Beranda / Non Fiksi / Tutorial / Menulis Novel: Tips Menulis Kilas Balik

Menulis Novel: Tips Menulis Kilas Balik

Menulis Novel 20260829
1

Sebagai penulis, kita menghabiskan banyak waktu untuk membangun latar belakang dan sejarah para tokoh. Jadi, wajar kalau kita ingin memasukkan sebagian dari semua itu ke dalam cerita.

Kilas balik (flashback) bisa menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan informasi sekaligus memperdalam alur dan karakter tokoh. Tapi, jika digunakan dengan buruk, kilas balik justru bisa membuat cerita berhenti total.

Pada dasarnya, kilas balik adalah ketika kita menghentikan alur cerita untuk membawa pembaca kembali ke suatu peristiwa di masa lalu.

Seperti banyak hal lain dalam menulis, tidak ada yang salah dengan kilas balik selama penggunaannya tepat dan memang dibutuhkan oleh cerita.

Kalau masa lalu tokoh utama memiliki kaitan langsung dengan konflik atau peristiwa yang sedang berlangsung, mungkin itulah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan menunjukkan apa yang pernah terjadi.

Sebaliknya, kalau kilas balik hanya disisipkan untuk menjelaskan sesuatu kepada pembaca, ada baiknya kita mempertimbangkannya kembali.

Setiap kali kita menulis kalimat seperti, “Dia teringat ketika…” atau bentuk serupa, sebenarnya kita sudah melakukan kilas balik. Kebanyakan orang membayangkan kilas balik sebagai adegan panjang, padahal kilas balik bisa sangat singkat—lebih terasa seperti kilasan ingatan daripada sebuah adegan utuh.

Mahiwal teringat hari ketika pertama kali bertemu Ghea. Gadis itu begitu manis, berdiri di dekat mesin fotokopi dengan toner berceceran di sekelilingnya dan ekspresi lucu seolah berkata, “Ups.”

Namun, kilas balik juga bisa berupa satu bab penuh yang ditulis secara dramatis, sama seperti bagian lain dalam novel.

Mahiwal masih mengingat hari itu dengan penuh kehangatan.

Mereka semua berada di ruang konferensi, menunggu Rayhan datang untuk memulai rapat. Tiba-tiba seorang perempuan menjerit kecil. Semua orang di kantor berhenti bekerja dan menoleh.

Mahiwal ikut memutar badan. Rasa ingin tahunya terusik.

Gadis baru itu—Ghea—berdiri di dekat mesin fotokopi, dikelilingi samudra serbuk toner hitam. Bubuk itu menutupi sepatunya, rok bermotif bunga yang dikenakannya, bahkan meninggalkan beberapa bintik di hidungnya.

Atau jangan-jangan itu tahi lalat?

Dari tempat dia berdiri, Maahiwal tidak bisa memastikannya.

Panjang atau pendek, kunci sebuah kilas balik yang baik sebenarnya sederhana: berikan informasi yang memang ingin diketahui pembaca.

Sebelum pembaca peduli pada seorang tokoh dan merasa penasaran dengan masa lalunya, menghabiskan banyak waktu untuk menunjukkan—atau lebih buruk lagi, menjelaskan—masa lalu tersebut justru berisiko membuat mereka bosan. Akibatnya, mereka mungkin mulai membaca sekilas atau bahkan melewati bagian itu untuk segera kembali ke cerita utama.

Tips Menulis Kilas balik yang Baik

1. Ceritakan sesuatu yang memang ingin diketahui pembaca

Jika sejak awal kita sudah menggoda pembaca dengan sebuah rahasia dan membuat mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, kilas balik yang lebih panjang kemungkinan besar akan mampu mempertahankan perhatian mereka.

Dalam Kamp 13, tokoh utamaku, 3556P, memiliki sejumlah kenangan tentang kehidupannya semasa neneknya masih hidup dan tentang apa yang terjadi padanya selama itu.

Aku menyelipkan sedikit demi sedikit petunjuk mengenai masa lalunya—kadang hanya satu kalimat pendek, kadang berupa penyebutan sepintas tentang sesuatu yang ternyata sangat membekas dalam dirinya. Tapi, aku tidak pernah menggunakan kilas balik secara berlebihan.

Lama-kelamaan, rasa penasaran pembaca mulai tumbuh. Mereka benar-benar ingin mengetahui kisah masa lalu 3556P.

Aku baru menunggu sampai buku ketiga, Darkfall, untuk akhirnya membuka semuanya melalui sebuah adegan kilas balik yang jauh lebih panjang.

2. Pastikan kilas balik memiliki relevansi

Informasi yang diungkapkan melalui kilas balik seharusnya memberikan dampak terhadap cerita. Kilas balik harus membantu mengembangkan alur, mendorong cerita ke depan, atau setidaknya memiliki kaitan penting dengan perkembangan karakter tokoh.

Kilas balik juga bisa menjadi cara yang sangat efektif untuk memicu sebuah kesadaran atau penemuan.

Misalnya, 3556P mengalami banyak kilas balik kecil. Ada kenangan dari masa kecil yang dulu tidak memiliki arti apa-apa baginya. Namun, ketika berbagai potongan masa lalunya mulai tersusun, kenangan-kenangan itu tiba-tiba menjadi penting bagi konflik yang sedang dihadapinya.

