Home / Genre / Teenlit / 8. Carpe Diem

8. Carpe Diem

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
This entry is part 9 of 27 in the series Percayalah Padaku Cinta

Mereka sarapan di teras luar, yang benar-benar seperti ruangan yang kebetulan berada di luar ruangan. Ada atap yang membentang di teras dengan kipas langit-langit dan dua TV tergantung di langit-langit. Hanya dinding panjang yang membentang di sepanjang halaman belakang yang terbuka ke luar. Sisanya semacam dinding teralis dan perapian batu alam serta bar. Baru setelah sarapan hampir selesai, Kinan memutuskan untuk menginterogasi tamunya.

Cinta cukup pendiam sepanjang sarapan, tetapi Adam melihat dia makan banyak, mencicipi setiap hidangan yang disiapkan mamanya. Mereka makan telur, sosis, roti panggang, biskuit, buah, scone dan selai, sosis, kopi, dan jus jeruk.

Cinta memakannya. Adam baru saja akan mengomentarinya ketika Kinan meletakkan kopinya dengan suara dentingan yang keras, lalu tersenyum hangat pada Cinta.

“Jadi, Cinta. Noni bilang kamu dan mamamu baru saja pindah ke sini?”

Cinta mengangkat bahu.

“Aku rasa begitu. Aku tidak pernah tahu ke mana kami akan pindah selanjutnya.”

“Jadi kamu sering pindah?”

Cinta seperti hendak mengangguk, tetapi kemudian dia berhenti dan tersenyum paksa. “Kurang lebih seperti itu.”

Kinan  menyesap kopinya. “Kau akan naik kelas berapa tahun depan?”

“Kelas tiga, dengan asumsi transkrip nilaiku bagus.”

“Adam hampir setahun lebih muda darimu,” kata Kinan, entah mengapa dia  tampak lega. “Dia bisa mengajakmu berkeliling SMA Batu, mengenalkanmu pada beberapa orang teman.”

“Terima kasih,” kata Cinta, sambil meraih sepotong roti panggang lagi. “Aku sudah sering pindah dalam hidupku sehingga aku cukup pandai berteman.”

Matanya bertemu dengan mata Adam. “Kamu tidak perlu khawatir tentangku.”

“Mengapa kamu sering pindah?” tanya Irfan.

Adam merasa papanya akhirnya memutuskan untuk ikut mengobrol dan berhenti bicara dengan Bakri tentang hal-hal yang berhubungan dengan trek balap. “Apakah orang tuamu di militer?”

Cinta tertawa. Dia menggelengkan kepala sambil melapisi selai stroberi ke roti panggangnya. “Mamaku contoh nyata dari orang yang suka mengembara. Dia tidak suka terjebak di satu tempat terlalu lama. Aku ragu kita akan berada di sini setelah musim liburan.”

Perut Adam hamapir kram ketika memikirkan cewek aneh ini menghilang sebelum dia sempat mengenalnya. Papanya mengangguk lalu berkata, “Kamu tidak ingin tinggal dengan papamu?”

Cinta tertawa lagi lalu menatap lurus ke arah Irfan.

“Aku tidak kenal papaku.”

Mungkin hanya Adam, tetapi rasanya seperti ada yang canggung.

Tiba-tiba Adam ingin menyelamatkan Cinta dari pertanyaan orang tuanya jadi dia langsung mengatakan hal pertama yang terpikir olehnya. “Kamu kurus banget, deh. Padahal bisa makan banyak.”

Sial. Itu seharusnya pujian! Bukankah cewek suka dipanggil kurus? pikir Adam.  

Tapi sorot mata Cinta membuat Adam ingin memutar waktu dan tutup mulut.

Cinta menatap roti panggang itu lalu menatap Adam, dengan tatapan seperti malu. Atau mungkin marah.

“Abaikan anakku,” kata Kinan sambil memutar bola matanya. “Makanlah sepuasnya, Sayang.”

Namun, Cinta tidak berhenti menatap Adam. Akhirnya, dia mendorong kursinya ke belakang dan berdiri, memasukkan sisa makanannya ke dalam mulutnya.

“Kadang-kadang aku tidak melihat makanan sama sekali seharian. Jadi, maafkan aku karena makan ketika ada makanan di hadapanku.”

Adam merasa ada gumpalan terbentuk di tenggorokannya. Dia benar-benar ingin memutar waktu hingga hanya dia dan Cinta yang bertemu lagi untuk pertama kalinya.

Mata Cinta yang gelap menyembunyikan lebih banyak daripada yang dia tunjukkan dan meskipun itu tidak berguna, Adam tetap mencarinya, berharap untuk mengetahui lebih banyak tentang cewek ini.

