“Apakah kau yang bernama Karima?” Seorang gadis dengan tatap mata sinis bertanya kepada Karima yang sedang membaca buku di taman kampus. Tangannya berkacak pinggang.
Karim mendongak mencoba tersenyum padanya. Ia pun menjawab,”Iya. Aku Karima. Kau siapa?”
“Berdirilah! Ikut aku!” katanya, diikuti langkah Karima dari belakang. Mereka menuju satu tempat di belakang kampus itu. Karima tidak mempunyai rasa curiga ketika tiba-tiba gadis itu mendorongnya dengan keras. Ia pun terjatuh.
“Mengapa kau mendorongku? Apa salahku?” Karima mencoba bangkit, tapi seseorang mendorongnya lagi dengan keras. Karima menoleh,”Apa mau kalian?”
Gadis itu mendekati Karima, lalu berkata,”Kau tahu siapa Youssef?”
“Ya. Youssef sahabatku. Apa ada masalah?”
“Aku Sabrina, kekasih Youssef. Mulai sekarang, jangan pernah berani mendekati Youssef atau kau akan berurusan dengan kami. Kau paham?”
“Youssef kekasihmu?”
“Ya! Masih kurang jelas? Dia kekasihku, jangan pernah mendekatinya lagi. Atau… kau akan segera habis ditanganku.”
Sabrina kembali mendorong tubuh Karima ke dinding. Dan seorang temannya lagi, Valeria membantunya.
“Ini balasan untukmu, agar kau tidak gegabah mendekatinya.”
Karima menahan rasa sakit. Dia tidak pernah memiliki masalah dengan Sabrina atau pun Youssef. Mereka hanya berteman.
“Kau salah, Sabrina. Kami tidak ada hubungan apa-apa, sungguh.”
“Jangan berdusta!”
Plak!
Satu tamparan melayang di pipi Karima.”Kau pembohong! Aku tidak mempercayaimu!”
“Tidak! Aku tidak berbohong. Kami hanya bersahabat, tidak lebih, ” Karima berkata jujur dan juga membela diri. Hatinya sakit seiring dengan air matanya yang muai menggenang.
Sabrina hendak melayangkan kembali pukulannya ke arah Karima, tetapi suara seseorang menahannya.
“Sabrina, hentikan!”
“Youssef,” Sabrina menjadi salah tingkah. Dia berpura-pura menolong Karima.
“Jangan kau pikir aku tidak melihat semuanya. Tidak kusangka, kau memiliki hati yang buruk!”
Youssef mendekati Karima ingin menolongnya. Gadis itu secepatnya berdiri.
“Maafkan dia, Karima.
” Tidak apa-apa, Youssef. Akulah yang salah.”
Karima berlalu meninggalkan mereka di sana. Hatinya sakit, entah cobaan apalagi yang kini dihadapinya.
“Mengapa kau lakukan itu, Sabrina?”
“Karena aku mencintaimu, Youssef. Aku mencintaimu, sejak awal hingga kini.”
“Apakah begini caramu mencintaiku? Sebagai sahabat aku mencintai semua sahabatku. Termasuk dirimu.”
” Youssef… aku tidak ingin menjadi sekedar sahabat,aku ingin hanya kau milikku.”
“Aku sudah memilih orang lain, Sabrina.”
“Apakah dia gadis itu? Karima?” Sabrina menunjuk kw arah Karima yang berjalan jauh dari mereka.
“Ya! Aku mencintai Karima. Kau paham? Dan jangan berani ganggu dia lagi.”
Karima mendengar apa yang dikatakan Youssef, dia mempercepat langkahnya. Karima ingin segera pulang dan melepas kepenatannya. Dia tidk menyangka jika akan menghadapi masalah seperti ini. Mendung terlihat tebal rintik-rintik gerimis mulai turun membasahi bumi. Karima semakin mempercepat langkahnya agar tidak kehujanan. Tanpa memperhatikan sesuatu di hadapannya. Dia menabrak tubuh seseorang.
“Auh!”
“Maaf… saya… ” Karima menatap orang yang ditabrak nya. Matanya terbelalak.
“Kau… ” kata mereka bersamaan.
“Karima!”
“Leon! Maaf, aku buru-buru.”
Karima berlari menuju tempat tinggalnya. Sementara Leon membiarkan tubuhnya diguyur gerimis. Wajahnya menampakkan kebahagiaan. Dia hendak melangkah, tetapi ujung sepatunya menginjak sesuatu. Dipungut nya benda itu, dia pun tersenyum.
‘Akan kukembalikan besok jika kita bertemu.’
