Sekuntum mawar putih mekar perlahan dibalik di pagi nan syahdu
Cantik molek menyembul di balik pagar duri yang membelenggu
Aku menatap dari kejauhan dalam tatapan bisu
Hendak kupetik tanganku ragu
Pada tiap kelopaknya yang mengembang aku titipkan rindu; aku hantarkan rasa yang deru merayu, aku selipkan pesan kasih yang lama bersarang dalam kalbu
Tatkala malam tiba,
dan bulan mengembang di telaga, selalu kusebut namanya sebagai pelabuhan tempat perahuku menemukan dermaga
Namun kadang lidahku kelu sebelum bicara, karena hati ini terlalu gentar dalam mengungkap rasa
Biarlah mataku saja yang menjadi saksi, bahwa ada seorang insan yang memandangmu dari kejauhan dengan cinta yang tiada meminta balasan.
Biarlah angin membawa rahasia ini ke bukit yang berkabut, ke laut yang tiada bertepi
Dan semoga terus ke langit sebagai doa yang tak pernah putus
Cukuplah Sang Maha Tahu mengetahui, bahwa dalam tiap sujud panjangku, ada namamu yang kuselipkan diantara butir-butir tasbih dan degup jantungku
Aku tak mengetuk pintumu, hanya duduk di serambi waktu
Tiada pula menyuratkan namamu pada lembar-lembar kertas kasih
Meski hasrat menagih pertemuan
Andaikan saja engkau memang tercatat pada lembar takdir yang masih terlipat, niscaya suatu hari Tuhan akan membukakan pintu-Nya bagi dua hati yang belum bersua ini untuk dipertautkan.
Namun bila hari itu tak pernah tiba, biarlah kasih ini menjadi gema doa yang selalu dipanjatkan di sepanjang waktu
Dan jika akhirnya aku hanya menjadi lelaki yang hanya kau temui dalam bayang,
Biarlah; karena rindu tak mungkin untuk memaksa jalan,
Cukuplah kasih suciku menjadi bunga yang mekar tanpa pernah kupetik






