pergi ke pernikahan mantanmu. Pulang dari sana kita jumpa Kaila bagaimana?”

“Deal.” Silvia sampai melonjak kegirangan seperti anak kecil.

Hal yang sama juga dilakukan Dokter Dana karena kegirangan.

“Yes,” ucapnya dengan menjauhkan ponsel dari mulutnya. Kemudian dia lanjut memanggil Silvia.

“Sil.”

“Ya, Dokter.”

“Maaf, aku boleh tanya?”

“Boleh, Dok.”

“Apa karena itu suara kamu berubah? Kamu habis menangis?”

Silvia hanya diam, hatinya yang baru saja ceria sekarang teringat lagi dengan perlakuan sang mantan.

Matanya kembali panas dan mulai mengeluarkan cairan bening itu lagi. Tapi dia bisa segera menguasai emosinya dan kembali ceria. Dia pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Dokter Dana.

“Karena itu gimana, Dok?”

“Undangan dari mantanmu.”

“Nggak kok, Dokter. Biasa aja. Sampai ketemu besok ya, Dok. Sudah malam. Aku mau tidur dulu.”

Sebenarnya Dokter Dana masih ingin berlama-lama, tapi dia tidak ingin memaksakan kehendaknya.

Dia jadi menyesal telah menanyakan hal yang bodoh seperti tadi. Sesaat dia termenung karena menyesal telah menanyakan hal itu. Tapi kemudian dia kembali ceria karena mengingat akan bertemu dengan Silvia besok.

“Ok. Selamat malam, Silvia. Sampai ketemu besok.”

“Selamat malam juga, Dokter.”

Silvia meletakkan ponselnya di tempat tidurnya. Dia berbaring di tempat tidur berukuran jumbo itu.

“Satu masalah terselesaikan. Tapi aku kan mau dijodohkan dengan anak Om Efendi? Apa gak apa-apa kalau aku masih jalan sama orang lain? Ah, bodo amat. Lagian kan baru mau dijodohkan? Belum dijodohkan, semoga saja dia menolak menerima perjodohannya denganku,” batinnya.

Waktu terus berjalan. Silvia tertidur pulas tanpa beban pikiran. Satu masalahnya sudah menemukan jalan keluar.

Keesokan harinya, tiba saatnya untuk menghadiri undangan pernikahan mantannya. Dokter Dana tidak tahu alamat rumahnya. Mereka bertemu di butik Boby.

Boby memberikan gaun terbaik kepada Silvia.

“Hm, hm.”

Dokter Dana sedang memandang Silvia dengan takjub. Dia begitu terpesona melihat kecantikan Silvia. Gaun yang dia pakai sangat cocok dengan tubuhnya. Riasan wajahnya juga sangat cantik. Begitu mendengar Boby berdehem, dia menjadi kikuk, begitu juga dengan Silvia yang sedang mengagumi ketampanan Dokter Dana.

“Kalian ini bikin saya cemburu. Kalian pandang-pandangan di hadapan saya. Kalian anggap saya ini cuma lalat ya?” Boby pura-pura marah dan cemburu.

“Makanya, Bos. Cari pacar juga, biar gak cuma jadi lalat,” celetuk salah satu karyawannya

“Kalian mau dipotong gajinya?”

“Gak, Bos. Gak, Bos.”

“Kembali bekerja.”

“Siap, Bos.”

Mereka semua melanjutkan pekerjaannya dengan senang hati. Mereka memang sudah terbiasa dengan mulut bosnya yang seperti itu. Tapi mereka tahu bos mereka orang yang baik.

“Beb. Benar lu gak mau ikut?”

“Benar. Kalau gak ikut, ntar yang ada si brengsek itu gak jadi cemburu. Malah dia pasti akan bilang lu cewek murahan lagi, karena diapit dua cowok.”

“O iya benar, Beb. Kalau gitu kami jalan dulu, ya. Doakan kami sukses ya, Beb.”

Dokter Dana juga berpamitan dengan Boby. Dia mulai akrab dengan Boby karena Boby orang yang baik dan menyenangkan.

Kendaraan melaju melewati jalanan menuju ke lokasi pesta yang berada di kediaman Pazel. Rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggal Silvia selama dua tahun. Tapi tidak sedikit pun lagi ada rasa rindu terhadap rumah itu.

“Kamu tunggu saja, aku akan datang untuk menghadiri pestamu, Bang. Aku akan beri ucapan selamat kepadamu,” gumamnya dalam hati.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 25 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 27

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *