Bagi para hiker atau tektoker, tentu sudah sangat akrab dengan Gunung Sumbing, salah satu gunung api di Jawa Tengah yang memiliki puncak ketinggian 3.371 mdpl. Gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet.
Secara administratif Gunung Sumbing terletak di tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang; Kabupaten Temanggung; dan Kabupaten Wonosobo. Letak Gunung Sumbing berhadapan dengan Gunung Sindoro, sehingga sering disebut gunung kembar seperti halnya Merbabu dan Merapi.
Namun, meski memiliki tinggi dan kondisi alam yang hampir sama, bagi para pendaki, Gunung Sumbing memiliki trek yang lebih berat daripada Gunung Sindoro Hal tersebut dikarenakan gradien kemiringan yang terjal dan rute yang lebih panjang.
Salah satu jalur pendakian Gunung Sumbing yang paling disukai adalah melalui pos Butuh Kaliangkrik, yang juga dikenal sebagai Nepal Van Java. Sebuah perkampungan yang berada di lereng Gunung Sumbing. Tepatnya di Dusun Butuh Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Magelang.
Sebelum terkenal dengan julukan itu, Dusun Butuh sebenarnya sudah cukup dikenal di kalangan para pendaki gunung, sebagai perkampungan yang menjadi titik awal pendakian menuju puncak Gunung Sumbing.
Namun, di balik ketenarannya kini, Dusun Butuh punya sejarah yang menarik. Lalu seperti apa kisah awal mula terbentuknya perkampungan itu? Dan bagaimana awal mula kampung itu hingga dijuluki Nepal Van Java?
Asal-usul terbentuknya Dusun Butuh diceritakan masyarakat secara turun-temurun. Saat itu permukiman warga masih berada di kaki gunung yang lebih rendah dari Dusun Butuh saat ini. Dusun Butuh masih berupa hutan belantara. Saat itu warga kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, hingga berjalan naik untuk mencari sumber air. Akhirnya mereka menemukan mata air di lereng gunung dan mendirikan perkampungan di sana. Tempat tersebut kemudian dinamakan “Butuh” merujuk pada kondisi mereka yang saat itu butuh air.
Seiring berjalannya waktu, Dusun Butuh menjadi kampung yang ramai. Aktivitas perekonomian pun makin berkembang karena selalu didatangi para pendaki gunung dari berbagai daerah.
Hingga lambat laun Dusun Butuh dikenal sebagai desa wisata. Keberhasilan Dusun Butuh menjadi desa wisata tak lepas dari kekompakan warganya.
Lilik, kepala dusun pada masa itu, memiliki rencana untuk mengembangkan Dusun Butuh menjadi desa wisata. Secara rutin Lilik mengajak warga untuk kerja bakti membersihkan lingkungan dari sampah. Selain itu setiap kali perayaan 17 Agustus, bersama dengan warga desa menggelar lomba mengecat tembok rumah di lingkungan masing-masing. Bahkan beliau memberi modal pada tiap lingkungan berupa empat kaleng cat.
Dengan adanya lomba itu, lingkungan rumah di Dusun Butuh semakin berwarna. Hingga pada tahun 2018, Lilik meminta sekelompok mahasiswa yang melakukan KKN di dusun Butuh untuk membuat program kerja berupa menggambar mural grafiti, juga pengadaan bak sampah. Total ada sembilan bak sampah baru yang disediakan untuk warga. Harapannya dengan adanya bak sampah tersebut warga tidak lagi membuang sampah ke sungai.
Lilik juga mengirim photo-photo kegiatan warga ke beberapa teman wartawan yang pernah meliput soal pendakian di sini. Tujuan adalah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kebersihan dan keramahan, karena itu jadi kunci pokok sapta wisata. Siapa sangka dalam tulisannya wartawan tersebut menyematkan nama Nepal Van Java. Menurutnya deretan rumah warga dengan cat aneka warna, dan berada di lereng gunung, menyerupai perkampungan di daerah Nepal India. Hingga kini Nepal Van Java menjadi daerah wisata yang ramai dikunjungi masyarakat Magelang dan sekitarnya.
Sebelum menjadi jalur pendakian menuju puncak Gunung Sumbing, dan terkenal seperti sekarang, jalur Dusun Butuh lebih dulu digunakan sebagai jalur pendakian. Ada kisah Spiritual yang jarang diketahui orang. Di puncak Gunung Sumbing terdapat petilasan Ki Ageng Makukuhan. Jika ingin berziarah, kebanyakan orang akan melewati jalur via Dusun Butuh untuk menuju petilasan tersebut.
Siapakah Ki Ageng Makukuhan? Mengapa makamnya berada di puncak Gunung Sumbing? Memiliki nama asli Ma Kuw Kwan, beliau adalah keturunan Cina, dan merupakan murid dari Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Ki Ageng Makukuhan merupakan salah satu dari sembilan santri Sunan Kudus yang memiliki IP lemu tinggi.
Selain Ilmu agama, Ki Ageng Makukuhan juga belajar cara bercocok tanam, ilmu kanuragan, termasuk ilmu untuk terbang pada Sunan Kalijaga. Setelah dirasa cukup ilmu yang diberikan, Sunan Kalijaga kemudian beri tugas untuk menyebarkan agama Islam di daerah Kedu, dan Temanggung.
Ki Ageng Makukuhan, mulai menyebarkan agama Islam di daerah Kedu dengan media pertanian. Beliau tidak segan melakukan salat di tengah sawah. Ternyata saat panen, hasil panen Ki Ageng Makukuhan lebih berkualitas dan bagus. Tentu saja hal ini membuat masyarakat penasaran dan meniru apa yang dilakukan Ki Ageng Makukuhan, yakni salat. Dari peristiwa tersebut, banyak masyarakat setempat yang awalnya hanya menganut paham kepercayaan, akhirnya memeluk agama Islam.
Kemudian, Sunan Kudus dengan ilmu yang dimiliknya menjatuhkan rigen, yaitu anyaman bambu yang tidak terlalu rapat dan berbentuk persegi panjang di lereng Gunung Sumbing.
Lokasi jatuhnya rigen ini ternyata menjadi tempat yang sangat cocok untuk menanam tembakau. Ki Ageng Makukuhan pun mulai mengenalkan tanaman tembakau kepada masyarakat sekitar. Lagi-lagi panenan tembakau Ki Ageng Makukuhan yang kemudian dikenal dengan nama tembaau srintil, memiliki kualitas dan rasa yang sangat istimewa bagi para penikmatnya. Tembakau tersebut dikenal dengan tembakau srintil.
Caranya yang santun dan memberikan manfaat langsung, membuat banyak warga yang bersimpati dan mengikuti ajaran beliau. Dalam waktu singkat nama Ki Ageng Makukuhan makin disegani sebagai pemimpin agama yang juga mengajarkan pertanian sehingga mendapatkan banyak pengikut.
Beliau mendapat julukan Ki Ageng Kedu, atau juga sering disebut dengan nama aslinya, Ki Ageng Ma Kuw Kwan, tapi lidah orang Jawa lebih mudah menyebutnya dengan Ki Ageng Makukuhan. Beliau meninggal dan dimakamkan di puncak Gunung Sumbing.
Selain terdapat desa wisata Nepal Van Java, dan sejarah spiritualnya, Gunung Sumbing dikenal karena keindahan alamnya yang menawan dengan kanekaragaman ekosistem. Di lereng gunung ini, para pendaki dapat menemukan berbagai jenis hutan, mulai dari Hutan Dipterokarp Bukit, Dipterokarp Atas, Montane, hingga Hutan Ericaceous.
Selain itu karena berada di ketinggian 1.371 mdpl Gunung Sumbing memiliki jalur pendakian yang menantang. Pemandangan Alam yang Indah, menawarkan menawarkan pemandangan alam yang memukau, termasuk kawah-kawah aktif, sabana luas, dan hutan yang beragam. Dari puncak Gunung Sumbing bisa menikmati pemandangan di atas lautan awan dengan sensasi yang tidak mudah dilupakan
Jika sudah sampai di dusun Butuh, lereng Gunung Sumbing, berphoto dengan latar belakang Nepal Van Java, akan lebih berkesan jika melanjutkan perjalanan sampai ke puncaknya.
Dari beberapa legenda tentang Gunung Sumbing, ada cerita bahwa, di lereng Gunung Sumbing terdapat sumber air panas yang memiliki kandungan garam cukup tinggi. Legenda ini yang akhirnya menjadi asal mula Gunung Sumbing berasal dari kata “sam” yang berarti air dan “bing” yang berarti asin. Sehingga nama Sumbing bermakna “air asin”.