Tiba-tiba dia perlu tahu segalanya tentang Cinta dan dia tidak tahu mengapa.

Papanya dan Om Bakri berbicara dengan bersemangat di ujung meja sehingga mereka tidak mendengar apa yang baru saja terjadi. Setidaknya menurut Adam mereka tidak mendengarnya. Tetapi mamanya dan Tante Noni mendengarnya dengan jelas, dan mereka berdua menatap Adam seolah-olah dia aku adalah orang paling tolol di dunia.

“Aku—” dia tergagap, ingin mengatakan pada Cinta bahwa dia minta maaf.

Tetapi Cinta menatap Noni seolah-olah Adam tidak lagi layak untuk menarik perhatiannya.

“Keberatan jika aku kembali ke rumahmu dan menonton TV sampai mamaku kembali?”

“Silakan saja, sayang,” kata Noni.

Kinan menyipitkan matanya pada anaknya. “Adam.”

Adam meringis. Dia mengenal suara mamanya yang kesal. “Kenapa kamu tidak membersihkan meja?”

Adam tidak dalam posisi untuk menolak, jadi dia mengangkat piring kotor dan membawanya masuk, mengisi mesin pencuci piring.

Mamanya dan Tante Noni berbicara dengan nada pelan, entah bagaimana menjadi lebih pelan ketika dia berjalan keluar untuk menyelesaikan membersihkan meja. Jelas siapa yang mereka bicarakan. Cewek yang sama yang telah mengendalikan pikirannya.

Ada sesuatu yang membisikkan kepadanya bahwa Cinta tidak seperti Vindy di dunia ini. Cinta unik.

Dia seperti gunung es, dingin dan cantik. Namun, sebagian besar dirinya tersembunyi.

Ketika teras bersih dan dapur bersih, Adam tahu apa yang harus dia lakukan. Dia perlu memperbaiki keadaan dengan Cinta dengan cara yang lebih dari sekadar meminta maaf setelah menyinggungnya karena miskin.

Cinta perlu tahu bahwa dia punya teman di Batu, Malang, Jawa Timur, Indonesia.

***

Cinta merasa bagaikan menjalani dua kehidupan. Terjebak dalam dua dunia yang sangat berbeda. Kehidupannya yang sebenarnya, yang sudah dia kenal sejak lahir, sedang dalam masa jeda, digantikan oleh kehidupan baru yang mewah ini. Dan meskipun kehidupan baru ini hanya sementara, dia berusaha untuk menarik napas menghirup dalam-dalam, melihat sekelilingnya setiap saat dan benar-benar memperhatikan lingkungan sekitarnya.

Carpe diem. Hidup di masa sekarang, bisa dibilang begitu.

Dan momen ini benar-benar sempurna.

Setelah sarapan dengan orang asing yang membuat Cinta merasa seperti pecundang, dia kembali ke kamar tamu yang aman ini. Tidak ada yang mengganggunya selama dua jam penuh.

Sekarang hampir tengah hari, dan dia berbaring tengkurap di tempat tidur dengan kaki terangkat ke atas dan remote control di tangan. Dia sedang menonton TV.

TV kabel.

Seperti remaja normal lainnya.

Sebuah iklan muncul dan dia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, menikmati ketenangan yang dapat ditemukan di kamar tidurnya sendiri.

Tentu saja dia tahu itu bukan kamar tidurnya sendiri. Tidak ada barangnya di situ kecuali koper dan tas ransel, dan dia tentu tidak bisa bersantai dan menonton TV di dalam koper.

Cintaa bahkan tidak pernah punya kasur sendiri. Dia dan mamanyaa menginap di hotel, losmen, atau rusunawa bulanan berperabotan lengkap yang biasanya sekitar empat lantai, lebih kumuh daripada losmen. Kasur ini juga bukan miliknya, tetapi dia bisa berpura-pura itu punyanya. Bahwa satu hari ini adalah punya dia sepenuhnya.

Cinta melirik jam alarm di meja samping tempat tidur di belakangnya dan mencoba menghitung waktu untuk mengetahui kapan Dini akan pulang.

Wawancaranya dilakukan di pagi hari dan mungkin akan berlangsung hingga tengah hari. Kemudian dia akan pulang sekitar pukul enam atau enam tiga puluh. Itu berarti dia punya beberapa jam lagi untuk dirinya sendiri.

Percayalah Padaku Cinta

. Cinta Bertemu Keluarga Satria . Dini Belum Kembali

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image