Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 40

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 40

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 41 of 59 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Jantung Pazel berpacu. Sekujur badannya terasa dingin. Dia diam seribu bahasa. Bahkan untuk menoleh ke samping pun dia tidak bernyali.

“Pak Pazel. Maaf pak. Apa saya membuat Bapak takut?”

Seketika Pazel pun menoleh. Ternyata yang mengikutinya adalah Mang Budi, petugas bersih-bersih di kantornya.

“Mang Budi? Syukurlah. Ternyata tadi Mamang yang di tangga darurat.”

“Iya, Pak. Apa saya menakuti Bapak? Maaf ya Pak.”

“Iya, gak apa-apa, Mang. Memangnya ada apa Mang?”

“Ini ponsel Bapak ketinggalan Pak.”

Pazel memeriksa kantong celana dan bajunya. Ternyata memang ponselnya tidak ada.

“O, iya. Mang. Aduh, terima kasih ya, Mang.” Pazel mengambil ponselnya dan dia juga menyerahkan uang lima puluh ribu sebagai ucapan terima kasihnya.

“Ini untuk Mamang.”

“Gak usah, Pak. Mamang gak mau nerima imbalan. Itu sudah tugas Mamang, lagian Mamang kan sudah digaji perusahaan, Pak.”

“Gak apa-apa, Mang. Terimalah, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih saya ke Mamang.”

“Baiklah, Pak. Kalau Bapak memaksa. Terima kasih ya, Pak. Saya permisi dulu.” Akhirnya Mang Budi menerima pemberian Pazel.

Pazel berlalu meninggalkan ruangan itu setelah beberapa saat Mang Budi pergi. Dia takut lama-lama berada di sana karena bayangan ketakutan tadi masih menghantuinya.

Sambil berjalan menuju mobilnya, dia menelepon ibunya agar mempersiapkan makanan untuk makan malam menyambut tamu penting.

“Baiklah, Nak.”

Rohana segera memanggil Rima untuk membeli bahan makanan untuk dimasak.

“Malas ah, Bu. Aku lagi gak enak badan. Ibu saja yang ke pasar. Lagian aku kan lagi hamil, Bu. Mana boleh mengangkat yang berat-berat.”

“Lalu siapa yang ke pasar? Bi Saripah kan baru di sini. Mana tahu dia pasar di sini?” ucap Rohana dengan suara kerasnya.

Rima pun tak kalah sewotnya menjawab perkataan mertuanya.

“Ya Ibu saja yang ke pasar berdua dengan Bi Saripah.”

“Kamu ini, ya. Kalau dibilang in selalu mengeyel. Gak kayak Silvia. Dia tidak pernah melawan Ibu, tau gak kamu.”

“Itu karena saya bukan Silvia, Bu. Saya Rima.” Rima pun berlalu meninggalkan ibu mertuanya yang masih menggerutu.

Rohana kehabisan kata-kata. Dia akhirnya berangkat ke pasar berdua dengan Bi Saripah.

Sepulang dari pasar, mereka segera menyiapkan makan malam untuk tamu istimewa Pazel. Dia tidak tahu kalau yang akan datang itu adalah Silvia dan Dokter Dana.

Waktu terus berjalan dan sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Silvia dan Dokter Dana datang dengan pengawal lengkap. Berbagai macam hadiah juga di persembahkan Silvia dan Dokter Dana melalui para pengawal mereka. Masing-masing dari mereka membawa satu buah bingkisan dan diletakkan di atas meja di ruang tamu.

Kemudian mereka bergerilya mengacak seisi rumah demi menjaga keamanan Bos mereka.

Seketika mata Rohana membulat saat para pengawalnya masuk dan memeriksa seluruh sudut ruangan serta mencicipi semua makanan untuk memastikan keamanan Bos mereka.

“Apa-apaan ini! Kenapa kalian mengacak-acak rumahku! Apa kalian pikir kami ini teroris!” Rohana marah dan berlari mengikuti mereka ke sana ke mari.

Silvia hanya tertawa dalam hati menyaksikan mantan mertuanya yang kelimpungan menghadapi para pengawalnya.

Setelah dipastikan aman, mereka mempersilakan Silvia dan Dokter Dana untuk melanjutkan acara makan malam mereka.

Pazel mempersilakan Silvia dan Rima untuk duduk di ruang makan.

“Mari, Bos. Mari, Bu,” ucapnya kepada Dokter Dana dan Silvia.

Rima menyendokkan nasi ke piring Pazel.

“Sudah, cukup.” Pazel menyetopkan telapak tangannya ke arah sendok yang akan di isi nasi lagi olehnya.

“Kok sedikit sekali sayang?” Rima bicara selembut mungkin dengan suaminya, meskipun hatinya sangat marah karena Pazel tidak memberitahu kalau yang datang itu adalah Silvia.

Silvia hanya terlihat datar. Dia tidak peduli dengan sandiwara yang mereka lakukan.

Dokter Dana menyadari hal yang sedang terjadi di meja makan. Dia justru memanjakan Silvia. Dia menyendokkan nasi ke piring Silvia, dan beberapa lauk.

Dia bahkan menyuapi Silvia dengan lembut. Hal yang tidak pernah dia dapatkan dari mantan suaminya.

“Terima kasih, Sayangku.” Silvia tersenyum manja kepada Dokter Dana. Senyum manja yang tidak dibuat-buat.

Pazel merasa iri melihat Dokter Dana mengambil sebutir nasi dari bibir Silvia.

Dia ingin berada di sana untuk mengambil sebutir nasi yang ada di bibir indah Silvia, tetapi ada penghalang yang menghalangi niatnya. Lalu muncul ide gila dalam hatinya.

“Aku harus melenyapkan Bos Perdana Kusuma. Tapi bagaimana caranya? Dia selalu di kelilingi oleh para pengawalnya. Kalau aku tertangkap maka nyawaku pun akan jadi taruhannya. Tidak…. Tidak…. Aku tidak boleh melakukan hal bodoh seperti itu,” gumamnya dalam hati.

Setelah tadi Bu Rohana bersitegang dengan para pengawal Silvia, sekarang Bu Rohana bermulut manis dengannya.

“Makan yang banyak, Sayang. Jangan sungkan ya, Nak? Ini kan rumahmu juga.” Senyum manis diperlihatkannya.

“Ternyata mulut beracun Ibu juga bisa mengeluarkan madu yang manis,” gumam Silvia dalam hatinya.

“Terima kasih Ibu.” Silvia berbasa-basi karena tempat ini bukanlah tempat yang pernah membuatnya merasa nyaman. Dan orang yang bermulut manis itu bukanlah orang yang tidak pernah menyakiti hatinya.

“Sekarang Ibu bisa tersenyum ramah kepadaku, Bu. Tapi sebentar lagi senyum ibu akan berubah menjadi air mata. Aku akan memberikan pelajaran kepada kalian semua tanpa kalian sadari,” dia bergumam dalam hatinya.

“Yang pasti secara bertahap, karena kalian pantas mendapatkannya. Aku bahkan sudah melupakan dendam dan sakit hatiku. Tapi saat kamu berniat buruk ingin melecehkanku, Bang. Saat itulah semua dendam dan sakit hatiku meronta untuk menuntut balas kepadamu.” Pandangan matanya begitu dingin.

Pazel menyadari perubahan yang sangat jauh pada sikap Silvia. Dia bahkan tidak dapat menyelami apa yang ada di pikiran Silvia. Dia tidak mampu menatap pandangan dingin yang menusuk jantungnya itu. Namun dia juga tidak bisa menghilangkan keinginannya untuk kembali memiliki Silvia.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 39 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 41

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image