Hanya ibunya yang dimiliki Yazid sekarang. Dari wanita inilah, dia tumbuh menjadi pemuda tangguh yang tetap rendah hati. Pekerja keras yang memikul tanggung jawab berat sebagai suatu amanah dan juga sebagai imbalan atas penyesalan seseorang di masa lalu.
“Aku berangkat kerja dulu, Ibu.” Yazid mencium tangan wanita itu. Dia masih terbaring lemah di pembaringannya.
“Yazid… kemarilah, Nak, Ibu ingin bertanya sesuatu.”
Yazid mendekat ke arah ibunya.”Iya, Bu. Katakanlah, aku akan mendengarnya.”
Wanita itu sejenak menatap putranya yang kini tumbuh kian dewasa. Wajahnya tampan dan memiliki senyum yang menawan. Dia teringat almarhum suaminya.
“Apakah tuan Leon masih memberimu tanggung jawab itu?”
“Iya, Bu. Aku ingin melepasnya. Tapi dia tidak mengijinkan.”
“Ibu bisa memahamimu. Dan kuharap kau mampu dan tidak merasa terbebani.”
Yazid tersenyum, di genggamnya tangan ibunya dengan penuh kasih sayang. Diciumnya sekali lagi.
“Dari kedua tangan ibu inilah, Allah sudah menunjukkan kuasa-Nya, aku bersyukur sekali memiliki ibu.”
“Dia selalu bersama kita, Nak. Tetaplah ingat, apapun yang kita miliki, semuanya akan fana.”
“Aku akan selalu mengingat nasehat Ibu.” Yazid berdiri melangkah mengambil topinya yang tergeletak di atas meja.
Seorang wanita paruh baya masuk ke kamar Huwaida, ibu Yazid. Dia adalah Lorraine, wanita asli Marseille yang sudah ditinggalkan suaminya. Lorraine harus menghidupi tiga anaknya yang masih sekolah. Dia bekerja di tempat Yazid dan sudah dianggap keluarga sendiri.
“Selamat pagi, Bibi Lorraine.”
“Selamat pagi, Yazid. Kau terlihat sangat bahagia hati ini.”
“Iya,Bibi.Aku akan segera berangkat kerja. Tolong jaga ibuku.”
” Jangan khawatir anak muda. Dia akan baik-baik saja.”
Yazid tersenyum,” Sampai nanti, Bibi.”
“Sampai nanti, sayang.”
***
Karima menghindari Youssef, hal ini dikarenakan dia tidak ingin menyakiti ataupun merasa merebut pemuda itu dari Sabrina. Ayahnya pun berpesan agar dia bisa menjaga dirinya.
“Karima! Tunggu dulu!” Youssef mengejar Karima yang kian berjalan jauh. Karima tidak mengindahkan ucapan pemuda itu. Dia sadar diri.
Langkahnya terhenti tanpa menoleh.
“Mengapa kau kini selalu menghindariku, Karima. Apa salahku?”
Karima membalikan badannya,”Maaf Youssef, aku tidak ingin menyakiti hati Sabrina.”
“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Dia mengada-ada.”
“Tidak, Youssef. Aku tidak ingin Sabrina terluka karena aku.”
“Karima, kau salah!”
“Maaf, aku harus pergi.”
Tanpa banyak bicara, Karima meninggalkan Youssef yang masih berdiri termangu. Daniel datang mendekatinya.
“Ayo kita berbenah dan segera pulang. Tenangkan dulu hati dan pikiranmu, Sobat!”
Youssef mengangguk. Daniel menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
***
Di ruang kerjanya, Leon masih mengamati benda kecil yang dipungutnya setelah bertemu Karima kemarin. Di salah satu sisi benda itu terdapat ukiran dari suku Berber, perayaan Yannayer yang beberapa waktu lalu diikutinya.
‘Aku yakin kau dekat denganku dan akan selalu dekat.’
Gumamnya dalam hati.
Tok tok tok.
Pintu diketuk dari luar. Dia menyimpan benda itu lagi.
“Masuk!”
Seorang wanita berambut pirang masuk dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.
“Ini beberapa dokumen yang harus Anda tanda tangani, Tuan.” Wanita itu meletakkannya di atas meja.
“Terima kasih, Aurelie. Apakah Tuan Paul sudah datang?”
“Belum, Tuan.”
“Baiklah. Terima kasih, kau boleh pergi.”
Dibukanya dokumen itu satu persatu, lalu dibubuhkan tanda tangannya di sana.
‘Tuan, aku ingin bebas. Tolong lepaskan aku dari semua keadaan Aku ingin bersama cintaku.’ Hati kecilnya berbisik ingin memberontak dari keadaan.