Jika kilas balik tidak memenuhi dua hal tersebut—tidak relevan dengan adegan yang sedang berlangsung dan pembaca tidak benar-benar peduli dengan informasi yang diberikan—kemungkinan besar bagian itu bisa dipotong.

Informasinya masih bisa disampaikan dengan cara lain.

3. Lebih pendek biasanya lebih baik—meskipun tidak selalu

Ketika cerita berpindah ke kilas balik, alur utama otomatis berhenti. Di sinilah risikonya: perhatian pembaca bisa ikut terputus.

Semakin lama pembaca berada jauh dari narasi utama, semakin besar kemungkinan mereka mulai membaca cepat-cepat hanya untuk kembali ke “bagian yang seru” dari cerita utama.

Namun, tentu saja, aturan ini tidak selalu berlaku.

Ada novel-novel yang berhasil menggunakan kilas balik panjang dengan sangat baik, terutama ketika inti novel tersebut memang berkaitan dengan pengungkapan sebuah misteri besar dari masa lalu.

Tetapi teknik ini cukup sulit dilakukan. Karena itu, aku sangat menyarankan untuk tetap berpegang pada prinsip ketiga ini: buat kilas balik sesingkat mungkin dan pastikan setiap bagiannya sama menariknya dengan narasi utama.

Kilas balik tidak boleh sekadar menjadi penjelasan panjang tentang “begini semua itu terjadi.”

Jika hanya berfungsi sebagai penjelasan, pembaca akan mudah kehilangan minat.

Kilas balik harus tetap terasa seperti cerita.

Bahkan ketika kita membawa pembaca kembali ke masa lalu, kita tetap harus memberi mereka alasan untuk terus membaca.

4. Jangan gunakan kilas balik sekadar untuk menjelaskan

Tahan keinginan untuk menjelaskan bagaimana tokohmu bisa sampai pada titik itu, bagaimana sebuah peristiwa mempengaruhinya, atau bagaimana peristiwa tersebut membentuk dirinya.

Kilas balik yang baik adalah sebuah pengungkapan, bukan penjelasan.

Perbedaannya memang tipis, tetapi dampaknya terhadap cara pembaca menerima informasi cukup besar.

Kalau pembaca merasa seolah-olah mereka sedang menemukan jawabannya sendiri, mereka akan terdorong untuk terus membaca. Sebaliknya, kalau mereka merasa sedang diberi tahu secara langsung apa yang penting dalam cerita, kemungkinan besar mereka akan mulai membaca cepat-cepat, hanya untuk mendapatkan detail alur yang mereka anggap penting.

Untuk kilas balik yang lebih panjang, perlakukanlah seperti adegan biasa. Dramatisasikan peristiwanya dan buatlah sama menarik serta pentingnya dengan adegan lain dalam cerita.

Begitu kamu mulai merasa bahwa narasimu berubah menjadi penjelasan panjang, berhentilah sejenak. Tanyakan pada diri sendiri: bagaimana kalau informasi ini ditunjukkan, bukan dijelaskan?

Tapi kadang-kadang kita memang perlu memberikan sedikit penjelasan, dan itu tidak masalah.

Patokan sederhanaku adalah: tetap gunakan suara dan sudut pandang tokoh, lalu buat penjelasannya terasa alami dengan situasi yang sedang berlangsung.

Pastikan ada alasan mengapa tokoh tersebut tiba-tiba teringat pada kenangan itu.

Akan lebih baik lagi jika penjelasan tersebut melakukan sesuatu selain sekadar “menjelaskan” sebuah informasi. Misalnya, kenangan itu sekaligus menunjukkan sifat atau karakter tokoh, menggambarkan suasana tempat, atau sedikit meningkatkan ketegangan.

Dengan begitu, pembaca bisa menyerap informasi tersebut tanpa merasa sedang diberi penjelasan panjang, lalu melanjutkan cerita tanpa kehilangan ritmenya.

5. Berikan kilas balik panjang dorongan yang sama seperti adegan biasa

Jika sebuah kilas balik memiliki tujuan, konflik, dan taruhan sendiri, pembaca akan lebih mudah terseret ke dalamnya. Mereka akan penasaran dan ingin tahu ke mana adegan tersebut akan membawa mereka.

Semakin lama kamu meminta pembaca meninggalkan alur utama, semakin besar pula tanggung jawabmu untuk membuat perjalanan singkat ke masa lalu itu tetap menarik.

Kilas balik bisa menjadi alat yang sangat efektif jika digunakan dengan tepat. Bahkan, teknik ini dapat membantumu mengurangi kebutuhan akan backstory yang panjang.

Beberapa baris tentang sebuah kenangan sering kali mampu mendramatisasikan fakta dari masa lalu jauh lebih baik daripada paragraf-paragraf eksposisi. Pada saat yang sama, kilas balik juga bisa memperkuat karakterisasi.

Apa yang diingat seorang tokoh dan bagaimana perasaannya terhadap kenangan itu bukan sekadar cara untuk menjelaskan informasi.

Kenangan tersebut juga bercerita tentang siapa dirinya.

Jadi, bagaimana pendapatmu tentang kilas balik?

Suka? Benci?

Dalam tulisanmu sendiri, apakah kamu sering menggunakannya atau justru berusaha menghindarinya?

Penulis

Tag:

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *